alexametrics
30 C
Malang
Monday, 23 May 2022

Dinoyo Kampung Tangguh, Jatimulyo Punya Kebun Penguat Imun

MALANG KOTA – Setiap RW yang menjadi peserta Lomba Kampung Bersinar 2020 mempunyai keunggulan masing-masing. Jika RW-RW di Kelurahan Dinoyo menjadi kampung tangguh Covid-19, Jatimulyo menonjolkan kebun penguat imun, kampung online, hingga makanan langka seperti Somur alias Soto Jamur. Hal itu terungkap saat tim juri melakukan penilaian di dua kelurahan tersebut, kemarin (9/10).

Kampung Bersinar Kota Malang 2020

Tangguh Covid-19 itu terlihat di RW 03 Dinoyo. Gedung Balai RW disulap jadi Lumbung Pangan. Fungsinya untuk menyalurkan bantuan pokok bagi warga yang terimbas korona. ”Warga yang membutuhkan akan kami beri bantuan. Pendistribusiannya melibatkan masing-masing Ketua RT,” terang Ketua RW 03 Dinoyo Sudijar.

Bantuan yang diakomodir pihak RW itu didapat dari sejumlah pihak. Bisa dari instansi ataupun perorangan. ”Saat ini masih ada stok 50 paket sembako,” tambah Sudijar.

Ia menambahkan bila ada warga yang harus menjalani karantina mandiri, pihaknya bakal menyalurkan lebih banyak bantuan. Saat ini, Sudijar menyebut ada setidaknya 2 warga yang harus menjalani karantina mandiri.

Berikutnya ada potensi pengembangan wisata. Selain edukasi keramik, pihak RW dan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) juga telah menyiapkan konsep wisata baru. “Di dekat aliran Sungai Brantas rencananya mau kami buat rest area. Juga ada gerakan wisata cinta Sungai Brantas,” tambah Ketua Pokdarwis Kampung Keramik Dinoyo, Samsul Arifin.

Persiapan untuk memanfaatkan aliran Brantas sebagai destinasi wisata baru juga mereka lakukan saat ini. Untuk menjaga keasrian wilayah, pihak Rw sebelumnya juga menyarankan tiap KK untuk bercocok tanam. Jadilah sudut-sudut di wilayah Rw 3 kini tampak lebih hijau.

Sedangkan di RW 2 Dinoyo yang volume sampahnya tinggi, bisa mengantisipasinya dengan membudayakan pemilihan sampah sejak dari rumah tangga. ”Tiap minggu kami rutin mengambil sampah-sampah di perumahan warga,” terang Ketua RW 2 Dinoyo Bimo Trisapto Widharto.

Setelah diambil, proses pemilahan dilakukan. Sejumlah sampah plastik bakal didaur ulang menjadi bahan bernilai tinggi. Seperti baju, tas, dan toples-toples lukis. “Beberapa hasil karya warga juga diperjualbelikan,” tambah Bimo.

Hal senada juga disampaikan Ketua Rt 8 Rw 2 Dinoyo, Taufiq. Ia menyebut, anggota Karang Taruna dan PKK lah yang aktif mengolah sampah. ”Diawali dari menyetor sampah ke BSM (Bank Sampah Malang) di Rt 7,” kata dia.

Di tempat lain, inovasi yang dilakukan warga Rt 06 Rw 01 Dinoyo ini patut diacungi jempol. Memanfaatkan gorong-gorong di sekitar rumah-rumah warga, budidaya lele dilakukan. “Gorong-gorong ini jalurnya dari air hujan. Bukan dari jalur limbah rumah tangga,” terang Ketua Rt 06 Rw 01 Dinoyo, Suliono.

Ia menyebut, budidaya lele sudah dilakukan sejak satu bulan lalu. “Sebelumnya kami budidayakan ikan nila. Bulan Agustus lalu sudah dipanen warga untuk bakar-bakar bersama,” imbuh Suliono.

