alexametrics
22.7 C
Malang
Thursday, 19 May 2022

Panic Buying Bikin Obat Terapi Covid-19 di Malang Langka

RADAR MALANG – Kelangkaan obat-obatan yang dipercaya bisa membantu penyembuhan pasien Covid-19, yakni suplemen, Actemra, dan Remdesivir disinyalir karena warga melakukan aksi panic buying di tengah melonjaknya kasus Covid-19 dalam beberapa waktu terakhir.

Ketua Satgas NU Peduli Covid-19 Malang Raya dr Syifa Mustika melihat bila kondisi itu memang cukup beralasan. Sebab, saat ini kasus baru Covid-19 juga terus naik. Di sisi lain, dia memprediksi bila ketersediaan stoknya di tingkat pusat juga terbatas.

”Di sisi lain, saat ini kebutuhannya juga meningkat,” kata dokter spesialis penyakit dalam itu.

Dari pengamatan dia, kelangkaan obat untuk terapi Covid-19 terjadi karena warga terindikasi melakukan aksi borong. Kondisi itu tentu berdampak pada ketersediaannya di rumah sakit.

”Rumah sakit jadi kesulitan (dapat obat itu),” imbuh Syifa.

Situasi punic buying obat untuk terapi pasien Covid-19 sangat disayangkan. Sebab, Syifa mengatakan, sampai saat ini belum ada pihak yang bisa memastikan obat paling tepat untuk menyembuhkan pasien Covid-19.

Dia menambahkan, kegunaan ketiga obat itu sifatnya hanya untuk penambah vitamin, penambah imun, dan antivirus. Dengan dasar itu, pihaknya berharap agar untuk masyarakat yang belum mengetahui indikasi dari kegunaan obat itu tidak perlu melakukan pembelian secara mandiri tanpa petunjuk dokter.

”Karena itu mengakibatkan terjadinya kelangkaan untuk stok obat tersebut,” kata dia.

Bila kelangkaan itu terjadi terus-menerus serta jumlah kasus barunya juga bertambah, dia khawatir bila angka kematian pasien Covid-19 di Kota Malang bakal tetap meninggi. Kekhawatirannya itu cukup beralasan. Sebab, dalam 2 hari terakhir, rekor kematian pasien Covid-19 telah terjadi lagi. Dalam kurun waktu 2 hari, tercatat ada 63 pasien yang meninggal dunia.

”Dua hari ini rekor terbesar (jumlah kematian pasien korona),” kata Kepala UPT Pengelola Pemakaman Umum Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang Taqruni Akbar.

Dirinci olehnya, Selasa lalu (6/7) total ada 44 pasien yang meninggal. ”Pemakamannya sampai dibagi dua dengan hari ini (kemarin),” tambah dia. Sementara tambahan 19 pasien yang meninggal terjadi kemarin. Taqruni menyampaikan, pasien-pasien itu berasal dari beberapa RS rujukan. Di antaranya dari RSSA Malang, RS Panti Nirmala, RSUD Kota Malang, RSI Aisyiyah, RS Marsudi Waluyo, dan RS Lavalette.

Sementara itu, penelaah bahan kajian bencana alam seksi logistik BPBD Kota Malang Cornellia Selvyana Ayoe mengatakan bila tim pemakaman harus bekerja ekstra dalam dua hari terakhir. Kemarin (7/7) saja, pihaknya telah memakamkan 35 jenazah yang terindikasi Covid-19. Dari total itu, 16 jenazah adalah pasien yang meninggal pada hari sebelumnya.

”Itu yang meninggal sehari sebelumnya dimakamkan pagi hari. Sorenya ketambahan lagi, totalnya ada 35 jenazah,” papar dia. Sebelumnya, dia menyebut bila angka kematian sempat melandai. Berada di jumlah belasan jenazah. (adn/ulf/c1/by/rmc)

RADAR MALANG – Kelangkaan obat-obatan yang dipercaya bisa membantu penyembuhan pasien Covid-19, yakni suplemen, Actemra, dan Remdesivir disinyalir karena warga melakukan aksi panic buying di tengah melonjaknya kasus Covid-19 dalam beberapa waktu terakhir.

Ketua Satgas NU Peduli Covid-19 Malang Raya dr Syifa Mustika melihat bila kondisi itu memang cukup beralasan. Sebab, saat ini kasus baru Covid-19 juga terus naik. Di sisi lain, dia memprediksi bila ketersediaan stoknya di tingkat pusat juga terbatas.

”Di sisi lain, saat ini kebutuhannya juga meningkat,” kata dokter spesialis penyakit dalam itu.

Dari pengamatan dia, kelangkaan obat untuk terapi Covid-19 terjadi karena warga terindikasi melakukan aksi borong. Kondisi itu tentu berdampak pada ketersediaannya di rumah sakit.

”Rumah sakit jadi kesulitan (dapat obat itu),” imbuh Syifa.

Situasi punic buying obat untuk terapi pasien Covid-19 sangat disayangkan. Sebab, Syifa mengatakan, sampai saat ini belum ada pihak yang bisa memastikan obat paling tepat untuk menyembuhkan pasien Covid-19.

Dia menambahkan, kegunaan ketiga obat itu sifatnya hanya untuk penambah vitamin, penambah imun, dan antivirus. Dengan dasar itu, pihaknya berharap agar untuk masyarakat yang belum mengetahui indikasi dari kegunaan obat itu tidak perlu melakukan pembelian secara mandiri tanpa petunjuk dokter.

”Karena itu mengakibatkan terjadinya kelangkaan untuk stok obat tersebut,” kata dia.

Bila kelangkaan itu terjadi terus-menerus serta jumlah kasus barunya juga bertambah, dia khawatir bila angka kematian pasien Covid-19 di Kota Malang bakal tetap meninggi. Kekhawatirannya itu cukup beralasan. Sebab, dalam 2 hari terakhir, rekor kematian pasien Covid-19 telah terjadi lagi. Dalam kurun waktu 2 hari, tercatat ada 63 pasien yang meninggal dunia.

”Dua hari ini rekor terbesar (jumlah kematian pasien korona),” kata Kepala UPT Pengelola Pemakaman Umum Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang Taqruni Akbar.

Dirinci olehnya, Selasa lalu (6/7) total ada 44 pasien yang meninggal. ”Pemakamannya sampai dibagi dua dengan hari ini (kemarin),” tambah dia. Sementara tambahan 19 pasien yang meninggal terjadi kemarin. Taqruni menyampaikan, pasien-pasien itu berasal dari beberapa RS rujukan. Di antaranya dari RSSA Malang, RS Panti Nirmala, RSUD Kota Malang, RSI Aisyiyah, RS Marsudi Waluyo, dan RS Lavalette.

Sementara itu, penelaah bahan kajian bencana alam seksi logistik BPBD Kota Malang Cornellia Selvyana Ayoe mengatakan bila tim pemakaman harus bekerja ekstra dalam dua hari terakhir. Kemarin (7/7) saja, pihaknya telah memakamkan 35 jenazah yang terindikasi Covid-19. Dari total itu, 16 jenazah adalah pasien yang meninggal pada hari sebelumnya.

”Itu yang meninggal sehari sebelumnya dimakamkan pagi hari. Sorenya ketambahan lagi, totalnya ada 35 jenazah,” papar dia. Sebelumnya, dia menyebut bila angka kematian sempat melandai. Berada di jumlah belasan jenazah. (adn/ulf/c1/by/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/