alexametrics
20.8 C
Malang
Sunday, 22 May 2022

Spot Swafoto di Kajoetangan Heritage Makin Kinclong. Ayo Buruan Kunjungi !

AWAL Januari lalu sebenarnya menjadi titik balik wisata Kajoetangan Heritage untuk menggaet wisatawan di masa pandemi Covid-19. Jalur pedestrian dari Pertigaan Kantor PLN hingga depan Optik Surya ramai dengan wisatawan yang berswafoto hingga duduk santai menikmati indahnya kawasan tersebut.

Tak peduli pagi, siang atau malam, wisatawan silih berganti datang dan pergi. Pertunjukan musik akhir pekan juga laris diserbu wisatawan untuk menonton atau sekadar bernyanyi sejenak. Kantong parkir di tepi jalan juga penuh dengan kendaraan bermotor wisatawan. Geliat itu sebenarnya menjadi sebuah asa bagi pengurus Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampung Kajoetangan Heritage mengenalkan objek wisata baru tersebut.

Namun harapan itu harus pupus karena hanya dalam sebulan setelah diluncurkan, wisata itu ditutup kembali. Selama sebulan terakhir, Ketua Pokdarwis Kampung Kajoetangan Heritage Mila Kurniawati kembali sibuk merancang strategi agar kawasan tersebut bisa hidup lagi. Khususnya memanfaatkan objek wisata di dalam gang. ”Kami harus punya strategi khusus. Saat dibuka lagi oleh Pemkot Malang nanti, kami menyiapkan setidaknya objek swafoto di sini yang ada muralnya,” katanya.

Saat kasus Covid-19 meninggi Februari lalu, nasib Kajoetangan Heritage memang seolah kembali ke pertengahan 2021, saat Covid-19 sedang mengganas. Sepi dan hanya beberapa orang saja yang sekadar lewat untuk menengok seperti apa kawasan itu saat ditutup. Mila menjelaskan, saat wisata Kampung Kajoetangan Heritage ditutup, justru ada saja kunjungan studi banding dari pengurus wisata luar Kota Malang. Misalnya, rombongan pengurus salah satu kampung wisata di Pasuruan.

Namun ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi sebelum berkunjung ke kawasan bersejarah itu. Yakni dengan mengirim surat pengajuan studi banding. ”Kami tak mau ada penularan (Covid-19). Jika status PPKM mikro di kami merah, ya mau nggak mau harus stop terima tamu,” jelas Mila.

Kunjungan wisatawan jelas drop parah pada bulan lalu. Jika di sepanjang kawasan itu bisa menampung ribuan orang, maka saat penutupan hanya menampung belasan orang saja. Belum lagi jika berkunjung ke dalam kampung. Mila menyebut tak ada wisatawan masuk sama sekali ke dalam kampungnya. Padahal di sana sudah disiapkan spot swafoto.

Dia sempat menolak adanya kantong parkir di dalam gang beberapa waktu lalu. Menurutnya, hal itu kurang pas jika hanya sebagai kantong parkir saja. Rencananya, dia ingin merancang wisatawan yang parkir bisa mengunjungi spot foto di dalam kampung terlebih dahulu ketika jalur pedestrian masih berjubel wisatawan. ”Kami juga menata ada pedagang di sini supaya wisatawan tak bosan. Semoga bulan ini atau bulan depan bisa dibuka lagi,” harap wanita berjilbab itu. (adn/fat)

AWAL Januari lalu sebenarnya menjadi titik balik wisata Kajoetangan Heritage untuk menggaet wisatawan di masa pandemi Covid-19. Jalur pedestrian dari Pertigaan Kantor PLN hingga depan Optik Surya ramai dengan wisatawan yang berswafoto hingga duduk santai menikmati indahnya kawasan tersebut.

Tak peduli pagi, siang atau malam, wisatawan silih berganti datang dan pergi. Pertunjukan musik akhir pekan juga laris diserbu wisatawan untuk menonton atau sekadar bernyanyi sejenak. Kantong parkir di tepi jalan juga penuh dengan kendaraan bermotor wisatawan. Geliat itu sebenarnya menjadi sebuah asa bagi pengurus Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampung Kajoetangan Heritage mengenalkan objek wisata baru tersebut.

Namun harapan itu harus pupus karena hanya dalam sebulan setelah diluncurkan, wisata itu ditutup kembali. Selama sebulan terakhir, Ketua Pokdarwis Kampung Kajoetangan Heritage Mila Kurniawati kembali sibuk merancang strategi agar kawasan tersebut bisa hidup lagi. Khususnya memanfaatkan objek wisata di dalam gang. ”Kami harus punya strategi khusus. Saat dibuka lagi oleh Pemkot Malang nanti, kami menyiapkan setidaknya objek swafoto di sini yang ada muralnya,” katanya.

Saat kasus Covid-19 meninggi Februari lalu, nasib Kajoetangan Heritage memang seolah kembali ke pertengahan 2021, saat Covid-19 sedang mengganas. Sepi dan hanya beberapa orang saja yang sekadar lewat untuk menengok seperti apa kawasan itu saat ditutup. Mila menjelaskan, saat wisata Kampung Kajoetangan Heritage ditutup, justru ada saja kunjungan studi banding dari pengurus wisata luar Kota Malang. Misalnya, rombongan pengurus salah satu kampung wisata di Pasuruan.

Namun ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi sebelum berkunjung ke kawasan bersejarah itu. Yakni dengan mengirim surat pengajuan studi banding. ”Kami tak mau ada penularan (Covid-19). Jika status PPKM mikro di kami merah, ya mau nggak mau harus stop terima tamu,” jelas Mila.

Kunjungan wisatawan jelas drop parah pada bulan lalu. Jika di sepanjang kawasan itu bisa menampung ribuan orang, maka saat penutupan hanya menampung belasan orang saja. Belum lagi jika berkunjung ke dalam kampung. Mila menyebut tak ada wisatawan masuk sama sekali ke dalam kampungnya. Padahal di sana sudah disiapkan spot swafoto.

Dia sempat menolak adanya kantong parkir di dalam gang beberapa waktu lalu. Menurutnya, hal itu kurang pas jika hanya sebagai kantong parkir saja. Rencananya, dia ingin merancang wisatawan yang parkir bisa mengunjungi spot foto di dalam kampung terlebih dahulu ketika jalur pedestrian masih berjubel wisatawan. ”Kami juga menata ada pedagang di sini supaya wisatawan tak bosan. Semoga bulan ini atau bulan depan bisa dibuka lagi,” harap wanita berjilbab itu. (adn/fat)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/