Apresiasi khusus pun disampaikan Lurah Dinoyo, Dwi Hermawan Purnomo, yang turut mendampingi juri Lomba Kampung Bersinar. “Ini murni ide warga,” kata dia. Rekayasa budidaya lele di gorong-gorong itu juga sudah diatur warga sedemikian rupa. Ada sekat yang dipasang di setiap ruas gorong-gorong. Itu dilakukan agar ikan yang dibudidaya tak ikut dalam saluran air. Pembersihan sekat juga rutin dilakukan. Di musim hujan seperti sekarang, pembersihan bisa dilakukan warga setiap hari.

Sedangkan di Kelurahan Jatimulyo, kebun berisi tanaman penambah imun ditemui hampir disemua pekarangan rumah warga RW 4. Selain beberapa tanaman obat-obatan, tidak ketinggalan tanaman murbei.

Kenapa murbei? ”Ini bisa meningkatkan imun tubuh,” ujar Ketua PKK RW 04 Linda Yusline kepada tim juri lomba Kampung Bersinar 2020, kemarin.
Di tengah pandemi Covid-19 seperti saat ini, Linda memang mewajibkan warganya menanam tanaman yang bermanfaat. ”Tanaman murbei ini sudah menjadi maskot di RW kami,” kata dia.

Sedangkan budidaya jamur ini dipaparkan oleh Sudarno, salah satu warga RW 4. Menggunakan bangunan kos kosan yang belum difungsikan, Sudarno melakukan pembudidwyaan jamur. ”Sementara ini produksi pribadi. Kedepan kami akan memberdayakan masyarakat,” kata Purnomo.

Jamur hasil budidayanya ini sudah menghasilkan. Sementara ini sudah dijadikan soto jamur alias Somur. Namun akibat pandemi, menu soto jamurnya dihentikan dahulu. ”Tapi untuk jamurnya, peminatnya sudah banyak. Terutama dari kalangan singosari dan Sumur,” paparnya.

Keunggulan juga ditemukan di RW 06 Jatimulyo. Di sana, ketua RW mewadahi warganya yang mempunyai usaha melalui kampung online. ”Semua usaha warga kami pasarkan lewat online. Ada facebooknya juga,” ujar Ketua RW 6 Jatimulyo, Nanang Budi Prasojo kemarin.

Nanang yang pensiunan Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemkab Malang itu sudah memetakan perekonomian warga. Termasuk banyaknya penghobi burung, yang kemudian diwadahi melalui kampung burung. “Setiap Minggu pagi kami buka kampung burung,” kata dia.

Selain kampung online dan kampung Burung, RW 06 Jatimulyo tidak meninggalkan program penghijauan. Hampir seluruh gang yang terdiri dari delapan RT itu terdapat tanaman. “Penghijauan ini bangus. Tapi saran saya, tidak perlu dipaksakan teratur seperti ini, kesannya instan dan memakan ruas jalan,” kata salah satu anggota tim juri Lomba Kampung Bersinar yang juga dosen Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang Sudiro ST MT.

Sedangkan di RW 3 Jatimulyo mengandalkan pembibitan ikan di atap rumah, biopori dan urban farming di beberapa RT. Seperti yang dilakukan Daim, salah satu warga RT 04 RW 03. Menurutnya, aktivitas ternak lele ini tak hanya untuk kegiatan ekonomi. Namun, juga untuk olahraga. “Supaya ada aktivitas yang menghasilkan ekonomi,” kata pria empat anak ini.

Kolam lele tersebut ditempatkan di atap rumah karena tidak ada lahan lagi. Dimana saat ini ada sekitar 1000 ikan lele. “Kalau hasilnya bagus, nanti ditambah lagi,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua RW 03 Kel Jatimulyo, Lowokwaru Suprianto menambahkan, warganya dibebaskan untuk berkreasi dalam memaksimalkan potensi yang ada di sekitar. Sehingga, tiap warga menunjukkan karya yang berbeda. “Sebagian besar dananya dari swadaya masyarakat secara sukarela,” imbuhnya.

