alexametrics
24.2 C
Malang
Saturday, 28 May 2022

Pembunuhan Emprit Mas, Pelaku Pukul Kepala Korban Sampai Tewas

MALANG KOTA – Aksi Sofyanto Liemantoro, 56, tersangka pembunuhan terhadap istri sirinya Ratna Darumi Soebagio, 56, di Jl. Emprit Mas nomor 10 Kelurahan / Kecamatan Sukun pada Jumat (17/9/21) begitu sadis. Bak pembunuh berdarah dingin saja, Sofyanto menghabisi nyawa istri dengan tenang. Itu terlihat dalam reka adegan (rekonstruksi) yang digelar di lokasi kejadian Kamis kemarin (7/10) pukul 13.30.

Datang ke lokasi sambil mengenakan baju oranye khas tahanan Polresta Malang Kota pada pukul 13.25, Sofyanto menjalani rekonstruksi baru dimulai pukul 13.45. Selama lebih kurang satu jam, Sofyan memeeragakan setidaknya 55 adegan. Mulai dari awal cekcok sampai dengan pemukulan dan membawa korban bersama anaknya BA, 23, ke rumah sakit dengan mobil di akhir rekonstruksi pada pukul 14.56. “Di sini dilakukan setidaknya 55 adegan pembunuhan dari awal sampai akhir kejadian,” terang Kasat Reskrim Polresta Malang Kota, Kompol Tinton Yudha Riambodo di lokasi kemarin.

Dalam adegan pemukulan di kamar mandi, nampak Sofyan memukul sebelah kanan kepala korban berulang kali. Kemudian dia meninggalkan korban yang tak bernyawa sambil mengunci kamar tidur dengan menggunakan pipa. Posisi kamar mandi berada di dalam kamar tidur.
”Ini untuk menyamakan persepsi dari penyidik kepolisian dengan jaksa nanti saat akan dibuat dakwaan,” kata Tinton.

Hingga kini, kepolisian tetap menyangkakan pria berusia 56 tahun itu dengan pasal pembunuhan berencana. “Tetap pembunuhan berencana (Pasal 340 KUHP, red) hingga kini masih belum ada temuan baru lagi dari pemeriksaan. Semua yang dilakukan hari ini sesuai dengan pengakuan dia,” ujar mantan Kasat Reskrim Polres Pelabuhan Tanjung Perak itu.

Kasi Pidana Umum (Pidum) Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Malang, Kusbiantoro SH mengatakan, pihaknya masih menantikan berkas dari kepolisian untuk dilimpahkan. “Belum ada yang dilimpahkan, kami masih menanti dari kepolisian, karena itu dasar kami dalam nanti membuat dakwaan,” kata dia.

Dia menyebut bahwa Surat Perintah Dimulainya Penyidikan (SPDP) sudah diberikan kepada Kejaksaan sejak seminggu lalu. “Untuk P19 masih belum,” ujarnya.

Dalam rekonstruksi itu, Sofyan didampingi Penasihat Hukum Hely S.H, M.H. “Kami sebenarnya tidak membenarkan soal yang dilakukan oleh klien kami, kami mendampinginya untuk mendapatkan haknya,” terang dia.

Seperti diketahui, Sofyan tega menghabisi nyawa istri sirinya karena dendam. “Memang mereka suami-istri yang sah secara agama sejak tujuh tahun lalu, sementara awal permasalahannya dimulai tiga tahun lalu sudah mulai cekcok dan pisah ranjang,” beber Hely.

Dalam hal ini, ketidakcocokan menjadi inti permasalahan. “Intinya sudah tidak cocok, nah korban sendiri sejak dua minggu sebelum kejadian sudah mulai mengusir-ngusir klien saya dari rumah,” tambah dia.

Korban dikenal sebagai pembuat roti bluder yang rutin kirim produknya ke supermarket besar seperti Lai-Lai. “Dan klien saya ini bertugas membantu korban. Nah, tiga tahun itulah tersangka merasa disia-siakan, akhirnya memuncak (dendamnya, red),” kata dia.

