alexametrics
28.1 C
Malang
Thursday, 30 June 2022

Jangan Mikir Bonus, Fokus Runner Up Dulu

MALANG KOTA- Gong perang merebut prestasi olahraga tingkat Jatim di ajang Porprov dimulai. Para kontingen Kota Malang pun sudah resmi diberangkatkan Wali Kota Malang Sutiaji di Balai Kota Malang, Rabu kemarin (15/6). Target meraih posisi runner up sudah dikobarkan. Target ini cukup masuk akal. Karena pada Porprov 2019 lalu, Kota Malang terlempar dari tiga besar

Sehingga Porprov kali ini harus bisa runner up. Dengan kekuatan 558 atlet, arek-arek Malang menargetkan bisa menjadi runner up di Porprov Jatim VII yang digelar mulai 26 Juni-3 Juli 2022. Ada empat kota yang jadintuan rumah. Yakni Bondowoso, Situbondo, Jember, dan Lumajang.

Wali Kota Malang Sutiaji menegaskan, dengan persiapan yang matang dan dukungan anggaran senilai Rp 18,5 miliar, hal ini diharapkan bisa mengembalikkan posisi asal Kota Malang di jajaran tiga besar. Pihaknya tak ingin seperti Porprov 2019 lalu di Tuban, hanya mampu menduduki peringkat keempat. Di bawah Kota Surabaya, Kabupaten Kediri dan Kota Sidarjo. “Dengan target 70 medali emas itu, insya Allah bisa masuk runner up,” tegasnya.

Sutiaji menambahkan, Pemkot Malang juga sudah menyiapkan anggaran untuk bonus atlet yang berprestasi. Namun dirinya belum mau membeberkan jumlah nominal untuk bonus tersebut. Dia meminta, atlet terlebih dahulu meniatkan bertarung di Porprov Jatim untuk meraih prestasi, bukan bonus. “Kalau orientasi olahraga sudah ke sana (bonus) nanti rusak. Jadi namanya bonus akan dapat setelahnya,” tegas Sutiaji.

Sementara ketika ditanya peluang menjadi juara umum, Sutiaji mengaku itu masih sangat berat. Karena dominasi Surabaya sulit dikalahkan. Dari Porprov Jatim pertama hingga keenam, kontingen Kota Pahlawan itu selalu menjadi juara umum. Tak heran, karena dikabarkan anggaran yang diterima oleh mereka senilai Rp 40 miliar. “Kita fair saja, Surabaya masih sangat kuat dan anggaran mereka sangat tinggi. Semoga tahun ini bisa runner up terlebih dahulu,” imbuh pria kelahiran Lamongan itu.

Lebih lanjut pemimpin tertinggi di lingkungan Pemkot Malang itu menekankan, kepada seluruh ofisial dan pelatih untuk memperhatikan asupan gizi para atlet. Selain itu, mereka harus memastikan atlet mendapat tempat istirahat yang layak. Agar memberikan kenyamanan bagi arek-arek Kota Malang yang sedang berjuang membawa nama baik bumi Arema itu. “Kita juga harus hormati keputusan penilai yang ada di sana, karena sportivitas harus tetap dijaga,” pesan Sutiaji.

Sementara itu, Ketua Kontingen Kota Malang Asat Munawar menjelaskan, persiapan yang dilakukan oleh seluruh cabor kurang lebih selama satu setengah tahun. Terhitung sejak tahun 2020-2021 lalu. Namun untuk proses pemantapan, dilakukan enam bulan belakangan ini, atau sejak awal tahun 2022. Dikatakannya, beberapa tahapan seleksi sudah dilakukan KONI Kota Malang hingga akhirnya terjaring 558 atlet.

