alexametrics
23 C
Malang
Saturday, 2 July 2022

Rp 416 Juta untuk Beli Buku

MALANG KOTA – Perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) Malang untuk pengadaan buku cukup tinggi. Tahun ini saja, Perpustakaan Umum Daerah (Perpusda) Kota Malang digerojok dana Rp 146,8 juta. Anggaran tersebut bisa bertambah hingga Rp 416,7 juta.

Itu jika rencana penambahan anggaran Rp 369,9 juta dalam Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) pertengahan 2022 nanti disetujui tim anggaran perangkat daerah (TPAD) dan Badan Anggaran (Banggar) DPRD Kota Malang.

”Dari anggaran tersebut, Rp 170 juta di antaranya akan digunakan untuk e-book. Pengajuan anggaran tambahan ini juga dilakukan dalam rangka mendukung program kota layak anak,” ujar Subkoordinator Preservasi Perpusda Kota Malang Nesy Prima Dewi, beberapa waktu lalu.

Beberapa program dari Perpusda Kota Malang yang rencananya diadakan terkait kota layak anak (KLA) adalah workshop, seminar, pelatihan, hingga lomba. Pelaksanaannya sekitar Oktober mendatang. “Karena program kota layak anak, maka sasarannya adalah anak-anak hingga remaja. Salah satunya dengan mengadakan workshop menulis,” terang Nesy.

Workshop menulis dipilih karena pihak perpustakaan ingin agar anak-anak bisa menuangkan ide atau gagasannya. Bahkan, bukan tidak mungkin hasil tulisan mereka akan dibukukan menjadi bagian dari konten lokal perpustakaan.

“Selebihnya akan dibuat untuk mendukung kegiatan sampai pengadaan alat keamanan buku seperti tattle tape yang bisa mendeteksi buku pinjaman saat melewati detector gate. Untuk pengadaan buku di luar e-book senilai Rp 46 juta akan dilakukan di semester dua,” jelasnya.

Selain melalui anggaran, Perpusda Kota Malang juga menerima sumbangan dari masyarakat. Sampai Mei lalu, total ada 1.075 eksemplar sumbangan. “Kebanyakan dari penerbitan perguruan tinggi seperti UB, UM, dan UIN. Lalu, ada tambahan 534 buku dari Perpusnas yang diletakkan di pojok baca digital di Taman Baca Trunojoyo,” tambahnya.

Berdasarkan survei Perpusda Kota Malang, sebanyak 70 persen berasal dari pelajar hingga mahasiswa yang mencari buku-buku untuk menunjang pendidikan. Selain itu, mereka juga kerap mencari buku fiksi seperti novel.  “Sebuah tantangan bagi kami. Karena kami harus lebih pandai berinovasi menjaring pemustaka melalui media sosial dan menampilkan sesuatu yang menarik masyarakat,” tuturnya. (mel/dan)

MALANG KOTA – Perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) Malang untuk pengadaan buku cukup tinggi. Tahun ini saja, Perpustakaan Umum Daerah (Perpusda) Kota Malang digerojok dana Rp 146,8 juta. Anggaran tersebut bisa bertambah hingga Rp 416,7 juta.

Itu jika rencana penambahan anggaran Rp 369,9 juta dalam Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) pertengahan 2022 nanti disetujui tim anggaran perangkat daerah (TPAD) dan Badan Anggaran (Banggar) DPRD Kota Malang.

”Dari anggaran tersebut, Rp 170 juta di antaranya akan digunakan untuk e-book. Pengajuan anggaran tambahan ini juga dilakukan dalam rangka mendukung program kota layak anak,” ujar Subkoordinator Preservasi Perpusda Kota Malang Nesy Prima Dewi, beberapa waktu lalu.

Beberapa program dari Perpusda Kota Malang yang rencananya diadakan terkait kota layak anak (KLA) adalah workshop, seminar, pelatihan, hingga lomba. Pelaksanaannya sekitar Oktober mendatang. “Karena program kota layak anak, maka sasarannya adalah anak-anak hingga remaja. Salah satunya dengan mengadakan workshop menulis,” terang Nesy.

Workshop menulis dipilih karena pihak perpustakaan ingin agar anak-anak bisa menuangkan ide atau gagasannya. Bahkan, bukan tidak mungkin hasil tulisan mereka akan dibukukan menjadi bagian dari konten lokal perpustakaan.

“Selebihnya akan dibuat untuk mendukung kegiatan sampai pengadaan alat keamanan buku seperti tattle tape yang bisa mendeteksi buku pinjaman saat melewati detector gate. Untuk pengadaan buku di luar e-book senilai Rp 46 juta akan dilakukan di semester dua,” jelasnya.

Selain melalui anggaran, Perpusda Kota Malang juga menerima sumbangan dari masyarakat. Sampai Mei lalu, total ada 1.075 eksemplar sumbangan. “Kebanyakan dari penerbitan perguruan tinggi seperti UB, UM, dan UIN. Lalu, ada tambahan 534 buku dari Perpusnas yang diletakkan di pojok baca digital di Taman Baca Trunojoyo,” tambahnya.

Berdasarkan survei Perpusda Kota Malang, sebanyak 70 persen berasal dari pelajar hingga mahasiswa yang mencari buku-buku untuk menunjang pendidikan. Selain itu, mereka juga kerap mencari buku fiksi seperti novel.  “Sebuah tantangan bagi kami. Karena kami harus lebih pandai berinovasi menjaring pemustaka melalui media sosial dan menampilkan sesuatu yang menarik masyarakat,” tuturnya. (mel/dan)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/