alexametrics
21.9 C
Malang
Saturday, 21 May 2022

Cek Pengelolaan Limbah Domestik di Kota Malang? Cukup Klik Si-Paldi

MALANG KOTA – Air limbah domestik (ALD) di Kota Malang masih menjadi ancaman bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat. Karena itu, edukasi sekaligus peningkatan jumlah bangunan yang memiliki sistem pengelolaan limbah yang memenuhi standar perlu digenjot lagi.

Untuk mengurai permasalahan tersebut, Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPRKP) Kota Malang menciptakan sistem khusus. Namanya Sistem Informasi Manajemen Pengelolaan Air Limbah Domestik atau disingkat Si-Paldi yang telah dikembangkan sejak 2019 lalu.

”Tujuan aplikasi Si-Paldi ini demi menyediakan data kondisi eksisting ALD di Kota Malang. Khususnya digitalisasi data lokasi pelanggan Layanan Lumpur Tinja Terjadwal (LLTT),” terang Kepala DPUPRPKP Kota Malang Diah Ayu Kusuma Dewi.

Sederhananya, dalam aplikasi tersebut memuat data sensus bangunan sanitasi yang dilengkapi data kependudukan, data bangunan, dan data akses air minum. “Melalui Si-Paldi diperoleh gambaran sistem pengolahan ALD di Kota Malang dan dapat disajikan info grafis terkait jumlah data yang sudah registrasi, jenis dan fungsi bangunan,” katanya.

Data Si-Paldi selanjutnya dapat dipergunakan untuk program LLTT serta pemenuhan data pengolahan ALD yang dapat diakses melalui PC maupun smart phone.

Sampai saat ini, telah terinput 45.742 bangunan yang memiliki sistem pengolahan ALD. Rinciannya di Kecamatan Blimbing sebanyak 8.052 bangunan, Kecamatan Klojen sebanyak 8.214 bangunan, dan Kecamatan Sukun sebanyak 9.083 bangunan. Lalu disusul Kecamatan Kedungkandang sebanyak 12.313 bangunan dan Kecamatan Lowokwaru sebanyak 8.080 bangunan.

Dari data tersebut, dapat diketahui sejumlah 57,7 persen telah menggunakan pengelolaan limbah sesuai SNI. Lalu sebanyak 25,3 persen masyarakat telah menggunakan pengelolaan limbah konvensional sesuai SNI dan 17 persen masih tidak kedap.

“Adapun masyarakat yang bersedia menjadi pelanggan sebanyak 23.315 atau 56 persen. Ini menunjukkan kesadaran masyarakat terkait pengolahan lumpur tinja cukup tinggi,” imbuhnya.

Diah berharap, adanya peningkatan penggunaan Si-Paldi bisa menjadi ajang sosialisasi sekaligus promosi sektor sanitasi dan kesehatan lingkungan. ”Sebagai informasi, Si-Paldi juga telah lolos seleksi kegiatan Inovasi Teknologi (Inotek Award) Jawa Timur Tahun 2021,” jelasnya. (and/nay/rmc)

MALANG KOTA – Air limbah domestik (ALD) di Kota Malang masih menjadi ancaman bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat. Karena itu, edukasi sekaligus peningkatan jumlah bangunan yang memiliki sistem pengelolaan limbah yang memenuhi standar perlu digenjot lagi.

Untuk mengurai permasalahan tersebut, Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPRKP) Kota Malang menciptakan sistem khusus. Namanya Sistem Informasi Manajemen Pengelolaan Air Limbah Domestik atau disingkat Si-Paldi yang telah dikembangkan sejak 2019 lalu.

”Tujuan aplikasi Si-Paldi ini demi menyediakan data kondisi eksisting ALD di Kota Malang. Khususnya digitalisasi data lokasi pelanggan Layanan Lumpur Tinja Terjadwal (LLTT),” terang Kepala DPUPRPKP Kota Malang Diah Ayu Kusuma Dewi.

Sederhananya, dalam aplikasi tersebut memuat data sensus bangunan sanitasi yang dilengkapi data kependudukan, data bangunan, dan data akses air minum. “Melalui Si-Paldi diperoleh gambaran sistem pengolahan ALD di Kota Malang dan dapat disajikan info grafis terkait jumlah data yang sudah registrasi, jenis dan fungsi bangunan,” katanya.

Data Si-Paldi selanjutnya dapat dipergunakan untuk program LLTT serta pemenuhan data pengolahan ALD yang dapat diakses melalui PC maupun smart phone.

Sampai saat ini, telah terinput 45.742 bangunan yang memiliki sistem pengolahan ALD. Rinciannya di Kecamatan Blimbing sebanyak 8.052 bangunan, Kecamatan Klojen sebanyak 8.214 bangunan, dan Kecamatan Sukun sebanyak 9.083 bangunan. Lalu disusul Kecamatan Kedungkandang sebanyak 12.313 bangunan dan Kecamatan Lowokwaru sebanyak 8.080 bangunan.

Dari data tersebut, dapat diketahui sejumlah 57,7 persen telah menggunakan pengelolaan limbah sesuai SNI. Lalu sebanyak 25,3 persen masyarakat telah menggunakan pengelolaan limbah konvensional sesuai SNI dan 17 persen masih tidak kedap.

“Adapun masyarakat yang bersedia menjadi pelanggan sebanyak 23.315 atau 56 persen. Ini menunjukkan kesadaran masyarakat terkait pengolahan lumpur tinja cukup tinggi,” imbuhnya.

Diah berharap, adanya peningkatan penggunaan Si-Paldi bisa menjadi ajang sosialisasi sekaligus promosi sektor sanitasi dan kesehatan lingkungan. ”Sebagai informasi, Si-Paldi juga telah lolos seleksi kegiatan Inovasi Teknologi (Inotek Award) Jawa Timur Tahun 2021,” jelasnya. (and/nay/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/