alexametrics
20.4 C
Malang
Wednesday, 29 June 2022

Muhammad Amin, Seniman Cosplay yang Rutin Mendapat Pesanan dari Luar Negeri

PEKERJAAN yang menyenangkan adalah hobi yang dibayar. Ungkapan itu menjadi gambaran kehidupan yang saat ini sedang dijalani Muhammad Amin. Sejak kecil dia menyukai karakter dalam film-film superhero. Bahkan kala itu Amin juga hobi membuat topeng Batman dari koran bekas. Kini, hobi bikin topeng itu sudah meningkat menjadi keahlian membuat cosplay dan bisa menjadi penopang ekonomi keluarga.

Keputusan Muhammad Amin untuk meninggalkan pekerjaan kantoran untuk fokus ke cosplay pada 2008 lalu terbilang tepat. Saat ini berbagai kostum karakter superhero yang dibuatnya telah mampu menembus pasar internasional. Bahkan dia bisa merasakan pengalaman berkolaborasi dalam pembuatan sejumlah film indie bertema superhero yang diproduksi di luar negeri

Sebelum rutin mengekspor karyanya ke luar negeri, Amin memang sangat menggemari dunia kostum ala karakter animasi, komik, maupun video games. Pria yang kini berusia 40 tahun itu kerap tampil di event-event cosplay tingkat mulai provinsi maupun nasional. Karena itulah, Amin mengaku sangat senang ketika cosplay buatannya diminati orang-orang luar negeri. ”Apalagi peminatnya adalah mereka yang berdomisili di wilayah atau tempat produksi film dan video game superhero dibuat. Seperti Amerika Serikat atau Jepang,” ujar bapak dua anak yang tinggal di Bareng itu. Mayoritas pesanan cosplay yang datang kepada Amin ratarata memang karakter superhero yang diciptakan di Amerika dan Jepang

Contohnya Iron Man, karakter superhero yang ada di film produksi Marvel Studio. Dia juga pernah mendapatkan pesanan cosplay Batman hingga figurfigur dalam film Star Wars. Untuk cosplay superhero dari Jepang, dia kerap menerima pesanan karakter Kamen Rider Ryuki yang rilis pada era 2000an. Ada juga pesanan cosplay Power Rangers dan Ninja Storm. Untuk membuat kostum karakter hero lengkap (mulai kepala hingga kaki) Amin membutuhkan waktu berharihari. Semakin panjang lagi prosesnya saat kondisi cuaca tidak mendukung. ”Satu kostum full itu butuh waktu minimal tiga sampai empat pekan,” jelas alumnus SMA Wahid Hasyim Malang itu.

Apalagi konsep pembuatan setiap kostum itu seluruhnya manual. Mulai desain, pemotongan bahan, pemberian warna, sampai perakitan. Semuanya dibuat sendiri. Agar hasilnya benar-benar mendetail seperti bentuk asli superhero, Amin selalu mempelajari video review mainan tokoh superhero di YouTube. ”Umumnya review mainan yang ada di YouTube selalu komplet. tinggal mengubahnya saja ke dalam bentuk lebih besar agar bisa digunakan oleh cosplayer (orang berkostum cosplay),” terang Amin.

Detail cosplay yang mirip dengan penampakan superhero di film-film memang menjadi andalan Amin dalam membuat karya. Tentu butuh kejelian dan ketelitian untuk menciptakan detail yang sempurna. Namun hal itu wajib dilakukan karena para cosplayer sangat menyukai kostum yang perfect. Misalnya saat membuat karakter Kamen Rider yang di Indonesia sempat diterjemahkan sebagai ”Kesatria Baja”. Amin berusaha membuat cosplay superhero bertopeng serangga itu semirip mungkin, termasuk dua antena di bagian kepala. Matanya juga dibuat merah. Demikian juga warna hijau di bagian dada, harus hijau yang benar-benar identik. ”Kalau bisa 99 persen mirip. Ibaratnya, lekuk yang ada di kostumnya harus benar-benar presisi,” jelas pria kelahiran 1982 itu.

Perpaduan warna dalam kostum itu juga harus sama persis dengan karakter aslinya. Termasuk ukuran besar kecilnya. Dengan tingkat kesulitan seperti itu, dan juga masa pembuatan yang cukup lama, Amin berani membanderol cosplay buatannya dengan harga Rp 4 jutaan. Itu untuk kostum full dari kepala sampai kaki. Namun jika hanya memesan topeng superhero, Amin cuma meminta ”mahar” Rp 700 ribu hingga Rp 900 ribu. ”Khusus untuk konsumen luar negeri, dalam setahun biasanya sama menerima 13 sampai 15 pesanan cosplay. Bahan pembuatannya dari busa ati,” terang Amin.

