alexametrics
22.4 C
Malang
Tuesday, 5 July 2022

Selama Pandemi, 9 WNA Dideportasi

MALANG KOTA – Kantor Imigrasi Kelas I TPI Malang mendeportasi (pemulangan paksa ke negara asal). Selama pandemi Covid-19 ini, sebanyak sembilan WNA yang sudah dideportasi. Mayoritas dari Malaysia, yakni tiga orang. Sedangkan dua WNA masing-masing dari Peru dan Venezuela. Sementara dari Australia dan Taiwan, masing-masing satu orang yang dideportasi.

Kepala Seksi (Kasi) Teknologi dan Informasi Keimigrasian Kantor Imigrasi Kelas 1 TPI Malang Joko Widodo memaparkan, sebenarnya ada 22 WNA di Malang yang bermasalah, sehingga sembilan di antaranya dideportasi. Status mereka pun beragam. Ada yang mahasiswa dan ada juga yang pekerja.

”Ada sembilan WNA yang dideportasi, sementara 13 WNA lainnya terkena sanksi beban biaya karena overstay,” ujar Joko saat ditemui di ruang kerjanya, Jalan Panji Suroso, Kecamatan Blimbing, kemarin (6/11).

Dia memaparkan, penyebab WNA dideportasi pun beragam. Di antaranya, tidak sesuai izin tinggalnya, ada yang lupa memperpanjang, dan ada juga yang overstay terlalu lama (lebih dari 60 hari) namun tidak membayar denda. ”Karena beban biaya overstay dalam sehari mencapai Rp 1 juta dan itu masuk kas negara,” kata Joko.

Selain faktor administrasi, Joko menyebut ada faktor lain. Misalnya terjerat kasus hukum sehingga dipulangkan ke negara asal. ”Setelah berurusan dengan hukum, maka WNA tersebut biasanya dipulangkan ke negara asalnya (deportasi),” terang pria asal Jombang itu.

Berdasarkan pantauannya, setiap tahunnya selalu ada kasus WNA yang dideportasi. ”Paling ya jumlahnya belasan atau puluhan kasus setiap tahunnya,” tambahnya.

Berdasarkan data Kantor Imigrasi Kelas I TPI Malang, saat ini ada 1.927 WNA yang tinggal di Malang Raya. Rinciannya, sebanyak 932 orang membawa izin tinggal kunjungan (ITK), 946 izin tinggal terbatas (itas), dan 49 orang izin tinggal tetap (itap). Jumlah ini bisa bertambah jika ada WNA yang ilegal.

Lantas, bagaimana pengawasannya? Joko mengatakan, pihaknya mempunyai tim pengawasan orang asing (Pora). Tim tersebut beranggotakan dari pemerintah daerah (pemda) setempat dan aparat penegak keamanan, seperti kepolisian dan kejaksaan. Mereka bertugas mengawasi WNA di Malang Raya.

Selain memaksimalkan peran tim Pora, Joko berharap ada peran aktif dari masyarakat. Karena itu, dia kerap menyosialisasikan peraturan WNA tinggal di Malang kepada seluruh masyarakat. ”Semoga masyarakat berperan dalam mengawasi keberadaan orang asing,” katanya.

Pewarta: Ulfa

MALANG KOTA – Kantor Imigrasi Kelas I TPI Malang mendeportasi (pemulangan paksa ke negara asal). Selama pandemi Covid-19 ini, sebanyak sembilan WNA yang sudah dideportasi. Mayoritas dari Malaysia, yakni tiga orang. Sedangkan dua WNA masing-masing dari Peru dan Venezuela. Sementara dari Australia dan Taiwan, masing-masing satu orang yang dideportasi.

Kepala Seksi (Kasi) Teknologi dan Informasi Keimigrasian Kantor Imigrasi Kelas 1 TPI Malang Joko Widodo memaparkan, sebenarnya ada 22 WNA di Malang yang bermasalah, sehingga sembilan di antaranya dideportasi. Status mereka pun beragam. Ada yang mahasiswa dan ada juga yang pekerja.

”Ada sembilan WNA yang dideportasi, sementara 13 WNA lainnya terkena sanksi beban biaya karena overstay,” ujar Joko saat ditemui di ruang kerjanya, Jalan Panji Suroso, Kecamatan Blimbing, kemarin (6/11).

Dia memaparkan, penyebab WNA dideportasi pun beragam. Di antaranya, tidak sesuai izin tinggalnya, ada yang lupa memperpanjang, dan ada juga yang overstay terlalu lama (lebih dari 60 hari) namun tidak membayar denda. ”Karena beban biaya overstay dalam sehari mencapai Rp 1 juta dan itu masuk kas negara,” kata Joko.

Selain faktor administrasi, Joko menyebut ada faktor lain. Misalnya terjerat kasus hukum sehingga dipulangkan ke negara asal. ”Setelah berurusan dengan hukum, maka WNA tersebut biasanya dipulangkan ke negara asalnya (deportasi),” terang pria asal Jombang itu.

Berdasarkan pantauannya, setiap tahunnya selalu ada kasus WNA yang dideportasi. ”Paling ya jumlahnya belasan atau puluhan kasus setiap tahunnya,” tambahnya.

Berdasarkan data Kantor Imigrasi Kelas I TPI Malang, saat ini ada 1.927 WNA yang tinggal di Malang Raya. Rinciannya, sebanyak 932 orang membawa izin tinggal kunjungan (ITK), 946 izin tinggal terbatas (itas), dan 49 orang izin tinggal tetap (itap). Jumlah ini bisa bertambah jika ada WNA yang ilegal.

Lantas, bagaimana pengawasannya? Joko mengatakan, pihaknya mempunyai tim pengawasan orang asing (Pora). Tim tersebut beranggotakan dari pemerintah daerah (pemda) setempat dan aparat penegak keamanan, seperti kepolisian dan kejaksaan. Mereka bertugas mengawasi WNA di Malang Raya.

Selain memaksimalkan peran tim Pora, Joko berharap ada peran aktif dari masyarakat. Karena itu, dia kerap menyosialisasikan peraturan WNA tinggal di Malang kepada seluruh masyarakat. ”Semoga masyarakat berperan dalam mengawasi keberadaan orang asing,” katanya.

Pewarta: Ulfa

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/