alexametrics
29C
Malang
Thursday, 15 April 2021

Fokus Pemeriksaan Saksi, Tersangka RSI Unisma Belum Ditetapkan

MALANG KOTA- Siapa saja korban dari insiden kecelakaan kerja lift ambrol yang terjadi proyek RSI Unisma Malang semakin jelas. Atas peristiwa tersebut, diketahui empat orang meninggal dunia dan enam orang mengalami luka berat. Anak buah PT Dwiponggo Seto, pihak ketiga (rekanan), sampai saat ini masih dalam pemeriksaan polisi.

Enam orang yang mengalami luka berat adalah Depi, 25, asal Pakis, Kabupaten Malang yang mengalami patah di kedua tangan, Toni, 25, asal Jabung, Kabupaten Malang yang juga mengalami patah di kedua tangan.

Ludi, 25, asal Poncokusumo, Kabupaten Malang yang mengalami perut sakit, Andika, 25 asal Jabung, Kabupaten Malang dengan luka gigi habis.

Fatkur, 30, asal Gondanglegi, Kabupaten Malang yang mengalami patah kaki kanan dan Arifin, 31 asal Kasembon, Kabupaten Malang yang mengalami patah tangan.

Saat ini, keenam korban sedang menjalani perawatan di RSSA Malang.

Kasat Reskrim Polresta Malang Kota AKP Azi Pratas Guspitu mengungkapkan, sampai saat ini, pihaknya masih melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi, yang terdiri dari empat pekerja bangunan dan satu kakak korban. Tidak menutup kemungkinan, pihak yayasan maupun pihak ketiga (rekanan) juga akan dipanggil.

“Kami masih melakukan pemeriksaan dan akan kami panggil (yayasan dan rekanan), hasilnya seperti apa. Kalau ada tersangka, ya nanti kami tetapkan (tersangka) dengan mekanisme dan prosedur yang kami jalani,” terang dia, Rabu (9/9).

Azi menyebut, rekanan RSI Unisma, dalam hal ini adalah PT Dwiponggo Seto bisa jadi lalai dan melanggar prosedur Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).

“Kalau dilihat dari TKP, lift yang dibuat itu untuk barang, bukan untuk dinaiki oleh muatan lain apalagi banyak. Sehingga, talinya tidak kuat menahan beban dan putus,” papar dia.

Azi menjelaskan, lift tersebut biasa digunakan sehari-hari oleh para pekerja bangunan, namun untuk mengangkut barang-barang saja.

“Itu untuk muatan barang, kalaupun ada orangnya, maksimal lima orang,” papar dia.

Para pekerja tersebut naik lift untuk mempercepat pekerjaan setelah selesai beristirahat. “Mereka ingin melanjutkan pekerjaan setelah istirahat. Mereka nggak lewat tangga mungkin karena ingin menghemat waktu, untuk itu naik lift,” lanjut dia.

Pewarta: Sandra Desi C

MALANG KOTA- Siapa saja korban dari insiden kecelakaan kerja lift ambrol yang terjadi proyek RSI Unisma Malang semakin jelas. Atas peristiwa tersebut, diketahui empat orang meninggal dunia dan enam orang mengalami luka berat. Anak buah PT Dwiponggo Seto, pihak ketiga (rekanan), sampai saat ini masih dalam pemeriksaan polisi.

Enam orang yang mengalami luka berat adalah Depi, 25, asal Pakis, Kabupaten Malang yang mengalami patah di kedua tangan, Toni, 25, asal Jabung, Kabupaten Malang yang juga mengalami patah di kedua tangan.

Ludi, 25, asal Poncokusumo, Kabupaten Malang yang mengalami perut sakit, Andika, 25 asal Jabung, Kabupaten Malang dengan luka gigi habis.

Fatkur, 30, asal Gondanglegi, Kabupaten Malang yang mengalami patah kaki kanan dan Arifin, 31 asal Kasembon, Kabupaten Malang yang mengalami patah tangan.

Saat ini, keenam korban sedang menjalani perawatan di RSSA Malang.

Kasat Reskrim Polresta Malang Kota AKP Azi Pratas Guspitu mengungkapkan, sampai saat ini, pihaknya masih melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi, yang terdiri dari empat pekerja bangunan dan satu kakak korban. Tidak menutup kemungkinan, pihak yayasan maupun pihak ketiga (rekanan) juga akan dipanggil.

“Kami masih melakukan pemeriksaan dan akan kami panggil (yayasan dan rekanan), hasilnya seperti apa. Kalau ada tersangka, ya nanti kami tetapkan (tersangka) dengan mekanisme dan prosedur yang kami jalani,” terang dia, Rabu (9/9).

Azi menyebut, rekanan RSI Unisma, dalam hal ini adalah PT Dwiponggo Seto bisa jadi lalai dan melanggar prosedur Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).

“Kalau dilihat dari TKP, lift yang dibuat itu untuk barang, bukan untuk dinaiki oleh muatan lain apalagi banyak. Sehingga, talinya tidak kuat menahan beban dan putus,” papar dia.

Azi menjelaskan, lift tersebut biasa digunakan sehari-hari oleh para pekerja bangunan, namun untuk mengangkut barang-barang saja.

“Itu untuk muatan barang, kalaupun ada orangnya, maksimal lima orang,” papar dia.

Para pekerja tersebut naik lift untuk mempercepat pekerjaan setelah selesai beristirahat. “Mereka ingin melanjutkan pekerjaan setelah istirahat. Mereka nggak lewat tangga mungkin karena ingin menghemat waktu, untuk itu naik lift,” lanjut dia.

Pewarta: Sandra Desi C

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru