alexametrics
21.4 C
Malang
Friday, 27 May 2022

Libur Lebaran, Warga Kota Malang Produksi Sampah hingga 3.374 Ton Sampah

MALANG KOTA–Volume sampah di Malang Raya melonjak lumayan drastis. Selama libur Lebaran 2-8 Mei, setidaknya ada 10.168 ton sampah baru. Artinya, kalau di rata-rata ada 1.452 ton per hari. Rinciannya, ada di Kota Malang ada 3.374 ton sampah.  Lalu di Kabupaten Malang menumpuk 6.000 ton dan disusul Kota Batu ada tambahan sampah 794,18 ton.

”Sumbangan” sampah terbesar dari wisatawan. Yakni 70 persen. Disusul sampah organik dan rumah tangga 30 persen. Penambahan volume sampah ini memang sudah sesuai prediksi sebelumnya.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang memprediksi kenaikan volume sampah sampai 15 persen per hari. Namun nyatanya tak sampai satu persen per hari. Para petugas kebersihan DLH selama sepekan lalu hanya mengumpulkan 482 ton per hari. Jumlah tersebut hanya naik 2 ton saja jika dibanding sebelum Lebaran. Namun jika dibanding dengan Lebaran tahun lalu, menunjukkan kenaikan cukup signifikan. ”Paling parah itu saat 2 Mei ketika Salat Idul Fitri, kami mengangkut sampah plastik dan kertas cukup banyak,” ujar Kepala DLH Kota Malang Wahyu Setianto kemarin.

Wahyu menambahkan kenaikan volume sampah selama Lebaran kemarin masih cukup aman jika ditampung seluruhnya ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Supiturang. Sebab kapasitas maksimal TPA tersebut per hari 700 ton. Tentu jika melihat hasil pembuangan sampah per hari selama Lebaran kemarin masih terpaut separo dari kapasitas total TPA Supiturang. Untuk jenis sampah yang mendominasi, yakni plastik.

Penambahan hampir dua ton sampah plastik. Jenis sampah tersebut dikumpulkan oleh para petugas kebersihan yang berjumlah 600 orang dari tempat wisata. ”Paling banyak kemarin ada di Alun-Alun Malang itu. Kami sampai mengerahkan 12 personel,” kata Wahyu. Untuk penyumbang volume sampah lain adalah di sektor rumah tangga. Kemudian disusul dengan sampah organik berupa dedaunan atau sampah organik lain yang akhirnya dibuat untuk kompos.  Untuk mengurai problem sampah, DLH menekankan 59 tempat pembuangan sementara (TPS) bisa mengolah lagi sampah sebelum dibuang ke TPA Supiturang. Begitu juga dengan di TPA Supiturang, DLH memaksimalkan sanitary landfill untuk mengurai sampah yang sudah terbuang di sana. (adn/fin/fif/abm)

 

MALANG KOTA–Volume sampah di Malang Raya melonjak lumayan drastis. Selama libur Lebaran 2-8 Mei, setidaknya ada 10.168 ton sampah baru. Artinya, kalau di rata-rata ada 1.452 ton per hari. Rinciannya, ada di Kota Malang ada 3.374 ton sampah.  Lalu di Kabupaten Malang menumpuk 6.000 ton dan disusul Kota Batu ada tambahan sampah 794,18 ton.

”Sumbangan” sampah terbesar dari wisatawan. Yakni 70 persen. Disusul sampah organik dan rumah tangga 30 persen. Penambahan volume sampah ini memang sudah sesuai prediksi sebelumnya.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang memprediksi kenaikan volume sampah sampai 15 persen per hari. Namun nyatanya tak sampai satu persen per hari. Para petugas kebersihan DLH selama sepekan lalu hanya mengumpulkan 482 ton per hari. Jumlah tersebut hanya naik 2 ton saja jika dibanding sebelum Lebaran. Namun jika dibanding dengan Lebaran tahun lalu, menunjukkan kenaikan cukup signifikan. ”Paling parah itu saat 2 Mei ketika Salat Idul Fitri, kami mengangkut sampah plastik dan kertas cukup banyak,” ujar Kepala DLH Kota Malang Wahyu Setianto kemarin.

Wahyu menambahkan kenaikan volume sampah selama Lebaran kemarin masih cukup aman jika ditampung seluruhnya ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Supiturang. Sebab kapasitas maksimal TPA tersebut per hari 700 ton. Tentu jika melihat hasil pembuangan sampah per hari selama Lebaran kemarin masih terpaut separo dari kapasitas total TPA Supiturang. Untuk jenis sampah yang mendominasi, yakni plastik.

Penambahan hampir dua ton sampah plastik. Jenis sampah tersebut dikumpulkan oleh para petugas kebersihan yang berjumlah 600 orang dari tempat wisata. ”Paling banyak kemarin ada di Alun-Alun Malang itu. Kami sampai mengerahkan 12 personel,” kata Wahyu. Untuk penyumbang volume sampah lain adalah di sektor rumah tangga. Kemudian disusul dengan sampah organik berupa dedaunan atau sampah organik lain yang akhirnya dibuat untuk kompos.  Untuk mengurai problem sampah, DLH menekankan 59 tempat pembuangan sementara (TPS) bisa mengolah lagi sampah sebelum dibuang ke TPA Supiturang. Begitu juga dengan di TPA Supiturang, DLH memaksimalkan sanitary landfill untuk mengurai sampah yang sudah terbuang di sana. (adn/fin/fif/abm)

 

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/