Selain dari Jepang dan Amerika, Amin juga pernah mendapat pesanan cosplay dari penduduk benua biru (Eropa). Misalnya dari Inggris dan Prancis. Ada juga pemesan dari Kanada, Australia, dan Hongkong. Pria penggemar soto itu bahkan beberapa kali diajak kolaborasi membuat film indie bertema superhero. Salah satunya adalah Mighty Knight Bayu, film indie asal Malaysia. Amin juga sempat diajak kolaborasi dalam produksi film indie asal Amerika Serikat dengan judul Immortal Red Fox.

Bagi Amin, untuk bisa berada di titik tersebut bukan perkara mudah. Dia sempat dipandang aneh lantaran meninggalkan pekerjaan di dunia sekuritas hanya untuk menekuni dunia cosplay. Butuh ketekunan dan keyakinan yang kuat sampai akhirnya bisa muncul rasa bangga menekuni dunia seni cosplay. ”Dulu diejek seperti kaya anak kecil saja. Sudah besar ngurusi mainan,” kenangnya. Amin mulai menekuni dunia cosplay pada 2005. Ketika itu dia mulai suka mengikuti eventevent cosplay yang ada di Malang atau Surabaya. Tidak hanya gathering saja, Amin juga sering tampil dalam pertunjukan kostum karakter superhero dan mendapat penghargaan.

Pesanan pertama juga dia dapatkan dalam sebuah event pertunjukan. Setiap kali menang kontes, cosplay yang dibuat juga ikut terjual. ”Kalau pesanan dari luar negeri datang dari kebiasaan upload di Facebook,” jelasnya. Untungnya, orang luar negeri punya kebiasaan me-review barang-barang unik yang mereka beli. Jika barang tersebut bagus, mereka selalu merekomendasikan kepada penggemar lain tentang tempat pemesanannya. Karena itulah, tanpa perencanaan marketing, pesanan dari luar negeri terus mengalir.

Berkat keistimewaan produknya, Amin juga sudah beberapa kali diundang ke Malaysia untuk menjadi pemateri workshop komunitas cosplay. ”Undangan juga datang dari Prancis. Tapi belum mengerti akan berangkat kapan,” jelasnya. Hingga saat ini, Amin selalu membuat cosplay di sebuah workshop wilayah Sukun. Dia dibantu dua orang temannya yang juga hobi membuat kostum cosplay. Mereka adalah Magisterian Zona Pahlevi dan Hendrik Reskiawan. (*/fat)

PEKERJAAN yang menyenangkan adalah hobi yang dibayar. Ungkapan itu menjadi gambaran kehidupan yang saat ini sedang dijalani Muhammad Amin. Sejak kecil dia menyukai karakter dalam film-film superhero. Bahkan kala itu Amin juga hobi membuat topeng Batman dari koran bekas. Kini, hobi bikin topeng itu sudah meningkat menjadi keahlian membuat cosplay dan bisa menjadi penopang ekonomi keluarga.

Keputusan Muhammad Amin untuk meninggalkan pekerjaan kantoran untuk fokus ke cosplay pada 2008 lalu terbilang tepat. Saat ini berbagai kostum karakter superhero yang dibuatnya telah mampu menembus pasar internasional. Bahkan dia bisa merasakan pengalaman berkolaborasi dalam pembuatan sejumlah film indie bertema superhero yang diproduksi di luar negeri

Sebelum rutin mengekspor karyanya ke luar negeri, Amin memang sangat menggemari dunia kostum ala karakter animasi, komik, maupun video games. Pria yang kini berusia 40 tahun itu kerap tampil di event-event cosplay tingkat mulai provinsi maupun nasional. Karena itulah, Amin mengaku sangat senang ketika cosplay buatannya diminati orang-orang luar negeri. ”Apalagi peminatnya adalah mereka yang berdomisili di wilayah atau tempat produksi film dan video game superhero dibuat. Seperti Amerika Serikat atau Jepang,” ujar bapak dua anak yang tinggal di Bareng itu. Mayoritas pesanan cosplay yang datang kepada Amin ratarata memang karakter superhero yang diciptakan di Amerika dan Jepang

Contohnya Iron Man, karakter superhero yang ada di film produksi Marvel Studio. Dia juga pernah mendapatkan pesanan cosplay Batman hingga figurfigur dalam film Star Wars. Untuk cosplay superhero dari Jepang, dia kerap menerima pesanan karakter Kamen Rider Ryuki yang rilis pada era 2000an. Ada juga pesanan cosplay Power Rangers dan Ninja Storm. Untuk membuat kostum karakter hero lengkap (mulai kepala hingga kaki) Amin membutuhkan waktu berharihari. Semakin panjang lagi prosesnya saat kondisi cuaca tidak mendukung. ”Satu kostum full itu butuh waktu minimal tiga sampai empat pekan,” jelas alumnus SMA Wahid Hasyim Malang itu.

