alexametrics
30.6 C
Malang
Tuesday, 24 May 2022

Turun 5 Persen, Kota Malang Target Zero Kasus Stunting

RADAR MALANG – Dalam kurun satu tahun belakangan, kasus stunting atau tumbuh kembang yang tidak sesuai dengan usia pada anak di Kota Malang turun signifikan. Tahun lalu jumlah bayi di Kota Malang yang mengalami stunting mencapai 14,28 persen. Namun tahun ini, prevalensi tersebut turun jadi 9,9 persen.

Penurunan tersebut sesuai dengan Rencana Strategis (Renstra) Kota Malang 2018-2023 yang menargetkan angka stunting di bawah 13 persen. Dengan capaian 9,9 persen, artinya ada 1.600 stunting dari 16 ribu anak yang lahir per tahun. Tahun lalu, tercatat masih ada sekitar 5 ribu anak yang mengalami stunting.

Angka penurunan stunting didapatkan Dinkes Kota Malang dari pendataan bulan Agustus lalu. Beberapa bulan sebelumnya, mereka melakukan pengukuran dan evaluasi di tiap puskesmas. Hasilnya, bayi yang lahir maupun anak masa tumbuh dalam kondisi stunting. “Alhamdulillah stunting bisa ditekan, tapi tetap kami upayakan terus menurun agar tumbuh kembang anak bisa proporsional,” kata Kepala Dinkes Kota Malang dr Husnul Muarif.

Penurunan angka stunting itu juga melampaui batas maksimal dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) yakni sekitar 20 persen. Menurut Husnul, kasus stunting di Kota Malang saat ini tergolong kasus ringan. Hal itu berdasarkan intervensi yang telah dilakukan. Hasilnya, baik intervensi spesifik maupun sensitif menunjukkan kasus stunting di Kota Malang telah menurun.

Mantan Direktur RSUD Kota Malang itu menilai, kasus stunting disebabkan berat badan yang tidak naik dalam beberapa kali penimbangan. Lalu perbandingan antara usia dan tinggi badan anak usia 1-5 tahun juga tidak sesuai. Dinkes pun optimistis ke depan bisa menekan stunting hingga zero kasus.

“Selama kehamilan kita pantau. Ada pemeriksaan hingga 6 kali selama masa kehamilan. Jadi berapa berat janin, detak jantung berapa itu kami pantau. Ini kita lakukan sampai bayi baru lahir,” papar Husnul.

Sementara itu, langkah intervensi yang dilakukan Dinkes untuk menurunkan angka stunting terlihat di Puskesmas Rampal Celaket. Di sana, sebanyak 11 anak telah diselamatkan dari stunting. Jumlah itu menurun jika dibanding tahun lalu. “Tahun 2020 cukup tinggi sekitar dua kali lipat dari sekarang (2021),” tegas Kepala Puskesmas Rampal Celaket dr M. Ali Syahib.

Dia menambahkan, rata-rata anak yang mengalami stunting berusia 5-8 tahun. Sementara untuk usia di bawah 5 tahun hanya ada 5 bayi.

Sejumlah upaya dilakukan seperti intervensi kondisi status gizi anak. “Bisa dari program promkes, kesling, serta konseling pengobatan secara daring,” tandas Syahib. (adn/nay/rmc)

RADAR MALANG – Dalam kurun satu tahun belakangan, kasus stunting atau tumbuh kembang yang tidak sesuai dengan usia pada anak di Kota Malang turun signifikan. Tahun lalu jumlah bayi di Kota Malang yang mengalami stunting mencapai 14,28 persen. Namun tahun ini, prevalensi tersebut turun jadi 9,9 persen.

Penurunan tersebut sesuai dengan Rencana Strategis (Renstra) Kota Malang 2018-2023 yang menargetkan angka stunting di bawah 13 persen. Dengan capaian 9,9 persen, artinya ada 1.600 stunting dari 16 ribu anak yang lahir per tahun. Tahun lalu, tercatat masih ada sekitar 5 ribu anak yang mengalami stunting.

Angka penurunan stunting didapatkan Dinkes Kota Malang dari pendataan bulan Agustus lalu. Beberapa bulan sebelumnya, mereka melakukan pengukuran dan evaluasi di tiap puskesmas. Hasilnya, bayi yang lahir maupun anak masa tumbuh dalam kondisi stunting. “Alhamdulillah stunting bisa ditekan, tapi tetap kami upayakan terus menurun agar tumbuh kembang anak bisa proporsional,” kata Kepala Dinkes Kota Malang dr Husnul Muarif.

Penurunan angka stunting itu juga melampaui batas maksimal dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) yakni sekitar 20 persen. Menurut Husnul, kasus stunting di Kota Malang saat ini tergolong kasus ringan. Hal itu berdasarkan intervensi yang telah dilakukan. Hasilnya, baik intervensi spesifik maupun sensitif menunjukkan kasus stunting di Kota Malang telah menurun.

Mantan Direktur RSUD Kota Malang itu menilai, kasus stunting disebabkan berat badan yang tidak naik dalam beberapa kali penimbangan. Lalu perbandingan antara usia dan tinggi badan anak usia 1-5 tahun juga tidak sesuai. Dinkes pun optimistis ke depan bisa menekan stunting hingga zero kasus.

“Selama kehamilan kita pantau. Ada pemeriksaan hingga 6 kali selama masa kehamilan. Jadi berapa berat janin, detak jantung berapa itu kami pantau. Ini kita lakukan sampai bayi baru lahir,” papar Husnul.

Sementara itu, langkah intervensi yang dilakukan Dinkes untuk menurunkan angka stunting terlihat di Puskesmas Rampal Celaket. Di sana, sebanyak 11 anak telah diselamatkan dari stunting. Jumlah itu menurun jika dibanding tahun lalu. “Tahun 2020 cukup tinggi sekitar dua kali lipat dari sekarang (2021),” tegas Kepala Puskesmas Rampal Celaket dr M. Ali Syahib.

Dia menambahkan, rata-rata anak yang mengalami stunting berusia 5-8 tahun. Sementara untuk usia di bawah 5 tahun hanya ada 5 bayi.

Sejumlah upaya dilakukan seperti intervensi kondisi status gizi anak. “Bisa dari program promkes, kesling, serta konseling pengobatan secara daring,” tandas Syahib. (adn/nay/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/