alexametrics
22.4 C
Malang
Tuesday, 17 May 2022

PFI Malang Gelar Talk Show dan Bedah Buku Foto “Ibu” bersama Trisnadi Marjan

RADAR MALANG-Pewarta Foto Indonesia (PFI) Malang menggelar Bedah buku “Ibu” karya Trisnadi Marjan dan Fatimatuz Zahroh, Senin (14/02/2022). Bertempat di Ruang Arjuna Bakorwil III Malang, tak kurang dari 60 peserta hadir mengikuti acara tersebut.

Ketua PFI Malang, Darmono dalam sambutannya mengungkapkan bahwa kegiatan bedah buku “Ibu” dilangsungkan bertepatan dengan hari kasih sayang. “Di hari kasih sayang ini kita akan membedah isi buku “Ibu”. Ibu yang punya kasih sayang sepanjang masa,” ungkap Darmono.

Darmono menyebut, saat ini semua orang bisa punya kamera dan semua orang bisa membuat foto. Namun, tidak semua bisa menghasilkan foto yang bermakna. “The man behind the gun adalah lebih utama dari alat. Mas Trus membuktikan sebagai seorang fotografer profesional mampu membuat karya-karya foto yang keren dan sarat makna,” sebutnya.

Fotografer dan penulis buku “Ibu”, Trisnadi Marjan mengungkapkan bahwa buku foto tersebut menceritakan sosok “Ibu” dari Khofifah Indar Parawansa. Pria yang akrab disapa Tris ini mengatakan terinspirasi menjadikan buku foto setelah mengikuti perjalanan Khofifah saat bertugas.

“Adanya kebanggaan tersendiri dari sang pemotret bisa mengikuti perjalanan Bu Khofifah. Sosoknya yang dianggap gesit oleh Jokowi karena kinerjanya yang cepat tanggap sebelum diperintahkan sangat inspiratif,” ungkap Trisnadi.

Trisnadi mengaku sudah mengikuti agenda Khofifah sejak 2008. “Sejak Bu Khofifah pencalonan gubernur pertama hingga jadi Menteri Sosial RI.vBuku ini tidak ada kaitannya dengan politik. Buku “Ibu” ini jauh dari politik, launching ini pun di tahun yang tidak ada agenda politik,” tegasnya.

Trisnadi berharap, sosok perempuan hebat yang bekerja sekaligus menjalankan peran sebagai ibu yang tercermin dalam foto-fotonya bisa menginspirasi. “Semoga buku ini nantinya bisa menjadi inspirasi bagi perempuan muda milenial menjadi Khofifah-Khofifah lain yang seperti saya gambarkan di buku ini,” urainya.

Dalam pengantarnya, penulis buku, Fatimatuz Zahroh berharap buku ini bisa membawa manfaat dan inspirasi bagi semua pembaca. “Suatu kebanggaan bagi saya untuk ikut berkontribusi menulis untuk buku ‘Ibu Khofifah Indar Parawansa’ yang merupakan buku foto karya Trisnadi Marjan,” ungkapnya.

Buku “Ibu” mendapatkan sejumlah apresiasi dari tokoh-tokoh nasional. Dr (HC) Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid M.Hum mengungkap bahwa foto sebagai sumber sejarah dan inspirasi. Dalam kata pengantar buku “Ibu”, Sinta Nuriyah menyebut bahwa foto merupakan bagian dari jejak kehidupan seseorang yang bisa dilihat sebagai arsip yang bobotnya sama dengan dokumen tertulis: naskah, surat, kontrak dan sejenisnya.

Foto memiliki peran penting untuk membuktikan suatu peristiwa sejarah suatu bangsa. “Bukti-bukti tekstual akan menjadi semakin kuat dengan adanya foto,” tulis Sinta Nuriyah.

Kurator fotografi dari Mata Waktu Foundation, Oscar Motuloh dalam pengantarnya menuliskan bahwa pesan visual yang terngiang dari penerbitan buku foto ini adalah betapa sudut pandang fotografi jurnalistik tetap menjadi landasan utama dalam mengemukakan sebentuk kesaksian.