Apalagi konsep pembuatan setiap kostum itu seluruhnya manual. Mulai desain, pemotongan bahan, pemberian warna, sampai perakitan. Semuanya dibuat sendiri. Agar hasilnya benar-benar mendetail seperti bentuk asli superhero, Amin selalu mempelajari video review mainan tokoh superhero di YouTube. ”Umumnya review mainan yang ada di YouTube selalu komplet. tinggal mengubahnya saja ke dalam bentuk lebih besar agar bisa digunakan oleh cosplayer (orang berkostum cosplay),” terang Amin.

Detail cosplay yang mirip dengan penampakan superhero di film-film memang menjadi andalan Amin dalam membuat karya. Tentu butuh kejelian dan ketelitian untuk menciptakan detail yang sempurna. Namun hal itu wajib dilakukan karena para cosplayer sangat menyukai kostum yang perfect. Misalnya saat membuat karakter Kamen Rider yang di Indonesia sempat diterjemahkan sebagai ”Kesatria Baja”. Amin berusaha membuat cosplay superhero bertopeng serangga itu semirip mungkin, termasuk dua antena di bagian kepala. Matanya juga dibuat merah. Demikian juga warna hijau di bagian dada, harus hijau yang benar-benar identik. ”Kalau bisa 99 persen mirip. Ibaratnya, lekuk yang ada di kostumnya harus benar-benar presisi,” jelas pria kelahiran 1982 itu.

Perpaduan warna dalam kostum itu juga harus sama persis dengan karakter aslinya. Termasuk ukuran besar kecilnya. Dengan tingkat kesulitan seperti itu, dan juga masa pembuatan yang cukup lama, Amin berani membanderol cosplay buatannya dengan harga Rp 4 jutaan. Itu untuk kostum full dari kepala sampai kaki. Namun jika hanya memesan topeng superhero, Amin cuma meminta ”mahar” Rp 700 ribu hingga Rp 900 ribu. ”Khusus untuk konsumen luar negeri, dalam setahun biasanya sama menerima 13 sampai 15 pesanan cosplay. Bahan pembuatannya dari busa ati,” terang Amin.

Selain dari Jepang dan Amerika, Amin juga pernah mendapat pesanan cosplay dari penduduk benua biru (Eropa). Misalnya dari Inggris dan Prancis. Ada juga pemesan dari Kanada, Australia, dan Hongkong. Pria penggemar soto itu bahkan beberapa kali diajak kolaborasi membuat film indie bertema superhero. Salah satunya adalah Mighty Knight Bayu, film indie asal Malaysia. Amin juga sempat diajak kolaborasi dalam produksi film indie asal Amerika Serikat dengan judul Immortal Red Fox.

Bagi Amin, untuk bisa berada di titik tersebut bukan perkara mudah. Dia sempat dipandang aneh lantaran meninggalkan pekerjaan di dunia sekuritas hanya untuk menekuni dunia cosplay. Butuh ketekunan dan keyakinan yang kuat sampai akhirnya bisa muncul rasa bangga menekuni dunia seni cosplay. ”Dulu diejek seperti kaya anak kecil saja. Sudah besar ngurusi mainan,” kenangnya. Amin mulai menekuni dunia cosplay pada 2005. Ketika itu dia mulai suka mengikuti eventevent cosplay yang ada di Malang atau Surabaya. Tidak hanya gathering saja, Amin juga sering tampil dalam pertunjukan kostum karakter superhero dan mendapat penghargaan.

Pesanan pertama juga dia dapatkan dalam sebuah event pertunjukan. Setiap kali menang kontes, cosplay yang dibuat juga ikut terjual. ”Kalau pesanan dari luar negeri datang dari kebiasaan upload di Facebook,” jelasnya. Untungnya, orang luar negeri punya kebiasaan me-review barang-barang unik yang mereka beli. Jika barang tersebut bagus, mereka selalu merekomendasikan kepada penggemar lain tentang tempat pemesanannya. Karena itulah, tanpa perencanaan marketing, pesanan dari luar negeri terus mengalir.

Berkat keistimewaan produknya, Amin juga sudah beberapa kali diundang ke Malaysia untuk menjadi pemateri workshop komunitas cosplay. ”Undangan juga datang dari Prancis. Tapi belum mengerti akan berangkat kapan,” jelasnya. Hingga saat ini, Amin selalu membuat cosplay di sebuah workshop wilayah Sukun. Dia dibantu dua orang temannya yang juga hobi membuat kostum cosplay. Mereka adalah Magisterian Zona Pahlevi dan Hendrik Reskiawan. (*/fat)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/