alexametrics
26.9 C
Malang
Wednesday, 25 May 2022

2.000 Jamaah Menjemput Lailatul Qadar di Masjid Jami Malang

MALANG KOTA – Sebanyak 2.000 orang jamaah Masjid Jamik Kota Malang menjemput Lailatul Qadar pada hari ke-25 Ramadan Kamis malam (6/5). Mereka iktikaf dan salat malam yang dilakukan rutin setiap memasuki hari ke-21 hingga akhir Ramadan. Khususnya pada hari ganjil. Sebab, diyakini pada malam ganjil itulah Lailatul Qadar akan turun. Mereka juga menyimak pengajian yang diasuh KH Marzuki Mustamar pukul 23.00 WIB.

Wakil Ketua Takmir Masjid Jamik Mahmudi Muhith mengatakan, dalam setiap tahunnya memang pada 10 hari terakhir Ramadan masjid selalu penuh dengan jamaah. Bedanya, dari tahun lalu dilakukan dengan mematuhi protokol kesehatan (prokes). Misalnya, di dalam masjid tetap menjaga jarak dan bawa sajadah sendiri.

”Biasanya memang paling ramainya itu di malam ganjil, apalagi nanti di malam ke-29 pasti lebih ramai lagi,” terangnya.

Terlebih, dia menyampaikan, pada malam ke-25 juga dimulai dengan pengajian KH Marzuki Mustamar yang mengusung tema muhasabah jelang akhir Ramadan.

Adapun rangkaian iktikaf biasanya hanya berlangsung sekitar 2-3 jam. Yakni mulai dari pukul 23.00-02.00. Para jamaah diwajibkan mematuhi protokol kesehatan secara ketat. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, jumlah jamaah iktikaf relatif menurun.

”Karena kalau dulu bisa tembus sampai 5000 jamaah. Mereka sampai ke luar masjid dan ke lantai 3,” terangnya.

Dia juga memprediksi, pada malam ke-29 mendatang jamaah akan lebih banyak dari malam ke-25 itu. Namun, karena pihaknya membatasi, kemungkinan hanya 2500 jamaah.

”Itu nanti bisa sampai ke alun-alun karena kan harus jaga jarak,” imbuhnya.

Dia mengimbau, karena masih pandemi, warga Kota Malang untuk tetap iktikaf di masjid di sekitar rumah. ”Jadi tidak perlu berbondong-bondong ke Masjid Jamik kalau di dekat rumah ada, hal itu agar bisa tetap mematuhi prokes,” pungkasnya.

Sementara itu, salah satu jamaah, Dian Ayu Antika Hapsari, mengatakan, dirinya sudah sejak 2008 memang rutin iktikaf di Masjid Jamik Kota Malang. Namun, biasanya dirinya hadir pada malam ganjil di 10 hari terakhir Ramadan.

”Contohnya seperti di malam ke-25 ini,” kata perempuan asal Kecamatan Sukun, Kota Malang, itu.

Menurut dia, iktikaf di Masjid Jamik mempunyai sensasi yang berbeda. Karenanya, dia selalu memlih Masjid Jamik. ”Karena vibes-nya itu beda kalau di Masjid Jamik,” akunya.

Bahkan, dia mengatakan, sebelum ada pandemi, dia dan keluarganya harus berangkat lebih awal agar mendapatkan tempat di dalam masjid. Sebab, jika berangkat di atas pukul 22.00, mereka bisa iktikaf di luar masjid. (ulf/c1/abm/rmc)

MALANG KOTA – Sebanyak 2.000 orang jamaah Masjid Jamik Kota Malang menjemput Lailatul Qadar pada hari ke-25 Ramadan Kamis malam (6/5). Mereka iktikaf dan salat malam yang dilakukan rutin setiap memasuki hari ke-21 hingga akhir Ramadan. Khususnya pada hari ganjil. Sebab, diyakini pada malam ganjil itulah Lailatul Qadar akan turun. Mereka juga menyimak pengajian yang diasuh KH Marzuki Mustamar pukul 23.00 WIB.

Wakil Ketua Takmir Masjid Jamik Mahmudi Muhith mengatakan, dalam setiap tahunnya memang pada 10 hari terakhir Ramadan masjid selalu penuh dengan jamaah. Bedanya, dari tahun lalu dilakukan dengan mematuhi protokol kesehatan (prokes). Misalnya, di dalam masjid tetap menjaga jarak dan bawa sajadah sendiri.

”Biasanya memang paling ramainya itu di malam ganjil, apalagi nanti di malam ke-29 pasti lebih ramai lagi,” terangnya.

Terlebih, dia menyampaikan, pada malam ke-25 juga dimulai dengan pengajian KH Marzuki Mustamar yang mengusung tema muhasabah jelang akhir Ramadan.

Adapun rangkaian iktikaf biasanya hanya berlangsung sekitar 2-3 jam. Yakni mulai dari pukul 23.00-02.00. Para jamaah diwajibkan mematuhi protokol kesehatan secara ketat. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, jumlah jamaah iktikaf relatif menurun.

”Karena kalau dulu bisa tembus sampai 5000 jamaah. Mereka sampai ke luar masjid dan ke lantai 3,” terangnya.

Dia juga memprediksi, pada malam ke-29 mendatang jamaah akan lebih banyak dari malam ke-25 itu. Namun, karena pihaknya membatasi, kemungkinan hanya 2500 jamaah.

”Itu nanti bisa sampai ke alun-alun karena kan harus jaga jarak,” imbuhnya.

Dia mengimbau, karena masih pandemi, warga Kota Malang untuk tetap iktikaf di masjid di sekitar rumah. ”Jadi tidak perlu berbondong-bondong ke Masjid Jamik kalau di dekat rumah ada, hal itu agar bisa tetap mematuhi prokes,” pungkasnya.

Sementara itu, salah satu jamaah, Dian Ayu Antika Hapsari, mengatakan, dirinya sudah sejak 2008 memang rutin iktikaf di Masjid Jamik Kota Malang. Namun, biasanya dirinya hadir pada malam ganjil di 10 hari terakhir Ramadan.

”Contohnya seperti di malam ke-25 ini,” kata perempuan asal Kecamatan Sukun, Kota Malang, itu.

Menurut dia, iktikaf di Masjid Jamik mempunyai sensasi yang berbeda. Karenanya, dia selalu memlih Masjid Jamik. ”Karena vibes-nya itu beda kalau di Masjid Jamik,” akunya.

Bahkan, dia mengatakan, sebelum ada pandemi, dia dan keluarganya harus berangkat lebih awal agar mendapatkan tempat di dalam masjid. Sebab, jika berangkat di atas pukul 22.00, mereka bisa iktikaf di luar masjid. (ulf/c1/abm/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/