alexametrics
21.4 C
Malang
Tuesday, 5 July 2022

Forikan Ajak Makan Ikan, Stunting Berkurang

MALANG KOTA – Forum Peningkatan Konsumsi Ikan (Forikan) punya terobosan untuk menekan angkat stunting (pertumbuhan terhambat) hingga pengentasan kemiskinan. Salah satu terobosannya adalah, menerjunkan guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) untuk mengampanyekan pentingnya mengonsumsi ikan.

Terobosan itu disampaikan ketua Forikan Kota Malang Widayati Sutiaji, kemarin (14/6). Di sela-sela kegiatan Gerakan Masyarakat Makan Ikan (Gemarikan) di gedung Kartini kemarin, Widayati memaparkan strateginya. ”Harapannya, guru PAUD menyosialisasikan kepada anak-anak agar mereka gemar makan ikan,” ujar Widayati yang juga merangkap Ketua TP PKK Kota Malang itu.

Dia memaparkan, total ada 154 satuan PAUD yang dilibatkan dalam misi mengampanyekan gerakan makan ikan itu. Ratusan PAUD tersebut tergabung dalam Pendidikan Insan Bermartabat (PIB).

Ketika mengajar, lanjut Widayati, para guru PAUD tersebut memaparkan pentingnya makan ikan melalui dogeng atau cerita. ”Dengan keterlibatan guru PAUD, anak-anak mendapatkan pendidikan tapi serasa bermain,” tutur Widayati.

Dengan mengonsumsi ikan, katanya, siswa menjadi cerdas, sehingga berpotensi menekan angka kemiskinan di Kota Malang. Selain itu, juga diharapkan bisa menekan angka stunting di Kota Malang. ” Kalau anak-anak gemar makan ikan, Insya Allah kemiskinan bisa terkikis,” tuturnya.

Berkat inovasinya melibatkan guru PAUD dalam mengampanyekan pentingnya mengonsumsi ikan, Widayati menyebut berhasil menekan kasus stunting. Ketika dia pertama kali menjabat ketua Forikan pada 2018 lalu, kasus stunting di Kota Malang mencapai 18 persen lebih. ”Alhamdulillah, tiap tahun ada penurunan. Saat bulan timbang pada Februari 2022 lalu, jumlah kasus stunting menyusut menjadi 9,3 persen,” kata dia.

Meski mampu menekan kasus stunting, Widayati belum puas. Sebab angka gemar ikan di Kota Malang masih di bawah provinsi dan nasional. ”Sesuai yang dipresentasikan bapak tadi (Wali Kota Malang Sutiaji), angka gemar ikan kita masih 36,14 persen,” katanya.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Wali Kota Malang Sutiaji. Dia menjelaskan, angka ideal untuk tingkat gemar ikan adalah 70 persen. Jumlah itu merupakan komparasi dengan Jepang yang sudah mencapai tingkat gemar ikan di angka 75 persen.

Pihaknya yakin pada tahun ini ada peningkatan tingkat gemar ikan pada masyarakat demi menambah kecerdasan otak dan menurunkan angka stunting pada anak. ”Pertumbuhan anak itu bisa baik dan ke depan kita bisa menyongsong Indonesia emas pada 2045,” jelasnya. (adn/dan)

MALANG KOTA – Forum Peningkatan Konsumsi Ikan (Forikan) punya terobosan untuk menekan angkat stunting (pertumbuhan terhambat) hingga pengentasan kemiskinan. Salah satu terobosannya adalah, menerjunkan guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) untuk mengampanyekan pentingnya mengonsumsi ikan.

Terobosan itu disampaikan ketua Forikan Kota Malang Widayati Sutiaji, kemarin (14/6). Di sela-sela kegiatan Gerakan Masyarakat Makan Ikan (Gemarikan) di gedung Kartini kemarin, Widayati memaparkan strateginya. ”Harapannya, guru PAUD menyosialisasikan kepada anak-anak agar mereka gemar makan ikan,” ujar Widayati yang juga merangkap Ketua TP PKK Kota Malang itu.

Dia memaparkan, total ada 154 satuan PAUD yang dilibatkan dalam misi mengampanyekan gerakan makan ikan itu. Ratusan PAUD tersebut tergabung dalam Pendidikan Insan Bermartabat (PIB).

Ketika mengajar, lanjut Widayati, para guru PAUD tersebut memaparkan pentingnya makan ikan melalui dogeng atau cerita. ”Dengan keterlibatan guru PAUD, anak-anak mendapatkan pendidikan tapi serasa bermain,” tutur Widayati.

Dengan mengonsumsi ikan, katanya, siswa menjadi cerdas, sehingga berpotensi menekan angka kemiskinan di Kota Malang. Selain itu, juga diharapkan bisa menekan angka stunting di Kota Malang. ” Kalau anak-anak gemar makan ikan, Insya Allah kemiskinan bisa terkikis,” tuturnya.

Berkat inovasinya melibatkan guru PAUD dalam mengampanyekan pentingnya mengonsumsi ikan, Widayati menyebut berhasil menekan kasus stunting. Ketika dia pertama kali menjabat ketua Forikan pada 2018 lalu, kasus stunting di Kota Malang mencapai 18 persen lebih. ”Alhamdulillah, tiap tahun ada penurunan. Saat bulan timbang pada Februari 2022 lalu, jumlah kasus stunting menyusut menjadi 9,3 persen,” kata dia.

Meski mampu menekan kasus stunting, Widayati belum puas. Sebab angka gemar ikan di Kota Malang masih di bawah provinsi dan nasional. ”Sesuai yang dipresentasikan bapak tadi (Wali Kota Malang Sutiaji), angka gemar ikan kita masih 36,14 persen,” katanya.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Wali Kota Malang Sutiaji. Dia menjelaskan, angka ideal untuk tingkat gemar ikan adalah 70 persen. Jumlah itu merupakan komparasi dengan Jepang yang sudah mencapai tingkat gemar ikan di angka 75 persen.

Pihaknya yakin pada tahun ini ada peningkatan tingkat gemar ikan pada masyarakat demi menambah kecerdasan otak dan menurunkan angka stunting pada anak. ”Pertumbuhan anak itu bisa baik dan ke depan kita bisa menyongsong Indonesia emas pada 2045,” jelasnya. (adn/dan)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/