Pewarta: Intan Refa Septiana, Bayu Mulya Putra

MALANG KOTA – Setiap RW yang menjadi peserta Lomba Kampung Bersinar 2020 mempunyai keunggulan masing-masing. Jika RW-RW di Kelurahan Dinoyo menjadi kampung tangguh Covid-19, Jatimulyo menonjolkan kebun penguat imun, kampung online, hingga makanan langka seperti Somur alias Soto Jamur. Hal itu terungkap saat tim juri melakukan penilaian di dua kelurahan tersebut, kemarin (9/10).

Kampung Bersinar Kota Malang 2020

Tangguh Covid-19 itu terlihat di RW 03 Dinoyo. Gedung Balai RW disulap jadi Lumbung Pangan. Fungsinya untuk menyalurkan bantuan pokok bagi warga yang terimbas korona. ”Warga yang membutuhkan akan kami beri bantuan. Pendistribusiannya melibatkan masing-masing Ketua RT,” terang Ketua RW 03 Dinoyo Sudijar.

Bantuan yang diakomodir pihak RW itu didapat dari sejumlah pihak. Bisa dari instansi ataupun perorangan. ”Saat ini masih ada stok 50 paket sembako,” tambah Sudijar.

Ia menambahkan bila ada warga yang harus menjalani karantina mandiri, pihaknya bakal menyalurkan lebih banyak bantuan. Saat ini, Sudijar menyebut ada setidaknya 2 warga yang harus menjalani karantina mandiri.

Berikutnya ada potensi pengembangan wisata. Selain edukasi keramik, pihak RW dan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) juga telah menyiapkan konsep wisata baru. “Di dekat aliran Sungai Brantas rencananya mau kami buat rest area. Juga ada gerakan wisata cinta Sungai Brantas,” tambah Ketua Pokdarwis Kampung Keramik Dinoyo, Samsul Arifin.

Persiapan untuk memanfaatkan aliran Brantas sebagai destinasi wisata baru juga mereka lakukan saat ini. Untuk menjaga keasrian wilayah, pihak Rw sebelumnya juga menyarankan tiap KK untuk bercocok tanam. Jadilah sudut-sudut di wilayah Rw 3 kini tampak lebih hijau.

Sedangkan di RW 2 Dinoyo yang volume sampahnya tinggi, bisa mengantisipasinya dengan membudayakan pemilihan sampah sejak dari rumah tangga. ”Tiap minggu kami rutin mengambil sampah-sampah di perumahan warga,” terang Ketua RW 2 Dinoyo Bimo Trisapto Widharto.

Setelah diambil, proses pemilahan dilakukan. Sejumlah sampah plastik bakal didaur ulang menjadi bahan bernilai tinggi. Seperti baju, tas, dan toples-toples lukis. “Beberapa hasil karya warga juga diperjualbelikan,” tambah Bimo.

Hal senada juga disampaikan Ketua Rt 8 Rw 2 Dinoyo, Taufiq. Ia menyebut, anggota Karang Taruna dan PKK lah yang aktif mengolah sampah. ”Diawali dari menyetor sampah ke BSM (Bank Sampah Malang) di Rt 7,” kata dia.

Di tempat lain, inovasi yang dilakukan warga Rt 06 Rw 01 Dinoyo ini patut diacungi jempol. Memanfaatkan gorong-gorong di sekitar rumah-rumah warga, budidaya lele dilakukan. “Gorong-gorong ini jalurnya dari air hujan. Bukan dari jalur limbah rumah tangga,” terang Ketua Rt 06 Rw 01 Dinoyo, Suliono.

Ia menyebut, budidaya lele sudah dilakukan sejak satu bulan lalu. “Sebelumnya kami budidayakan ikan nila. Bulan Agustus lalu sudah dipanen warga untuk bakar-bakar bersama,” imbuh Suliono.

