alexametrics
21.3 C
Malang
Friday, 27 May 2022

Kenalkan Budaya Sejak Dini, Guru dan Murid di Malang Melukis Bareng

MALANG KOTA – Beginilah cara mengajarkan budaya lokal dengan cara menyenangkan. Yakni melalui lomba melukis bagi pelajar dan guru PAUD se-Kota Malang. Sebanyak 300 peserta yang terdiri dari pelajar dan guru se-Kota Malang memadati Museum Pendidikan Indonesia siang kemarin (14/10).

Mereka nampak serius melukis di media payung dan jaranan. Dengan goresan cat acrylic dan kuas, mereka berhati-hati mempercantik hasil karya untuk merebut juara pertama. Karena masih masa pandemi, semua peserta wajib menerapkan protokol kesehatan ketat.

Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang Dian Kuntari mengatakan, kegiatan tersebut merupakan lomba untuk mengenalkan budaya Malangan. Dia sengaja memilih guru dari PAUD dan pelajar SD-SMP untuk mengenal dan menularkan budaya Malangan kepada siapa saja. Budaya yang dikenalkan seperti jaranan Malangan menurutnya saat ini jarang diketahui oleh orang. Bahkan warga Malang sendiri masih banyak yang tidak tahu. Sehingga guru dari PAUD dan pelajar SD-SMP bisa mengenal apa saja budaya Malangan. Termasuk jaranan.

“Dari lomba ini kami coba kemas mereka tahu Kota Malang punya kebudayaan sendiri, apalagi jaranan Malangan,” katanya.

Wanita berhijab itu juga mendatangkan seniman jaranan dan pelukis kayu. Mereka nampak mengamati hasil karya peserta untuk dinilai. Bahkan sesekali dari mereka mendapat ilmu tentang filosofi kesenian jaranan.

Pada kesempatan tersebut, juga terdapat sejumlah siswa berkebutuhan khusus. Mereka juga mendapat fasilitas sama untuk mengenal budaya Malangan.

“Mereka kami ajak juga sebagai refreshing tidak jenuh belajar di rumah maupun sekolah,” ucap Dian.

Vania Saski, siswi kelas 6 SDN Kasin yang mengikuti lomba tersebut merasa bahagia. Dia yang hobi menggambar menuangkan pikiran dalam sebuah kertas. Gambar jaranan dipilih karena menggambarkan salah satu budaya Malangan.

“Saya sudah buat gambar jaranan ini lalu diwarna dengan cat acrylic,” katanya.

Vania juga senang bisa mengetahui budaya Malangan. Dia pun tak asing lantaran kerap menonton di beberapa acara. Bagi Vania, belajar budaya Malangan perlu ada di sekolah sebagai ilmu melestarikan budaya lokal. (and/abm/rmc)

MALANG KOTA – Beginilah cara mengajarkan budaya lokal dengan cara menyenangkan. Yakni melalui lomba melukis bagi pelajar dan guru PAUD se-Kota Malang. Sebanyak 300 peserta yang terdiri dari pelajar dan guru se-Kota Malang memadati Museum Pendidikan Indonesia siang kemarin (14/10).

Mereka nampak serius melukis di media payung dan jaranan. Dengan goresan cat acrylic dan kuas, mereka berhati-hati mempercantik hasil karya untuk merebut juara pertama. Karena masih masa pandemi, semua peserta wajib menerapkan protokol kesehatan ketat.

Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang Dian Kuntari mengatakan, kegiatan tersebut merupakan lomba untuk mengenalkan budaya Malangan. Dia sengaja memilih guru dari PAUD dan pelajar SD-SMP untuk mengenal dan menularkan budaya Malangan kepada siapa saja. Budaya yang dikenalkan seperti jaranan Malangan menurutnya saat ini jarang diketahui oleh orang. Bahkan warga Malang sendiri masih banyak yang tidak tahu. Sehingga guru dari PAUD dan pelajar SD-SMP bisa mengenal apa saja budaya Malangan. Termasuk jaranan.

“Dari lomba ini kami coba kemas mereka tahu Kota Malang punya kebudayaan sendiri, apalagi jaranan Malangan,” katanya.

Wanita berhijab itu juga mendatangkan seniman jaranan dan pelukis kayu. Mereka nampak mengamati hasil karya peserta untuk dinilai. Bahkan sesekali dari mereka mendapat ilmu tentang filosofi kesenian jaranan.

Pada kesempatan tersebut, juga terdapat sejumlah siswa berkebutuhan khusus. Mereka juga mendapat fasilitas sama untuk mengenal budaya Malangan.

“Mereka kami ajak juga sebagai refreshing tidak jenuh belajar di rumah maupun sekolah,” ucap Dian.

Vania Saski, siswi kelas 6 SDN Kasin yang mengikuti lomba tersebut merasa bahagia. Dia yang hobi menggambar menuangkan pikiran dalam sebuah kertas. Gambar jaranan dipilih karena menggambarkan salah satu budaya Malangan.

“Saya sudah buat gambar jaranan ini lalu diwarna dengan cat acrylic,” katanya.

Vania juga senang bisa mengetahui budaya Malangan. Dia pun tak asing lantaran kerap menonton di beberapa acara. Bagi Vania, belajar budaya Malangan perlu ada di sekolah sebagai ilmu melestarikan budaya lokal. (and/abm/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/