alexametrics
22.3 C
Malang
Saturday, 21 May 2022

30 Tahun Jadi Loper, Sedih Saat Koran Basah Kehujanan

RADAR MALANG – Bergelut sebagai striker atau loper koran sudah dilakoni Suwardi Edi sepanjang 30 tahun belakangan. Pria yang akrab disapa Edi ini setiap harinya biasa meninggalkan rumah sejak dini hari. Suara bising kendaraan di pagi hari adalah makanan sehari-hari. Panas terik matahari juga asap kendaraan bukan alasan bagi Edi untuk menyerah. Dia tetap bersemangat demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

“Saya sudah berangkat jam 03.00 WIB sebelum subuh untuk mengambil koran. Sekitar jam 04.00 subuh saya sudah keliling mengantarkan koran ke pelanggan. Itu cara saya untuk memberikan pelayanan kepada pelanggan sehingga ketika mereka bangun, koran sudah ada di depan pintu,” ungkapnya saat ditemui wartawan Jawa Pos Radar Malang Jumat (15/10).

Setiap hari, Edi mengaku selalu berkeliling saat menjual koran. Dia kerap menjajakan koran di perempatan Jalan Kaliurang, Perumahan Permata Jingga hingga Perumahan Griya Santa. Pekerjaan tersebut sudah digelutinya sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD). ”Saat itu, harga koran Rp 250 per eksemplar,” kenangnya.

Saat ini, Edi menyatakan setiap hari selalu membawa 40 sampai 50 eksemplar koran Jawa Pos Radar Malang. Selain untuk pelanggan setia, koran yang dia bawa juga dijajakan di perempatan lampu merah Kaliurang. Jika masih ada yang tersisa, dia menjualnya di depan rumah. “Saya memiliki pelanggan setia sekitar 30 orang, setiap pagi saya antar ke rumahnya. Sisanya saya jual di lampu merah atau saya jual di depan rumah, pasti ada saja yang beli,” tuturnya.

Diakui Edy, ada banyak suka duka selama berjualan koran. Salah satunya, dia pernah mengalami  koran yang dia jual tidak laku sama sekali. ”Koran basah akibat kehujanan juga pernah,” bebernya.

Meski begitu, pria 40 tahun itu tetap merasa beruntung dengan menjadi striker. Pasalnya, penghasilannya dari jualan koran dirasa masih cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Bahkan saat ini, Edi sudah memiliki sebuah sepeda motor yang dia beli dari hasil jualan koran selama ini. “Alhamdulillah saya masih bersyukur, meski jual koran, saya masih bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari,” tutup pria berkacamata itu. (cj5/nay/rmc)

RADAR MALANG – Bergelut sebagai striker atau loper koran sudah dilakoni Suwardi Edi sepanjang 30 tahun belakangan. Pria yang akrab disapa Edi ini setiap harinya biasa meninggalkan rumah sejak dini hari. Suara bising kendaraan di pagi hari adalah makanan sehari-hari. Panas terik matahari juga asap kendaraan bukan alasan bagi Edi untuk menyerah. Dia tetap bersemangat demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

“Saya sudah berangkat jam 03.00 WIB sebelum subuh untuk mengambil koran. Sekitar jam 04.00 subuh saya sudah keliling mengantarkan koran ke pelanggan. Itu cara saya untuk memberikan pelayanan kepada pelanggan sehingga ketika mereka bangun, koran sudah ada di depan pintu,” ungkapnya saat ditemui wartawan Jawa Pos Radar Malang Jumat (15/10).

Setiap hari, Edi mengaku selalu berkeliling saat menjual koran. Dia kerap menjajakan koran di perempatan Jalan Kaliurang, Perumahan Permata Jingga hingga Perumahan Griya Santa. Pekerjaan tersebut sudah digelutinya sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD). ”Saat itu, harga koran Rp 250 per eksemplar,” kenangnya.

Saat ini, Edi menyatakan setiap hari selalu membawa 40 sampai 50 eksemplar koran Jawa Pos Radar Malang. Selain untuk pelanggan setia, koran yang dia bawa juga dijajakan di perempatan lampu merah Kaliurang. Jika masih ada yang tersisa, dia menjualnya di depan rumah. “Saya memiliki pelanggan setia sekitar 30 orang, setiap pagi saya antar ke rumahnya. Sisanya saya jual di lampu merah atau saya jual di depan rumah, pasti ada saja yang beli,” tuturnya.

Diakui Edy, ada banyak suka duka selama berjualan koran. Salah satunya, dia pernah mengalami  koran yang dia jual tidak laku sama sekali. ”Koran basah akibat kehujanan juga pernah,” bebernya.

Meski begitu, pria 40 tahun itu tetap merasa beruntung dengan menjadi striker. Pasalnya, penghasilannya dari jualan koran dirasa masih cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Bahkan saat ini, Edi sudah memiliki sebuah sepeda motor yang dia beli dari hasil jualan koran selama ini. “Alhamdulillah saya masih bersyukur, meski jual koran, saya masih bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari,” tutup pria berkacamata itu. (cj5/nay/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/