Selain seleksi, seluruh atlet juga menjalani serangkaian tes fisik, penguatan psikologi dan pembentukan karakter. “Peak perform atlet sudah tercapai, saat ini tugas pelatih menjaga performa puncak para pemain. Kami serahkan ke cabor untuk menjalankan karantina atau mes,” tutur Asat. (adk/abm)

MALANG KOTA- Gong perang merebut prestasi olahraga tingkat Jatim di ajang Porprov dimulai. Para kontingen Kota Malang pun sudah resmi diberangkatkan Wali Kota Malang Sutiaji di Balai Kota Malang, Rabu kemarin (15/6). Target meraih posisi runner up sudah dikobarkan. Target ini cukup masuk akal. Karena pada Porprov 2019 lalu, Kota Malang terlempar dari tiga besar

Sehingga Porprov kali ini harus bisa runner up. Dengan kekuatan 558 atlet, arek-arek Malang menargetkan bisa menjadi runner up di Porprov Jatim VII yang digelar mulai 26 Juni-3 Juli 2022. Ada empat kota yang jadintuan rumah. Yakni Bondowoso, Situbondo, Jember, dan Lumajang.

Wali Kota Malang Sutiaji menegaskan, dengan persiapan yang matang dan dukungan anggaran senilai Rp 18,5 miliar, hal ini diharapkan bisa mengembalikkan posisi asal Kota Malang di jajaran tiga besar. Pihaknya tak ingin seperti Porprov 2019 lalu di Tuban, hanya mampu menduduki peringkat keempat. Di bawah Kota Surabaya, Kabupaten Kediri dan Kota Sidarjo. “Dengan target 70 medali emas itu, insya Allah bisa masuk runner up,” tegasnya.

Sutiaji menambahkan, Pemkot Malang juga sudah menyiapkan anggaran untuk bonus atlet yang berprestasi. Namun dirinya belum mau membeberkan jumlah nominal untuk bonus tersebut. Dia meminta, atlet terlebih dahulu meniatkan bertarung di Porprov Jatim untuk meraih prestasi, bukan bonus. “Kalau orientasi olahraga sudah ke sana (bonus) nanti rusak. Jadi namanya bonus akan dapat setelahnya,” tegas Sutiaji.

Sementara ketika ditanya peluang menjadi juara umum, Sutiaji mengaku itu masih sangat berat. Karena dominasi Surabaya sulit dikalahkan. Dari Porprov Jatim pertama hingga keenam, kontingen Kota Pahlawan itu selalu menjadi juara umum. Tak heran, karena dikabarkan anggaran yang diterima oleh mereka senilai Rp 40 miliar. “Kita fair saja, Surabaya masih sangat kuat dan anggaran mereka sangat tinggi. Semoga tahun ini bisa runner up terlebih dahulu,” imbuh pria kelahiran Lamongan itu.

Lebih lanjut pemimpin tertinggi di lingkungan Pemkot Malang itu menekankan, kepada seluruh ofisial dan pelatih untuk memperhatikan asupan gizi para atlet. Selain itu, mereka harus memastikan atlet mendapat tempat istirahat yang layak. Agar memberikan kenyamanan bagi arek-arek Kota Malang yang sedang berjuang membawa nama baik bumi Arema itu. “Kita juga harus hormati keputusan penilai yang ada di sana, karena sportivitas harus tetap dijaga,” pesan Sutiaji.

Sementara itu, Ketua Kontingen Kota Malang Asat Munawar menjelaskan, persiapan yang dilakukan oleh seluruh cabor kurang lebih selama satu setengah tahun. Terhitung sejak tahun 2020-2021 lalu. Namun untuk proses pemantapan, dilakukan enam bulan belakangan ini, atau sejak awal tahun 2022. Dikatakannya, beberapa tahapan seleksi sudah dilakukan KONI Kota Malang hingga akhirnya terjaring 558 atlet.

Selain seleksi, seluruh atlet juga menjalani serangkaian tes fisik, penguatan psikologi dan pembentukan karakter. “Peak perform atlet sudah tercapai, saat ini tugas pelatih menjaga performa puncak para pemain. Kami serahkan ke cabor untuk menjalankan karantina atau mes,” tutur Asat. (adk/abm)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/