alexametrics
21.4 C
Malang
Friday, 27 May 2022

Kisah Para Mualaf Menjalani Kehidupan Barunya (29)

Asmaul Husna Jadi Kesan Awal, Pilih Berhijab sejak Kelas IV SD

Elfrida Febriola merasa sangat beruntung ketika mendapat hidayah di usianya yang masih belia. Pendalamannya terhadap agama Islam berlangsung lebih lancar. Salah satunya ketika belajar membaca Alquran.

Hidayah datang kepada Elfrida Febriola saat dia mengenal Asmaul Husna. Nama-nama Allah SWT langsung menarik perhatiannya. Diawali dengan ikut menghafalkannya, kemudian berlanjut dengan memahami artinya.

”Saya tertarik dengan Asmaul Husna lantaran melihat artinya yang ternyata mengenakkan dalam hati saya,” kata dia.

Febri–panggilan akrabnya– mengaku bila agama Islam datang kepadanya secara natural. Bukan berangkat dari sebuah paksaan. ”Awalnya dulu sering diajak nenek ke masjid dan ikut-ikut kajian begitu. Itu dulu, saat saya masih TK,” kata dara berusia 13 tahun tersebut.

Saat itu, karena masih kecil, dia mengaku belum punya keinginan untuk menjadi seorang mualaf. Alhasil, beberapa aktivitas keagamaan turut diikutinya.

”Ketika itu ibadahnya dobel. Ya ke masjid, juga ke rumah ibadah sesuai kepercayaan saya sebelumnya,” papar dia tersenyum.

Seiring berjalannya waktu, ada beberapa pertanyaan yang muncul dalam benaknya. Utamanya soal apa itu agama. Pertanyaannya kemudian terjawab ketika dia mendengar lantunan Asmaul Husna. Saat itu dia mengaku bisa merasakan sebuah ketenangan. Dari sanalah dia mengaku sering diam-diam menghafalkannya.

Saat di sekolah, ketika mengikuti kegiatan agama yang dianutnya dulu, dia juga mengaku masih kerap menghafalkan Asmaul Husna. Berkat hal tersebut, dia sempat menggemparkan guru dan teman-temannya di kelas.

”Ketika itu tidak sengaja saya disuruh memimpin doa. Yang saya baca kala itu ya Asmaul Husna. Semua bertanya-tanya, dari mana saya belajarnya,” kata dia sembari menggambarkan suasana ketika itu.

Setelah hafal dan mengerti arti dari nama-nama Allah SWT, dia mulai menggali lebih dalam terkait Islam. Dari proses itu, dia mengaku banyak menemukan keindahan dan ketenangan diri.

”Hebatnya, mereka yang setia berada di jalannya dan patuh kepada perintah agama Islam, oleh Allah SWT akan diberikan keindahan dalam hidup,” kata dia.

Singkat cerita, saat duduk di kelas IV SD, dia meneguhkan diri untuk menjadi seorang mualaf. ”Alhamdulillah ketika itu keluarga bisa menerima pilihan saya. Asalkan saya bersungguh-sungguh,” jelas Febri.

Satu-satunya pihak yang terkejut dengan pilihannya itu adalah teman-temannya di sekolah. Maklum, saat itu dara asli Malang itu langsung mengubah tampilannya dengan mengenakan hijab.

Kini, setelah beberapa tahun menjadi pemeluk agama Islam, Febri mengaku bisa merasakan banyak kenikmatan dalam hidupnya. Hatinya merasa kerap terpanggil ketika mendengar kumandang azan.

”Saat usai salat, rasanya hati ini menjadi tenteram dan tenang seketika,” paparnya.

Lewat salat, Febri juga mengaku bisa curhat semua problem yang dirasakannya kepada Allah SWT. Dari proses itu, kedewasaannya pun mulai tumbuh.

”Jadinya, apabila ada sesuatu yang berjalan tidak sesuai keinginan, masih bisa mengambil sisi positifnya,” kata dia.

Mengenal Islam sedari kecil juga membuat rasa syukurnya meningkat. Sebab, dia merasa tak banyak orang yang mendapatkan hidayah saat masih kecil.

”Kalau masuk Islamnya sudah tua atau berumur, mungkin belajar agamanya lebih susah,” jelas dara asli Malang itu.

