alexametrics
29 C
Malang
Saturday, 15 May 2021

Pemkot Malang Ngotot Revitalisasi Pasar Besar, Begini Skenarionya

MALANG KOTA – Penolakan pedagang tidak membuat Pemerintah Kota (Pemkot) Malang menunda revitalisasi Pasar Besar Malang (PBM). Meski para pedagang sudah meminta back up dewan, namun eksekutif akan tetap melanjutkan rencana pembangunan pasar.

Sebab, dana sudah disiapkan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2021. Apalagi rencana revitalisasi tersebut sudah dikoordinasikan dengan PT Matahari Department Store selaku investor. ”Tahun 2021 ini sudah dianggarkan DED (detail engineering design)-nya,” ujar Penjabat (Pj) Sekretaris Kota (Sekkota) Malang Hadi Santoso kemarin (5/3).

Baca juga : DED Pasar Besar Malang Diplot Rp 5 Miliar

Data yang dihimpun Jawa Pos Radar Malang, Pasar Besar dibangun atas kerja sama PT Matahari Department Store dengan Pemkot Malang. Sejak beroperasi pada 1990 lalu, pengelolaan Pasar Besar menjadi kewenangan PT Matahari Department Store hingga 2034 mendatang.

Selama 31 tahun beroperasi, Pasar Besar sudah empat kali mengalami kebakaran, yakni pada tahun 2002, 2003, 2014, dan 2016. Akibat kebakaran besar pada tahun 2016 itulah konstruksi bangunan Pasar Besar rusak sehingga pemkot berencana merevitalisasi.

Siapa yang menanggung biaya revitalisasi? Pemkot dan pihak PT Matahari awalny sempat berbeda pendapat. Pemkot ingin biaya revitalisasi ditanggung oleh PT Matahari, namun pihak PT Matahari keberatan. Akhirnya, pemkot memutuskan menanggung biaya revitalisasi tersebut. Tahun 2021 ini sudah dialokasikan Rp 5,8 miliar untuk penyusunan DED. Sedangkan dana konstruksinya dialokasikan sekitar Rp 125 miliar pada APDB 2022 mendatang.

Setelah anggaran fixed ditanggung pemkot, muncul penolakan dari pedagang. Alasan pedagang menolak yakni karena saat ini masih pandemi. Mereka tidak keberatan jika revitalisasi dilakukan setelah pandemi Covid-19 berakhir.

Mengenai sikap pedagang ini, Sony–panggilan akrab Hadi Santoso– mengatakan, pihaknya akan melibatkan semua pihak, termasuk pedagang. ”Agar semua pedagang tertampung, itu prinsip Pak Wali Kota,” katanya.

Pejabat eselon II B Pemkot Malang itu melanjutkan, revitalisasi Pasar Besar ini menjadi concern Pemkot Malang. ”Secara teknis memang banyak pertimbangan kalau hanya dibangun sebagian. Ya harus ada penanganan secara menyeluruh,” imbuh pria yang juga kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPRPKP) Kota Malang itu.

Terkait keluhan pedagang Pasar Besar yang dua hari lalu (4/3) menemui DPRD Kota Malang dan menyoalkan minimnya sosialisasi dari pemkot, pihaknya mengaku akan segera mengagendakan duduk bersama dengan pedagang. ”Ya kalau bisa maksimum minggu depan,” tegasnya.

Pertemuan itu nantinya akan membicarakan terkait relokasi pedagang saat pembangunan dimulai. ”Kan harus ada relokasi, tapi penempatannya juga sangat memperhatikan pertimbangan-pertimbangan tersebut. Tidak terlalu jauh kok dari sana. Termasuk, yang pedagang khusus, seperti pedagang emas, nanti pasti pengamanannya khusus,” urainya.

Tidak hanya dengan pedagang, pemkot juga akan mengagendakan pertemuan dengan pihak PT Matahari. ”Mudah-mudahan minggu depan kami sudah bisa bertemu dengan pihak Matahari, kejelasannya bagaimana, karena targetnya Pak Wali ini kan untuk kepentingan masyarakat, jadi jangan lama-lama,” lanjut Soni.

Di pihak lain, perwakilan pedagang Pasar Besar, M. Sultan Akbar, bersikukuh menolak revitalisasi pasar besar. Alasannya masih sama dengan yang disampaikan ketika bertemu dewan dua hari lalu, yakni masih pandemi Covid-19. Selain itu, pedagang juga keberatan jika harus direlokasi. ”Covid-19 ini selesaikan dulu, lalu pedagang dikasih waktu sebentar supaya ekonomi ini naik lagi. Setelah itu monggo dirunding, simpelnya itu saja, jadi jangan ngomongin pembongkaran dulu,” tegasnya.