Apresiasi khusus pun disampaikan Lurah Dinoyo, Dwi Hermawan Purnomo, yang turut mendampingi juri Lomba Kampung Bersinar. “Ini murni ide warga,” kata dia. Rekayasa budidaya lele di gorong-gorong itu juga sudah diatur warga sedemikian rupa. Ada sekat yang dipasang di setiap ruas gorong-gorong. Itu dilakukan agar ikan yang dibudidaya tak ikut dalam saluran air. Pembersihan sekat juga rutin dilakukan. Di musim hujan seperti sekarang, pembersihan bisa dilakukan warga setiap hari.

Sedangkan di Kelurahan Jatimulyo, kebun berisi tanaman penambah imun ditemui hampir disemua pekarangan rumah warga RW 4. Selain beberapa tanaman obat-obatan, tidak ketinggalan tanaman murbei.

Kenapa murbei? ”Ini bisa meningkatkan imun tubuh,” ujar Ketua PKK RW 04 Linda Yusline kepada tim juri lomba Kampung Bersinar 2020, kemarin.
Di tengah pandemi Covid-19 seperti saat ini, Linda memang mewajibkan warganya menanam tanaman yang bermanfaat. ”Tanaman murbei ini sudah menjadi maskot di RW kami,” kata dia.

Sedangkan budidaya jamur ini dipaparkan oleh Sudarno, salah satu warga RW 4. Menggunakan bangunan kos kosan yang belum difungsikan, Sudarno melakukan pembudidwyaan jamur. ”Sementara ini produksi pribadi. Kedepan kami akan memberdayakan masyarakat,” kata Purnomo.

Jamur hasil budidayanya ini sudah menghasilkan. Sementara ini sudah dijadikan soto jamur alias Somur. Namun akibat pandemi, menu soto jamurnya dihentikan dahulu. ”Tapi untuk jamurnya, peminatnya sudah banyak. Terutama dari kalangan singosari dan Sumur,” paparnya.

Keunggulan juga ditemukan di RW 06 Jatimulyo. Di sana, ketua RW mewadahi warganya yang mempunyai usaha melalui kampung online. ”Semua usaha warga kami pasarkan lewat online. Ada facebooknya juga,” ujar Ketua RW 6 Jatimulyo, Nanang Budi Prasojo kemarin.

Nanang yang pensiunan Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemkab Malang itu sudah memetakan perekonomian warga. Termasuk banyaknya penghobi burung, yang kemudian diwadahi melalui kampung burung. “Setiap Minggu pagi kami buka kampung burung,” kata dia.

Selain kampung online dan kampung Burung, RW 06 Jatimulyo tidak meninggalkan program penghijauan. Hampir seluruh gang yang terdiri dari delapan RT itu terdapat tanaman. “Penghijauan ini bangus. Tapi saran saya, tidak perlu dipaksakan teratur seperti ini, kesannya instan dan memakan ruas jalan,” kata salah satu anggota tim juri Lomba Kampung Bersinar yang juga dosen Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang Sudiro ST MT.

Sedangkan di RW 3 Jatimulyo mengandalkan pembibitan ikan di atap rumah, biopori dan urban farming di beberapa RT. Seperti yang dilakukan Daim, salah satu warga RT 04 RW 03. Menurutnya, aktivitas ternak lele ini tak hanya untuk kegiatan ekonomi. Namun, juga untuk olahraga. “Supaya ada aktivitas yang menghasilkan ekonomi,” kata pria empat anak ini.

Kolam lele tersebut ditempatkan di atap rumah karena tidak ada lahan lagi. Dimana saat ini ada sekitar 1000 ikan lele. “Kalau hasilnya bagus, nanti ditambah lagi,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua RW 03 Kel Jatimulyo, Lowokwaru Suprianto menambahkan, warganya dibebaskan untuk berkreasi dalam memaksimalkan potensi yang ada di sekitar. Sehingga, tiap warga menunjukkan karya yang berbeda. “Sebagian besar dananya dari swadaya masyarakat secara sukarela,” imbuhnya.

Pewarta: Intan Refa Septiana, Bayu Mulya Putra

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/