Dia mengakui bila belajar agama bukan sesuatu yang mudah. Dibutuhkan kerja keras dan niat yang besar sebelum dan saat memulainya. Khususnya untuk belajar membaca Alquran. Ya, saat ini Febri mengaku tengah intensif belajar membaca Alquran. (*/c1/by/rmc)

Elfrida Febriola merasa sangat beruntung ketika mendapat hidayah di usianya yang masih belia. Pendalamannya terhadap agama Islam berlangsung lebih lancar. Salah satunya ketika belajar membaca Alquran.

Hidayah datang kepada Elfrida Febriola saat dia mengenal Asmaul Husna. Nama-nama Allah SWT langsung menarik perhatiannya. Diawali dengan ikut menghafalkannya, kemudian berlanjut dengan memahami artinya.

”Saya tertarik dengan Asmaul Husna lantaran melihat artinya yang ternyata mengenakkan dalam hati saya,” kata dia.

Febri–panggilan akrabnya– mengaku bila agama Islam datang kepadanya secara natural. Bukan berangkat dari sebuah paksaan. ”Awalnya dulu sering diajak nenek ke masjid dan ikut-ikut kajian begitu. Itu dulu, saat saya masih TK,” kata dara berusia 13 tahun tersebut.

Saat itu, karena masih kecil, dia mengaku belum punya keinginan untuk menjadi seorang mualaf. Alhasil, beberapa aktivitas keagamaan turut diikutinya.

”Ketika itu ibadahnya dobel. Ya ke masjid, juga ke rumah ibadah sesuai kepercayaan saya sebelumnya,” papar dia tersenyum.

Seiring berjalannya waktu, ada beberapa pertanyaan yang muncul dalam benaknya. Utamanya soal apa itu agama. Pertanyaannya kemudian terjawab ketika dia mendengar lantunan Asmaul Husna. Saat itu dia mengaku bisa merasakan sebuah ketenangan. Dari sanalah dia mengaku sering diam-diam menghafalkannya.

Saat di sekolah, ketika mengikuti kegiatan agama yang dianutnya dulu, dia juga mengaku masih kerap menghafalkan Asmaul Husna. Berkat hal tersebut, dia sempat menggemparkan guru dan teman-temannya di kelas.

”Ketika itu tidak sengaja saya disuruh memimpin doa. Yang saya baca kala itu ya Asmaul Husna. Semua bertanya-tanya, dari mana saya belajarnya,” kata dia sembari menggambarkan suasana ketika itu.

Setelah hafal dan mengerti arti dari nama-nama Allah SWT, dia mulai menggali lebih dalam terkait Islam. Dari proses itu, dia mengaku banyak menemukan keindahan dan ketenangan diri.

”Hebatnya, mereka yang setia berada di jalannya dan patuh kepada perintah agama Islam, oleh Allah SWT akan diberikan keindahan dalam hidup,” kata dia.

Singkat cerita, saat duduk di kelas IV SD, dia meneguhkan diri untuk menjadi seorang mualaf. ”Alhamdulillah ketika itu keluarga bisa menerima pilihan saya. Asalkan saya bersungguh-sungguh,” jelas Febri.

Satu-satunya pihak yang terkejut dengan pilihannya itu adalah teman-temannya di sekolah. Maklum, saat itu dara asli Malang itu langsung mengubah tampilannya dengan mengenakan hijab.

Kini, setelah beberapa tahun menjadi pemeluk agama Islam, Febri mengaku bisa merasakan banyak kenikmatan dalam hidupnya. Hatinya merasa kerap terpanggil ketika mendengar kumandang azan.

”Saat usai salat, rasanya hati ini menjadi tenteram dan tenang seketika,” paparnya.

Lewat salat, Febri juga mengaku bisa curhat semua problem yang dirasakannya kepada Allah SWT. Dari proses itu, kedewasaannya pun mulai tumbuh.

”Jadinya, apabila ada sesuatu yang berjalan tidak sesuai keinginan, masih bisa mengambil sisi positifnya,” kata dia.

Mengenal Islam sedari kecil juga membuat rasa syukurnya meningkat. Sebab, dia merasa tak banyak orang yang mendapatkan hidayah saat masih kecil.

”Kalau masuk Islamnya sudah tua atau berumur, mungkin belajar agamanya lebih susah,” jelas dara asli Malang itu.

Dia mengakui bila belajar agama bukan sesuatu yang mudah. Dibutuhkan kerja keras dan niat yang besar sebelum dan saat memulainya. Khususnya untuk belajar membaca Alquran. Ya, saat ini Febri mengaku tengah intensif belajar membaca Alquran. (*/c1/by/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/