alexametrics
21.1 C
Malang
Tuesday, 16 August 2022

Bahas Human Security, Unmer Malang Undang Akademisi 6 Negara

MALANG KOTA – Para akademisi dari enam negara hadir sebagai pembicara dalam International Conference Human Security, Governance and Policy yang terbagi dalam dua sesi yaitu International Conference in Social Science 1st (ICONISS) dan 4th International Conference of Graduate School on Sustainability (ICGSS) pada 5 dan 6 November 2020. Konferensi yang digelar secara daring ini merupakan hasil kerja sama program Pascasarjana Universitas Merdeka (Unmer) Malang dengan enam Perguruan Tinggi dari dalam negeri, Australia, Belanda, Malaysia, Amerika Serikat, dan Turki.

Ketua konferensi Prof Dr Bonaventura Ngarawula MSi, menjelaskan bahwa ICONISS dan ICGSS menekankan pembahasan terhadap isu-isu penting tentang keamanan manusia (Human Security). Sebagai platform fundamental dalam pengembangan kebijakan politik, sosial budaya dan ekonomi, baik di negara maju maupun berkembang.
Bona, sapaan akrab Bonaventura Ngarawula, manambahkan bahwa selain berdiskusi dengan para pemateri, para peserta juga mengikuti sesi pararel untuk mempresentasikan hasil kajiannya. Tercatat hampir 150 peserta mempresentasikan hasil penelitiannya dalam forum yang digelar selama dua hari ini.
Konferensi ini dibuka oleh Rektor Unmer Malang Prof Anwar Sanusi SE MSi. Dalam sambutannya, guru besar bidang ekonomi pembangunan ini menjelaskan bahwa keamanan manusia merupakan salah satu masalah global kontemporer yang mendapatkan perhatian besar dari para akademisi dan pemerintahan dunia sejak tahun 1994.

“Era Revolusi Digital 4.0 dan Masyarakat 5.0 menyimpan banyak tantangan bagi keamanan manusia. Terlebih lagi saat ini dunia tengah dihadapkan dengan pandemi Covid-19 yang menuntut kita untuk mengubah dinamika tatanan sosial dan percepatan digital di segala bidang. Untuk mengatasi permasalahan tersebut ada tujuh aspek penting yang harus terpenuhi dalam keamanan manusia yaitu keamanan ekonomi, keamanan pangan, keamanan kesehatan, keamanan lingkungan, keamanan pribadi, keamanan komunitas, serta keamanan politik,” tegasnya.

Hari pertama konferensi dibuka dengan paparan materi dari staf ahli Bidang Hukum dan Kesatuan Bangsa, Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia, Drs Lutfi MTA MSi yang menjelaskan tentang hakikat sistem demokrasi di Indonesia. Termasuk elemen-elemen penting yang mendukung kebijakan politik baik tingkat pemerintahan pusat maupun daerah.

Hari kedua, Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Dr KH Din Syamsuddin MA menyampaikan pentingnya pengakuan martabat manusia (Human Dignity) dalam unsur keamanan manusia. Din mengungkapkan bahwa pengakuan martabat manusia terbagi atas sisi religius (religiousity), tanggung jawab manusia (human responsible), kemakmuran (prosperity) dan jaminan atas keamanan (security).

“Apabila unsur-unsur tersebut dapat terpenuhi maka ini akan menjadi landasan penting bagi pengembangan yang berkelanjutan (sustainable development) kehidupan bermasyarakat secara global,” tandasnya.

Selain itu para akademisi internasional di antaranya Assoc Prof Claudia N Avellaneda PhD (Indiana University, Amerika Serikat), Emeritus Prof Dr Alberto G Gomes (La Trobe University, Australia), Prof Dr Ahmad Martadha Mohammed (University Utara Malaysia), Prof Dr Serkan Dilek (Kastamonu University, Turki), Prof Fred Ziljstra PhD (Scientific Director CDCC, Belanda), dan Prof Robert. T Evans (Curtin University, Australia).

Turut menyampaikan paparan dan berdiskusi tentang masalah human security dalam perspektif politik, sosial budaya, dan ekonomi yaitu Deputi Bidang Pelayanan Publik Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Prof Dr Diah Natalisa MBA. Sebagai tuan rumah, Unmer Malang menghadirkan Dr Sukardi MSI, pakar kebijakan publik sekaligus Dekan FISIP Unmer Malang sebagai salah satu pembicara.

Pada hari terakhir, konferensi daring ini ditutup oleh Direktur Pascasarjana Unmer Malang Prof Dr Grahita Chandrarin SE MSi Ak CA. “Melalui seminar ini diharapkan akan tercipta solusi atas segala permasalahan global dan yang terpenting terjadi proses transfer ilmu yang positif antar akademisi dari berbagai penjuru dunia terutama di Indonesia,” pungkasnya.

