alexametrics
25C
Malang
Tuesday, 19 January 2021
ads1

Banjir Datang, Proyek Jacking Pemkot Malang Masih Ngambang

MALANG KOTA – Musibah banjir kala musim hujan datang masih menjadi masalah yang tak kunjung beres di Kota Malang. Padahal, sudah banyak proyek yang dikerjakan Pemkot Malang setiap tahunnya. Mulai dari perbaikan drainase, pengerukan sedimen sungai hingga membuat sudetan gorong-gorong di sana-sini. Tapi nyatanya, banjir masih terjadi di beberapa wilayah di Kota Malang.

Salah satu ’jurus’ prestisius Pemkot Malang yang sering tergiang adalah proyek jacking, yakni pembuatan terowongan drainase berukuran jumbo di bawah tanah. Proyek ini dipersiapkan sejak 2013 lalu untuk menanggulangi banjir di lima titik, yakni di Gading Kasri, perempatan Jalan Galunggung, kawasan Pulosari, Jalan Terusan Dieng, dan Jalan Bondowoso. Selama 7 tahun terakhir proyek itu belum bisa dituntaskan.

Wali Kota Malang Sutiaji menyebut bahwa saat ini proyek ”penangkal” banjir itu masih tetap berkutat pada proses hukum. Dia menyebut bila kasusnya kini berada dalam tahap pengajuan ke Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI). ”Jacking kami masih menunggu, itu kan urusan kurator, jadi kurator itu mengajukan ke BANI,” kata dia.

Dalam sengketa itu, Pemkot Malang tetap mendapat gugatan untuk melakukan pembayaran proyek kepada PT Citra Gading Asritama (CGA). Nominalnya Rp 14,5 miliar.

Sutiaji mengatakan bahwa hingga saat ini belum ada keputusan terkait hal tersebut. ”Kalau kami punya utang ya harus bayar, tapi perintah siapa? Ini belum ada keputusan, karena hasil banding di PN (pengadilan negeri) menyatakan ini salah alamat,” kata dia. Untuk itu, saat ini pihaknya masih menunggu keputusan dari BANI, apakah Pemkot Malang harus membayar nominal tersebut atau tidak.

Atas pengajuan kurator ke BANI itu, untuk bisa dilakukan persidangan, pihak tergugat dan penggugat harus melakukan pembiayaan terlebih dahulu. Kabarnya, jaminan pembiayaan tersebut senilai Rp 600 juta. Hingga saat ini Pemkot Malang masih menunggu langkah kurator terhadap jaminan pembiayaan sidang tersebut.

Masih belum selesainya proses hukum tersebut membuat Pemkot Malang belum memasukkan drainase sistem jacking dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2021. Jika proses hukum tersebut bisa diselesaikan tahun ini, tidak menutup kemungkinan Pemkot Malang bakal melanjutkan proyek tersebut.

Di sisi lain, Sutiaji juga memastikan bila langkah lain untuk mengurai problem banjir tetap akan dilakukan pihaknya di tahun ini. Sebagai awalan, kemarin (13/1) dia turut meninjau lokasi longsor di Jalan Raya Bandulan serta ambrolnya jembatan di Jalan Bandulan Baru. Pengecekan juga dilakukan di Arjowinangun, tepatnya di Jalan Mayjen Sungkono. Sutiaji menyebutkan bahwa curah hujan yang tinggi menjadi penyebab ambrolnya jembatan yang dibangun oleh warga tersebut. ”Ini sudah keropos dan roboh sehingga harus dibenahi, material sudah datang, secepatnya akan diperbaiki,” kata Sutiaji.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPRPKP) Kota Malang Hadi Santoso menambahkan, fokus terdekat menangani problem permasalahan banjir bakal diarahkan ke Jalan I. R. Rais Gang 2A. ”Karena permukimannya terletak di samping saluran sungai. Kami carikan solusi teknis, mudah-mudahan air tidak menggenangi lagi,” kata dia. Rencananya, pihaknya akan membuat sudetan langsung ke Kali Kasin serta gorong-gorong di bawah gang kawasan tersebut.

Sementara itu, terkait rencana penanganan banjir, Ketua DPRD Kota Malang I Made Rian Diana Kartika juga memastikan tahun ini pembangunan drainase sistem jacking tidak dianggarkan dalam APBD 2021. Alasannya sama seperti yang disampaikan Sutiaji. Yakni proses hukum dari kasus itu yang sampai saat ini belum selesai. Meski begitu, pihaknya memastikan bahwa penanganan banjir tetap harus menjadi prioritas. Secara khusus, Made mengaku sudah meminta DPUPRPKP Kota Malang untuk menjadikan banjir sebagai prioritas dalam pembangunan.

”Kami saat ini terus meminta komisi C untuk sidak ke kawasan-kawasan terdampak banjir. Agar kami juga dapat memberikan gambaran kepada DPUPRPKP soal mana saja yang bisa menjadi prioritas,” kata Made. Selanjutnya, dalam waktu dekat pihaknya juga akan melakukan hearing bersama dengan DPUPRPKP. Keseriusan tersebut cukup beralasan, sebab problem banjir tetap tersaji ketika turun hujan lebat.

Contohnya tersaji Selasa lalu (12/1), saat beberapa titik di Kota Malang tergenang air. Seperti di Jalan Mayjen Sungkono, Jalan I. R. Rais, Jalan Raya Bandulan, Jalan Dieng, Jalan Dieng Atas, Jalan Langsep, dan Jalan Mas Jupri. Tidak hanya banjir dan genangan air, hujan lebat juga sempat menimbulkan longsor di Jalan Raya Bandulan serta ambrolnya jembatan di Jalan Bandulan Baru. (rmc/arl/and/by)

- Advertisement -
- Advertisement -

Artikel Terbaru

Wajib Dibaca