Berkaitan dengan dugaan kepolisian korban memiliki dasar ilmu teknik, Hely membenarkan soal itu. “Dulu sebelum tidak bekerja itu, memang klien saya merupakan pemborong (kontraktor), karena tidak bekerja lagi itu akhirnya menjadi satu dengan korban,”terang dia. (biy/abm/rmc)

MALANG KOTA – Aksi Sofyanto Liemantoro, 56, tersangka pembunuhan terhadap istri sirinya Ratna Darumi Soebagio, 56, di Jl. Emprit Mas nomor 10 Kelurahan / Kecamatan Sukun pada Jumat (17/9/21) begitu sadis. Bak pembunuh berdarah dingin saja, Sofyanto menghabisi nyawa istri dengan tenang. Itu terlihat dalam reka adegan (rekonstruksi) yang digelar di lokasi kejadian Kamis kemarin (7/10) pukul 13.30.

Datang ke lokasi sambil mengenakan baju oranye khas tahanan Polresta Malang Kota pada pukul 13.25, Sofyanto menjalani rekonstruksi baru dimulai pukul 13.45. Selama lebih kurang satu jam, Sofyan memeeragakan setidaknya 55 adegan. Mulai dari awal cekcok sampai dengan pemukulan dan membawa korban bersama anaknya BA, 23, ke rumah sakit dengan mobil di akhir rekonstruksi pada pukul 14.56. “Di sini dilakukan setidaknya 55 adegan pembunuhan dari awal sampai akhir kejadian,” terang Kasat Reskrim Polresta Malang Kota, Kompol Tinton Yudha Riambodo di lokasi kemarin.

Dalam adegan pemukulan di kamar mandi, nampak Sofyan memukul sebelah kanan kepala korban berulang kali. Kemudian dia meninggalkan korban yang tak bernyawa sambil mengunci kamar tidur dengan menggunakan pipa. Posisi kamar mandi berada di dalam kamar tidur.
”Ini untuk menyamakan persepsi dari penyidik kepolisian dengan jaksa nanti saat akan dibuat dakwaan,” kata Tinton.

Hingga kini, kepolisian tetap menyangkakan pria berusia 56 tahun itu dengan pasal pembunuhan berencana. “Tetap pembunuhan berencana (Pasal 340 KUHP, red) hingga kini masih belum ada temuan baru lagi dari pemeriksaan. Semua yang dilakukan hari ini sesuai dengan pengakuan dia,” ujar mantan Kasat Reskrim Polres Pelabuhan Tanjung Perak itu.

Kasi Pidana Umum (Pidum) Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Malang, Kusbiantoro SH mengatakan, pihaknya masih menantikan berkas dari kepolisian untuk dilimpahkan. “Belum ada yang dilimpahkan, kami masih menanti dari kepolisian, karena itu dasar kami dalam nanti membuat dakwaan,” kata dia.

Dia menyebut bahwa Surat Perintah Dimulainya Penyidikan (SPDP) sudah diberikan kepada Kejaksaan sejak seminggu lalu. “Untuk P19 masih belum,” ujarnya.

Dalam rekonstruksi itu, Sofyan didampingi Penasihat Hukum Hely S.H, M.H. “Kami sebenarnya tidak membenarkan soal yang dilakukan oleh klien kami, kami mendampinginya untuk mendapatkan haknya,” terang dia.

Seperti diketahui, Sofyan tega menghabisi nyawa istri sirinya karena dendam. “Memang mereka suami-istri yang sah secara agama sejak tujuh tahun lalu, sementara awal permasalahannya dimulai tiga tahun lalu sudah mulai cekcok dan pisah ranjang,” beber Hely.

Dalam hal ini, ketidakcocokan menjadi inti permasalahan. “Intinya sudah tidak cocok, nah korban sendiri sejak dua minggu sebelum kejadian sudah mulai mengusir-ngusir klien saya dari rumah,” tambah dia.

Korban dikenal sebagai pembuat roti bluder yang rutin kirim produknya ke supermarket besar seperti Lai-Lai. “Dan klien saya ini bertugas membantu korban. Nah, tiga tahun itulah tersangka merasa disia-siakan, akhirnya memuncak (dendamnya, red),” kata dia.

Berkaitan dengan dugaan kepolisian korban memiliki dasar ilmu teknik, Hely membenarkan soal itu. “Dulu sebelum tidak bekerja itu, memang klien saya merupakan pemborong (kontraktor), karena tidak bekerja lagi itu akhirnya menjadi satu dengan korban,”terang dia. (biy/abm/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/