Pewarta: Fia

MALANG KOTA – Para akademisi dari enam negara hadir sebagai pembicara dalam International Conference Human Security, Governance and Policy yang terbagi dalam dua sesi yaitu International Conference in Social Science 1st (ICONISS) dan 4th International Conference of Graduate School on Sustainability (ICGSS) pada 5 dan 6 November 2020. Konferensi yang digelar secara daring ini merupakan hasil kerja sama program Pascasarjana Universitas Merdeka (Unmer) Malang dengan enam Perguruan Tinggi dari dalam negeri, Australia, Belanda, Malaysia, Amerika Serikat, dan Turki.

Ketua konferensi Prof Dr Bonaventura Ngarawula MSi, menjelaskan bahwa ICONISS dan ICGSS menekankan pembahasan terhadap isu-isu penting tentang keamanan manusia (Human Security). Sebagai platform fundamental dalam pengembangan kebijakan politik, sosial budaya dan ekonomi, baik di negara maju maupun berkembang.
Bona, sapaan akrab Bonaventura Ngarawula, manambahkan bahwa selain berdiskusi dengan para pemateri, para peserta juga mengikuti sesi pararel untuk mempresentasikan hasil kajiannya. Tercatat hampir 150 peserta mempresentasikan hasil penelitiannya dalam forum yang digelar selama dua hari ini.
Konferensi ini dibuka oleh Rektor Unmer Malang Prof Anwar Sanusi SE MSi. Dalam sambutannya, guru besar bidang ekonomi pembangunan ini menjelaskan bahwa keamanan manusia merupakan salah satu masalah global kontemporer yang mendapatkan perhatian besar dari para akademisi dan pemerintahan dunia sejak tahun 1994.

“Era Revolusi Digital 4.0 dan Masyarakat 5.0 menyimpan banyak tantangan bagi keamanan manusia. Terlebih lagi saat ini dunia tengah dihadapkan dengan pandemi Covid-19 yang menuntut kita untuk mengubah dinamika tatanan sosial dan percepatan digital di segala bidang. Untuk mengatasi permasalahan tersebut ada tujuh aspek penting yang harus terpenuhi dalam keamanan manusia yaitu keamanan ekonomi, keamanan pangan, keamanan kesehatan, keamanan lingkungan, keamanan pribadi, keamanan komunitas, serta keamanan politik,” tegasnya.

Hari pertama konferensi dibuka dengan paparan materi dari staf ahli Bidang Hukum dan Kesatuan Bangsa, Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia, Drs Lutfi MTA MSi yang menjelaskan tentang hakikat sistem demokrasi di Indonesia. Termasuk elemen-elemen penting yang mendukung kebijakan politik baik tingkat pemerintahan pusat maupun daerah.

Hari kedua, Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Dr KH Din Syamsuddin MA menyampaikan pentingnya pengakuan martabat manusia (Human Dignity) dalam unsur keamanan manusia. Din mengungkapkan bahwa pengakuan martabat manusia terbagi atas sisi religius (religiousity), tanggung jawab manusia (human responsible), kemakmuran (prosperity) dan jaminan atas keamanan (security).

“Apabila unsur-unsur tersebut dapat terpenuhi maka ini akan menjadi landasan penting bagi pengembangan yang berkelanjutan (sustainable development) kehidupan bermasyarakat secara global,” tandasnya.

Selain itu para akademisi internasional di antaranya Assoc Prof Claudia N Avellaneda PhD (Indiana University, Amerika Serikat), Emeritus Prof Dr Alberto G Gomes (La Trobe University, Australia), Prof Dr Ahmad Martadha Mohammed (University Utara Malaysia), Prof Dr Serkan Dilek (Kastamonu University, Turki), Prof Fred Ziljstra PhD (Scientific Director CDCC, Belanda), dan Prof Robert. T Evans (Curtin University, Australia).

Turut menyampaikan paparan dan berdiskusi tentang masalah human security dalam perspektif politik, sosial budaya, dan ekonomi yaitu Deputi Bidang Pelayanan Publik Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Prof Dr Diah Natalisa MBA. Sebagai tuan rumah, Unmer Malang menghadirkan Dr Sukardi MSI, pakar kebijakan publik sekaligus Dekan FISIP Unmer Malang sebagai salah satu pembicara.

Pada hari terakhir, konferensi daring ini ditutup oleh Direktur Pascasarjana Unmer Malang Prof Dr Grahita Chandrarin SE MSi Ak CA. “Melalui seminar ini diharapkan akan tercipta solusi atas segala permasalahan global dan yang terpenting terjadi proses transfer ilmu yang positif antar akademisi dari berbagai penjuru dunia terutama di Indonesia,” pungkasnya.

Pewarta: Fia

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/