Ditanya soal rencana Pemkot Malang yang mengajak perwakilan pedagang duduk bersama, Sultan mengaku siap. Namun, dia menegaskan bahwa dalam pertemuan dengan Pemkot Malang itu nanti akan tetap menolak adanya pembongkaran secara keseluruhan. (arl/c1/dan)

MALANG KOTA – Penolakan pedagang tidak membuat Pemerintah Kota (Pemkot) Malang menunda revitalisasi Pasar Besar Malang (PBM). Meski para pedagang sudah meminta back up dewan, namun eksekutif akan tetap melanjutkan rencana pembangunan pasar.

Sebab, dana sudah disiapkan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2021. Apalagi rencana revitalisasi tersebut sudah dikoordinasikan dengan PT Matahari Department Store selaku investor. ”Tahun 2021 ini sudah dianggarkan DED (detail engineering design)-nya,” ujar Penjabat (Pj) Sekretaris Kota (Sekkota) Malang Hadi Santoso kemarin (5/3).

Baca juga : DED Pasar Besar Malang Diplot Rp 5 Miliar

Data yang dihimpun Jawa Pos Radar Malang, Pasar Besar dibangun atas kerja sama PT Matahari Department Store dengan Pemkot Malang. Sejak beroperasi pada 1990 lalu, pengelolaan Pasar Besar menjadi kewenangan PT Matahari Department Store hingga 2034 mendatang.

Selama 31 tahun beroperasi, Pasar Besar sudah empat kali mengalami kebakaran, yakni pada tahun 2002, 2003, 2014, dan 2016. Akibat kebakaran besar pada tahun 2016 itulah konstruksi bangunan Pasar Besar rusak sehingga pemkot berencana merevitalisasi.

Siapa yang menanggung biaya revitalisasi? Pemkot dan pihak PT Matahari awalny sempat berbeda pendapat. Pemkot ingin biaya revitalisasi ditanggung oleh PT Matahari, namun pihak PT Matahari keberatan. Akhirnya, pemkot memutuskan menanggung biaya revitalisasi tersebut. Tahun 2021 ini sudah dialokasikan Rp 5,8 miliar untuk penyusunan DED. Sedangkan dana konstruksinya dialokasikan sekitar Rp 125 miliar pada APDB 2022 mendatang.

Setelah anggaran fixed ditanggung pemkot, muncul penolakan dari pedagang. Alasan pedagang menolak yakni karena saat ini masih pandemi. Mereka tidak keberatan jika revitalisasi dilakukan setelah pandemi Covid-19 berakhir.

Mengenai sikap pedagang ini, Sony–panggilan akrab Hadi Santoso– mengatakan, pihaknya akan melibatkan semua pihak, termasuk pedagang. ”Agar semua pedagang tertampung, itu prinsip Pak Wali Kota,” katanya.

Pejabat eselon II B Pemkot Malang itu melanjutkan, revitalisasi Pasar Besar ini menjadi concern Pemkot Malang. ”Secara teknis memang banyak pertimbangan kalau hanya dibangun sebagian. Ya harus ada penanganan secara menyeluruh,” imbuh pria yang juga kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPRPKP) Kota Malang itu.

Terkait keluhan pedagang Pasar Besar yang dua hari lalu (4/3) menemui DPRD Kota Malang dan menyoalkan minimnya sosialisasi dari pemkot, pihaknya mengaku akan segera mengagendakan duduk bersama dengan pedagang. ”Ya kalau bisa maksimum minggu depan,” tegasnya.

Pertemuan itu nantinya akan membicarakan terkait relokasi pedagang saat pembangunan dimulai. ”Kan harus ada relokasi, tapi penempatannya juga sangat memperhatikan pertimbangan-pertimbangan tersebut. Tidak terlalu jauh kok dari sana. Termasuk, yang pedagang khusus, seperti pedagang emas, nanti pasti pengamanannya khusus,” urainya.

Tidak hanya dengan pedagang, pemkot juga akan mengagendakan pertemuan dengan pihak PT Matahari. ”Mudah-mudahan minggu depan kami sudah bisa bertemu dengan pihak Matahari, kejelasannya bagaimana, karena targetnya Pak Wali ini kan untuk kepentingan masyarakat, jadi jangan lama-lama,” lanjut Soni.

Di pihak lain, perwakilan pedagang Pasar Besar, M. Sultan Akbar, bersikukuh menolak revitalisasi pasar besar. Alasannya masih sama dengan yang disampaikan ketika bertemu dewan dua hari lalu, yakni masih pandemi Covid-19. Selain itu, pedagang juga keberatan jika harus direlokasi. ”Covid-19 ini selesaikan dulu, lalu pedagang dikasih waktu sebentar supaya ekonomi ini naik lagi. Setelah itu monggo dirunding, simpelnya itu saja, jadi jangan ngomongin pembongkaran dulu,” tegasnya.

Ditanya soal rencana Pemkot Malang yang mengajak perwakilan pedagang duduk bersama, Sultan mengaku siap. Namun, dia menegaskan bahwa dalam pertemuan dengan Pemkot Malang itu nanti akan tetap menolak adanya pembongkaran secara keseluruhan. (arl/c1/dan)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru