alexametrics
23.6 C
Malang
Friday, 20 May 2022

Di Dinoyo, Beli Bibit Sayur Bayar Botol Bekas

MALANG KOTA – Sebuah inovasi untuk menggerakkan masyarakat aktif melakukan urban farming (bertani tengah kota) ditemukan di Kelurahan Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru. Saat tim juri Lomba Urban Farming dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Malang melakukan penilaian kemarin (15/6), ada sistem pembelian bibit yang cukup inovatif.

Warga yang ingin bibit segala macam jenis tanaman, khususnya sayuran, tak perlu beli dengan uang. Cukup bayar dengan botol, kaleng, atau ban bekas.

”Jadi ini tujuannya ada beberapa. Pertama, supaya masyarakat gemar menanam sayuran atau jenis tanaman tanpa biaya. Kedua, supaya membiasakan agar ada upaya untuk mendapatkan bibit. Tujuan ketiga, supaya tidak ada banyak barang bekas berserakan di kampung sini,” terang Ferdinand, salah satu tokoh pemuda RW 02 Kelurahan Dinoyo saat ditemui di kebun sayurnya kemarin.

Dengan model beli bibit bayar barang bekas itu, semua diuntungkan. Sebab, penjual bibit itu akan memanfaatkan botol bekas itu untuk pot. Dengan barang bekas itu, pot bisa dikreasi lagi dengan berbagai model. Misalkan ban bekas bisa dibelah lagi menjadi beberapa pot. Lalu dicat warna-warni. Sehingga meski dari barang bekas, tapi dilihat cukup bagus.

”Beginilah cara kami urban farming dengan biaya sangat murah, tapi menghasilkan. Warga senang sayuran di kampung tinggal petik,” imbuh Ferdinand.

Di RW 02 Dinoyo ini, konsep urban farming juga sudah cukup kreatif. Di sejumlah rumah warga, tanaman sayur dibikin vertikal. Ini sebagai siasat karena sudah tidak punya lahan lagi. Sehingga di tembok-tembok warga, ada sejumlah pot yang disusun ke atas. Jenis tanaman di dalam pot mulai bayam, sawi daging (pok cai) maupun lombok.

”Beginilah kreasi yang bisa kami lakukan. Bagaimana lagi tidak ada lahan untuk menanam,” sebut Ferdindand sembari menunjukkan tanaman vertikal di rumahnya.

Pemanfaatan lahan sempit untuk urban farming yang tergolong sukses juga ada di Jalan Kembang Turi RW 04, Kelurahan Jatimulyo. Di sana, dengan lahan yang hanya sekitar 5 x 9 meter, tapi dimaksimalkan untuk menanam beragam jenis sayuran.

Mulai sawi daging, sawi putih, bawang dayak, cabai, tomat, dan jenis lainnya. Dan semua tanaman tumbuh subur, hijau. Sama dengan di RW 02 Dinoyo, di Jatimulyo ini juga warganya cukup kreatif. Lahan yang sempit itu tidak hanya dijadikan lahan tanaman.

Tapi di area lahan ada semacam joglo dan dikreasi menarik. Sehingga juga bisa menjadi tempat warga untuk bersantai atau diskusi.

”Semua ini atas kreasi warga. Kami senang dengan adanya lomba urban farming ini membuat warga semangat menanam. Kami harap ini berlanjut. Warga semangat menanam tidak hanya pas lomba, tapi seterusnya,” harap Lurah Jatimulyo Purnomo. (c1/abm/rmc)

MALANG KOTA – Sebuah inovasi untuk menggerakkan masyarakat aktif melakukan urban farming (bertani tengah kota) ditemukan di Kelurahan Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru. Saat tim juri Lomba Urban Farming dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Malang melakukan penilaian kemarin (15/6), ada sistem pembelian bibit yang cukup inovatif.

Warga yang ingin bibit segala macam jenis tanaman, khususnya sayuran, tak perlu beli dengan uang. Cukup bayar dengan botol, kaleng, atau ban bekas.

”Jadi ini tujuannya ada beberapa. Pertama, supaya masyarakat gemar menanam sayuran atau jenis tanaman tanpa biaya. Kedua, supaya membiasakan agar ada upaya untuk mendapatkan bibit. Tujuan ketiga, supaya tidak ada banyak barang bekas berserakan di kampung sini,” terang Ferdinand, salah satu tokoh pemuda RW 02 Kelurahan Dinoyo saat ditemui di kebun sayurnya kemarin.

Dengan model beli bibit bayar barang bekas itu, semua diuntungkan. Sebab, penjual bibit itu akan memanfaatkan botol bekas itu untuk pot. Dengan barang bekas itu, pot bisa dikreasi lagi dengan berbagai model. Misalkan ban bekas bisa dibelah lagi menjadi beberapa pot. Lalu dicat warna-warni. Sehingga meski dari barang bekas, tapi dilihat cukup bagus.

”Beginilah cara kami urban farming dengan biaya sangat murah, tapi menghasilkan. Warga senang sayuran di kampung tinggal petik,” imbuh Ferdinand.

Di RW 02 Dinoyo ini, konsep urban farming juga sudah cukup kreatif. Di sejumlah rumah warga, tanaman sayur dibikin vertikal. Ini sebagai siasat karena sudah tidak punya lahan lagi. Sehingga di tembok-tembok warga, ada sejumlah pot yang disusun ke atas. Jenis tanaman di dalam pot mulai bayam, sawi daging (pok cai) maupun lombok.

”Beginilah kreasi yang bisa kami lakukan. Bagaimana lagi tidak ada lahan untuk menanam,” sebut Ferdindand sembari menunjukkan tanaman vertikal di rumahnya.

Pemanfaatan lahan sempit untuk urban farming yang tergolong sukses juga ada di Jalan Kembang Turi RW 04, Kelurahan Jatimulyo. Di sana, dengan lahan yang hanya sekitar 5 x 9 meter, tapi dimaksimalkan untuk menanam beragam jenis sayuran.

Mulai sawi daging, sawi putih, bawang dayak, cabai, tomat, dan jenis lainnya. Dan semua tanaman tumbuh subur, hijau. Sama dengan di RW 02 Dinoyo, di Jatimulyo ini juga warganya cukup kreatif. Lahan yang sempit itu tidak hanya dijadikan lahan tanaman.

Tapi di area lahan ada semacam joglo dan dikreasi menarik. Sehingga juga bisa menjadi tempat warga untuk bersantai atau diskusi.

”Semua ini atas kreasi warga. Kami senang dengan adanya lomba urban farming ini membuat warga semangat menanam. Kami harap ini berlanjut. Warga semangat menanam tidak hanya pas lomba, tapi seterusnya,” harap Lurah Jatimulyo Purnomo. (c1/abm/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/