alexametrics
25.1 C
Malang
Sunday, 25 July 2021

PT CKS Klaim Semua Prosedur Pelatihan Berstandart Internasional

MALANG KOTA – Adanya tuduhan mengenai pelecehan seksual dan perampasan handphone ditampik PT Central Karya Semesta (CKS) dalam konferensi pers yang mereka gelar Selasa (15/6). Mereka menjelaskan bahwa seluruh prosedur yang mereka lakukan berpedoman pada standart internasional.

Kepala Cabang PT CKS Imelda Indrawati Kesuma mengatakan bahwa perampasan handphone merupakan aturan dasar yang harus dipatuhi oleh pekerja ketika belajar di sebuah lembaga pendidikan.

”Menggunakan handphone memang harus dibatasi agar para PMI ini bisa fokus saat menerima pembelajaran dan itu hal yang umum ketika mengikuti sebuah institusi pendidikan,” ujar Imelda.

Selain itu, dia juga tidak membenarkan atas adanya tuduhan pelecehan seksual dengan menurunkan celana yang dialami oleh salah satu calon TKI.

”Kejadian sebenarnya adalah TKI ini menggunakan celana yang sangat pendek hingga pakaian dalamnya kelihatan, dan salah satu staf kami berinisiatif untuk menurunkan sedikit agar ditutup,” tambahnya.

Lebih lanjut dia juga menerangkan bahwa kejadian tersebut dilakukan agar TKI tersebut bisa menutupi pakaian dalamnya dan tidak sampai ke bawah.

”Pakaian itu harusnya yang sopan, kami mengajarkan karakter. Berpakaian, bekerja itu semua harus sesuai dengan aturan karena kami memakai standar internasional,” tambahnya.

Melalui kuasa hukumnya Gunadi Handoko, PT CKS menilai bahwa ada provokator yang mempengaruhi 5 calon TKI untuk kabur.

”Kami sudah menyerahkan seluruh bukti kepada penyidik untuk mendalami kasus kaburnya 5 calon TKI tersebut,” ujar Gunadi.

Pewarta : M. Ubaidillah

MALANG KOTA – Adanya tuduhan mengenai pelecehan seksual dan perampasan handphone ditampik PT Central Karya Semesta (CKS) dalam konferensi pers yang mereka gelar Selasa (15/6). Mereka menjelaskan bahwa seluruh prosedur yang mereka lakukan berpedoman pada standart internasional.

Kepala Cabang PT CKS Imelda Indrawati Kesuma mengatakan bahwa perampasan handphone merupakan aturan dasar yang harus dipatuhi oleh pekerja ketika belajar di sebuah lembaga pendidikan.

”Menggunakan handphone memang harus dibatasi agar para PMI ini bisa fokus saat menerima pembelajaran dan itu hal yang umum ketika mengikuti sebuah institusi pendidikan,” ujar Imelda.

Selain itu, dia juga tidak membenarkan atas adanya tuduhan pelecehan seksual dengan menurunkan celana yang dialami oleh salah satu calon TKI.

”Kejadian sebenarnya adalah TKI ini menggunakan celana yang sangat pendek hingga pakaian dalamnya kelihatan, dan salah satu staf kami berinisiatif untuk menurunkan sedikit agar ditutup,” tambahnya.

Lebih lanjut dia juga menerangkan bahwa kejadian tersebut dilakukan agar TKI tersebut bisa menutupi pakaian dalamnya dan tidak sampai ke bawah.

”Pakaian itu harusnya yang sopan, kami mengajarkan karakter. Berpakaian, bekerja itu semua harus sesuai dengan aturan karena kami memakai standar internasional,” tambahnya.

Melalui kuasa hukumnya Gunadi Handoko, PT CKS menilai bahwa ada provokator yang mempengaruhi 5 calon TKI untuk kabur.

”Kami sudah menyerahkan seluruh bukti kepada penyidik untuk mendalami kasus kaburnya 5 calon TKI tersebut,” ujar Gunadi.

Pewarta : M. Ubaidillah

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru