alexametrics
22.4 C
Malang
Tuesday, 5 July 2022

Malang Zona Merah, Rayakan Galungan Terapkan Protokol Kesehatan Ketat

MALANG KOTA – Umat Hindu tahun ini merayakan Hari Raya Galungan dengan cara yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Di Kota Malang, peringatan Hari Raya Galungan dilakukan dengan kegiatan ibadah di Pura Luhur Dwijaharsa Gunung Buring, Kelurahan Lesanpuro.

Kegiatan ibadah tersebut dilaksanakan dengan protokol kesehatan yang ketat, Rabu (16/9). Umat Hindu mulai berdatangan ke pura sejak pagi. Sebelum memasuki area Pura, setiap umat diwajibkan mencuci tangan serta dicek suhu tubuhnya menggunakan thermo gun. Ratusan umat yang ikut dalam ibadah juga diwajibkan menjaga jarak selama pelaksanan ibadah.

Pemangku Pura Luhur Dwijawarsa I Ketut Sidarta mengatakan bahwa ditengah pandemi ini, prosesi sembahyang dilakukan secara bergantian. Sembahyang sendiri dimulai pada pukul 09.00. Pria yang akrab disapa Ketut tersebut mengatakan bahwa meski tahun ini dirayakan dengan cara berbeda, namun Hari Raya Galungan tetap harus dimaknai sebagai kemenangan atau Dharma. Dia menjelaskan bahwa hari raya ini adalah sebagi momen peringatan diciptakannya Bumi.

“Sebagai manusia harus mengutamakan akal budinya dalam menjalani kehidupan dan menjaga keseimbangan alam semesta raya,” ujar Ketut. Pihaknya mengatakan bahwa Hari Raya Galungan ini juga harus dimaknai dengan penerapan Satya.

Yakni disiplin, jujur kepada diri sendiri, memelihara kesehatan raga, dan melakukan kewajiban dengan sebaik-baiknya. Hari Raya yang diperingati setiap enam bulan sekali dalam kalender Caka itu juga juga dimakani bahwa seluruh umat harus senantiasa menjaga ekosistem yang ada di bumi.

Ini karena, masih kata Ketut, Galungan tidak hanya berarti kemenangan bagi diri sendiri. “Galungan ini juga merupakan kemenangan bagi makhluk lain sehingga harus dijaga dan dilestarikan,” tutupnya.

Pewarta: Arlita Ulya

MALANG KOTA – Umat Hindu tahun ini merayakan Hari Raya Galungan dengan cara yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Di Kota Malang, peringatan Hari Raya Galungan dilakukan dengan kegiatan ibadah di Pura Luhur Dwijaharsa Gunung Buring, Kelurahan Lesanpuro.

Kegiatan ibadah tersebut dilaksanakan dengan protokol kesehatan yang ketat, Rabu (16/9). Umat Hindu mulai berdatangan ke pura sejak pagi. Sebelum memasuki area Pura, setiap umat diwajibkan mencuci tangan serta dicek suhu tubuhnya menggunakan thermo gun. Ratusan umat yang ikut dalam ibadah juga diwajibkan menjaga jarak selama pelaksanan ibadah.

Pemangku Pura Luhur Dwijawarsa I Ketut Sidarta mengatakan bahwa ditengah pandemi ini, prosesi sembahyang dilakukan secara bergantian. Sembahyang sendiri dimulai pada pukul 09.00. Pria yang akrab disapa Ketut tersebut mengatakan bahwa meski tahun ini dirayakan dengan cara berbeda, namun Hari Raya Galungan tetap harus dimaknai sebagai kemenangan atau Dharma. Dia menjelaskan bahwa hari raya ini adalah sebagi momen peringatan diciptakannya Bumi.

“Sebagai manusia harus mengutamakan akal budinya dalam menjalani kehidupan dan menjaga keseimbangan alam semesta raya,” ujar Ketut. Pihaknya mengatakan bahwa Hari Raya Galungan ini juga harus dimaknai dengan penerapan Satya.

Yakni disiplin, jujur kepada diri sendiri, memelihara kesehatan raga, dan melakukan kewajiban dengan sebaik-baiknya. Hari Raya yang diperingati setiap enam bulan sekali dalam kalender Caka itu juga juga dimakani bahwa seluruh umat harus senantiasa menjaga ekosistem yang ada di bumi.

Ini karena, masih kata Ketut, Galungan tidak hanya berarti kemenangan bagi diri sendiri. “Galungan ini juga merupakan kemenangan bagi makhluk lain sehingga harus dijaga dan dilestarikan,” tutupnya.

Pewarta: Arlita Ulya

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/