alexametrics
20.5 C
Malang
Tuesday, 24 May 2022

Pelaku Pembunuhan di Malang Ini Ungkap Alasan Gunakan Palu

MALANG KOTA – Sejumlah fakta muncul dalam sidang lanjutan kasus pembunuhan dengan terdakwa Mohammad Imron, 18, warga Desa Sidomulyo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang yang digelar PN Malang secara online, kemarin (15/2). Sidang dengan agenda pemeriksaan terdakwa tersebut, mengungkap alasan tersangka membawa palu ke kamar mes. Pegawai Bengkel AC Family, Blimbing Kota Malang ini niat awalnya membawa pulang palu tersebut ke rumah, bukan untuk menghabisi korban.

Dalam sidang yang digelar secara online tersebut, terdakwa mengaku palu yang dipakai untuk menghabisi korban, Redi Setyo, 20, akan dibawa pulang ke rumahnya di Jabung. Jaksa Penuntut Umum Hanis Aristya Hermawan SH mengatakan, dalam persidangan itu Imron mengaku membunuh rekan kerjanya pada 2 September itu karena kesal. “Murni karena kesal sering diolok-olok oleh korban, jadi siang di-bully, setelah maghrib membunuh,” kata dia. Diketahui bila terdakwa membunuh korban dengan menggunakan palu. Empat pukulan diayunkan untuk mengantar Redi menemui ajal.

Tentang keberadaan palu, terdakwa menyatakan awalnya tidak berada di kamar mes. “Jadi palunya itu dia temukan tergeletak di dapur, namun demikian tidak jelas siapa yang membawa ke sana, dimana semestinya ada di rak yang jaraknya sekitar 20 meter,” beber dia.

Terdakwa mengaku bahwa melihat palu itu berserakan di dapur di lantas membawanya ke kamar. Tapi bukan untuk membunuh korban, tersangka berniat membawa pulang ke rumahnya di Jabung ke esokan harinya. “Jadi bukan ambil palu langsung membunuh, tapi palu itu ditemukannya pagi harinya. Rencananya mau dibawa pulang ke Jabung,” imbuhnya.

Sayangnya, cekcok dengan korban mengurungkan niat terdakwa membawa palu itu ke kampung tanpa bekas darah. “Siangnya cekcok, akhirnya malam pelaku membunuh korban karena dendam,” kata Hanis, sapaan karibnya. Karena rencana membawa pulang itu, ancaman pun berubah. Bila saat rekonstruksi tercetus pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana, menjadi 338 KUHP pembunuhan biasa dengan ancaman kurungan 15 tahun. “Ini pembunuhan biasa, karena memang selain dari terdakwa, rekan lain di tempat kerja membenarkan bahwa dia ambil palunya pagi, jauh sebelum pemukulan,” tutup dia.

Pewarta: Biyan M

MALANG KOTA – Sejumlah fakta muncul dalam sidang lanjutan kasus pembunuhan dengan terdakwa Mohammad Imron, 18, warga Desa Sidomulyo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang yang digelar PN Malang secara online, kemarin (15/2). Sidang dengan agenda pemeriksaan terdakwa tersebut, mengungkap alasan tersangka membawa palu ke kamar mes. Pegawai Bengkel AC Family, Blimbing Kota Malang ini niat awalnya membawa pulang palu tersebut ke rumah, bukan untuk menghabisi korban.

Dalam sidang yang digelar secara online tersebut, terdakwa mengaku palu yang dipakai untuk menghabisi korban, Redi Setyo, 20, akan dibawa pulang ke rumahnya di Jabung. Jaksa Penuntut Umum Hanis Aristya Hermawan SH mengatakan, dalam persidangan itu Imron mengaku membunuh rekan kerjanya pada 2 September itu karena kesal. “Murni karena kesal sering diolok-olok oleh korban, jadi siang di-bully, setelah maghrib membunuh,” kata dia. Diketahui bila terdakwa membunuh korban dengan menggunakan palu. Empat pukulan diayunkan untuk mengantar Redi menemui ajal.

Tentang keberadaan palu, terdakwa menyatakan awalnya tidak berada di kamar mes. “Jadi palunya itu dia temukan tergeletak di dapur, namun demikian tidak jelas siapa yang membawa ke sana, dimana semestinya ada di rak yang jaraknya sekitar 20 meter,” beber dia.

Terdakwa mengaku bahwa melihat palu itu berserakan di dapur di lantas membawanya ke kamar. Tapi bukan untuk membunuh korban, tersangka berniat membawa pulang ke rumahnya di Jabung ke esokan harinya. “Jadi bukan ambil palu langsung membunuh, tapi palu itu ditemukannya pagi harinya. Rencananya mau dibawa pulang ke Jabung,” imbuhnya.

Sayangnya, cekcok dengan korban mengurungkan niat terdakwa membawa palu itu ke kampung tanpa bekas darah. “Siangnya cekcok, akhirnya malam pelaku membunuh korban karena dendam,” kata Hanis, sapaan karibnya. Karena rencana membawa pulang itu, ancaman pun berubah. Bila saat rekonstruksi tercetus pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana, menjadi 338 KUHP pembunuhan biasa dengan ancaman kurungan 15 tahun. “Ini pembunuhan biasa, karena memang selain dari terdakwa, rekan lain di tempat kerja membenarkan bahwa dia ambil palunya pagi, jauh sebelum pemukulan,” tutup dia.

Pewarta: Biyan M

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/