“Suatu pendekatan yang pas dalam menjawab zaman gadget yang cuek, di mana berita mainstream tak lagi menjadi acuan mendasar dalam mengungkap kebenaran. Padahal fotografi jurnalistik dalam bentuk fundamentalnya tak sekadar berfungsi sebagai mata dunia. Namun juga menjadi cahaya yang inspiratif untuk peradaban dan kemanusiaan,” tulis Oscar Motuloh.(*/mas)

RADAR MALANG-Pewarta Foto Indonesia (PFI) Malang menggelar Bedah buku “Ibu” karya Trisnadi Marjan dan Fatimatuz Zahroh, Senin (14/02/2022). Bertempat di Ruang Arjuna Bakorwil III Malang, tak kurang dari 60 peserta hadir mengikuti acara tersebut.

Ketua PFI Malang, Darmono dalam sambutannya mengungkapkan bahwa kegiatan bedah buku “Ibu” dilangsungkan bertepatan dengan hari kasih sayang. “Di hari kasih sayang ini kita akan membedah isi buku “Ibu”. Ibu yang punya kasih sayang sepanjang masa,” ungkap Darmono.

Darmono menyebut, saat ini semua orang bisa punya kamera dan semua orang bisa membuat foto. Namun, tidak semua bisa menghasilkan foto yang bermakna. “The man behind the gun adalah lebih utama dari alat. Mas Trus membuktikan sebagai seorang fotografer profesional mampu membuat karya-karya foto yang keren dan sarat makna,” sebutnya.

Fotografer dan penulis buku “Ibu”, Trisnadi Marjan mengungkapkan bahwa buku foto tersebut menceritakan sosok “Ibu” dari Khofifah Indar Parawansa. Pria yang akrab disapa Tris ini mengatakan terinspirasi menjadikan buku foto setelah mengikuti perjalanan Khofifah saat bertugas.

“Adanya kebanggaan tersendiri dari sang pemotret bisa mengikuti perjalanan Bu Khofifah. Sosoknya yang dianggap gesit oleh Jokowi karena kinerjanya yang cepat tanggap sebelum diperintahkan sangat inspiratif,” ungkap Trisnadi.

Trisnadi mengaku sudah mengikuti agenda Khofifah sejak 2008. “Sejak Bu Khofifah pencalonan gubernur pertama hingga jadi Menteri Sosial RI.vBuku ini tidak ada kaitannya dengan politik. Buku “Ibu” ini jauh dari politik, launching ini pun di tahun yang tidak ada agenda politik,” tegasnya.

Trisnadi berharap, sosok perempuan hebat yang bekerja sekaligus menjalankan peran sebagai ibu yang tercermin dalam foto-fotonya bisa menginspirasi. “Semoga buku ini nantinya bisa menjadi inspirasi bagi perempuan muda milenial menjadi Khofifah-Khofifah lain yang seperti saya gambarkan di buku ini,” urainya.

Dalam pengantarnya, penulis buku, Fatimatuz Zahroh berharap buku ini bisa membawa manfaat dan inspirasi bagi semua pembaca. “Suatu kebanggaan bagi saya untuk ikut berkontribusi menulis untuk buku ‘Ibu Khofifah Indar Parawansa’ yang merupakan buku foto karya Trisnadi Marjan,” ungkapnya.

Buku “Ibu” mendapatkan sejumlah apresiasi dari tokoh-tokoh nasional. Dr (HC) Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid M.Hum mengungkap bahwa foto sebagai sumber sejarah dan inspirasi. Dalam kata pengantar buku “Ibu”, Sinta Nuriyah menyebut bahwa foto merupakan bagian dari jejak kehidupan seseorang yang bisa dilihat sebagai arsip yang bobotnya sama dengan dokumen tertulis: naskah, surat, kontrak dan sejenisnya.

Foto memiliki peran penting untuk membuktikan suatu peristiwa sejarah suatu bangsa. “Bukti-bukti tekstual akan menjadi semakin kuat dengan adanya foto,” tulis Sinta Nuriyah.

Kurator fotografi dari Mata Waktu Foundation, Oscar Motuloh dalam pengantarnya menuliskan bahwa pesan visual yang terngiang dari penerbitan buku foto ini adalah betapa sudut pandang fotografi jurnalistik tetap menjadi landasan utama dalam mengemukakan sebentuk kesaksian.

“Suatu pendekatan yang pas dalam menjawab zaman gadget yang cuek, di mana berita mainstream tak lagi menjadi acuan mendasar dalam mengungkap kebenaran. Padahal fotografi jurnalistik dalam bentuk fundamentalnya tak sekadar berfungsi sebagai mata dunia. Namun juga menjadi cahaya yang inspiratif untuk peradaban dan kemanusiaan,” tulis Oscar Motuloh.(*/mas)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/