alexametrics
22.3 C
Malang
Sunday, 2 October 2022

Kerugian Peternak Ayam Karena Harga Pakan Naik, Usaha di Ambang Kebangkrutan

MALANG KOTA – Para peternak ayam ibarat sedang tercekik. Ini dampak dari kenaikan harga pakan. Kondisi ini terjadi sejak pandemi Covid-19. Bahkan para peternak sudah berada di ambang kebangkrutan.

Salah satu peternak ayam di Wonokoyo, Kedungkandang, Sugeng mengungkapkan bahwa konsentrat mengalami kenaikan harga sebesar Rp 136 ribu per saknya. “Satu sak konsentrat harga sebelumnya Rp 335 ribu, sekarang jadi Rp 471 ribu,” ujarnya.

Tak hanya itu, harga jagung yang menjadi pakan ayam pun naik. Dari Rp 3.600 per kilogram menjadi Rp 5.900. Karena harga pakan ayam naik, harga telur pun otomatis terkerek naik. Sugeng yang memiliki 1.000 ayam ras, bisa memproduksi 60 kilogram telur per hari. Dia menjual telurnya dengan harga Rp 27 ribu per kilogram. “Dan para pengecer menjual Rp 28.500 sampai Rp 30 ribu per kilogram,” imbuhnya.

Meski harga telur naik, dampak kenaikan harga pakan tersebut membuat keuntungan Sugeng dari juala telur menipis. “Karena pakan ternak juga mahal,” kata dia.

Kondisi itu juga membuat beberapa para peternak ayam petelur bangkrut. Kini di wilayah RW-nya, yakni RW 4 hanya tersisa empat dari enam hingga 10 peternak ayam petelur yang bertahan. “Meskipun pakan ternak harganya naik, tapi jangan sampai harga telur terus turun,” ujar Sugeng.

Sugeng juga menyampaikan bahwa para peternak sangat berharap terhadap pemerintah agar dapat mengendalikan harga pakan yang melambung tinggi. “Semoga pihak pemerintah bisa mengendalikan harga pakan ternak, bisa stabil agar ada kepastian untuk keberlangsungan usaha,” pungkas Sugeng.

Sementara itu di kenaikan harga telur ayam ras di pasar naik Rp 2 ribu. Kenaikan harga terjadi sejak sepekan yang lalu. Seperti yang diungkapkan salah satu pedangan telur ayam di Pasar Besar Suwito. Sejak bulan Mei harga telur naik dari Rp 23 ribu menjadi Rp 26 ribu per kilogram. “Dan sepekan yang lalu naik lagi menjadi Rp 28 ribu,” ujarnya.

Senada dengan Suwito, Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang juga menangkap fenomena kenaikan harga pada telur ayam di pasar.

Kabid Perdagangan Diskopindag Sapto Wibowo mengatakan bahwa kenaikan harga telur ayam diyakini karena harga pakan ternak naik. “Selain itu stok juga berkurang ditambah karena kebutuhan masyarakat juga naik,” ujarnya kemarin (16/8).

Menurut pantauannya, Sapto mengatakan bahwa harga telur ayam ras di pasar tradisional kisaran Rp 28.500 hingga Rp 30 ribu per kilogramnya. “Untuk itu kami masih akan terus memantau, melakukan operasi pasar baik mengenai telur maupun pakan ternak,” ungkapnya. (mit/abm)

MALANG KOTA – Para peternak ayam ibarat sedang tercekik. Ini dampak dari kenaikan harga pakan. Kondisi ini terjadi sejak pandemi Covid-19. Bahkan para peternak sudah berada di ambang kebangkrutan.

Salah satu peternak ayam di Wonokoyo, Kedungkandang, Sugeng mengungkapkan bahwa konsentrat mengalami kenaikan harga sebesar Rp 136 ribu per saknya. “Satu sak konsentrat harga sebelumnya Rp 335 ribu, sekarang jadi Rp 471 ribu,” ujarnya.

Tak hanya itu, harga jagung yang menjadi pakan ayam pun naik. Dari Rp 3.600 per kilogram menjadi Rp 5.900. Karena harga pakan ayam naik, harga telur pun otomatis terkerek naik. Sugeng yang memiliki 1.000 ayam ras, bisa memproduksi 60 kilogram telur per hari. Dia menjual telurnya dengan harga Rp 27 ribu per kilogram. “Dan para pengecer menjual Rp 28.500 sampai Rp 30 ribu per kilogram,” imbuhnya.

Meski harga telur naik, dampak kenaikan harga pakan tersebut membuat keuntungan Sugeng dari juala telur menipis. “Karena pakan ternak juga mahal,” kata dia.

Kondisi itu juga membuat beberapa para peternak ayam petelur bangkrut. Kini di wilayah RW-nya, yakni RW 4 hanya tersisa empat dari enam hingga 10 peternak ayam petelur yang bertahan. “Meskipun pakan ternak harganya naik, tapi jangan sampai harga telur terus turun,” ujar Sugeng.

Sugeng juga menyampaikan bahwa para peternak sangat berharap terhadap pemerintah agar dapat mengendalikan harga pakan yang melambung tinggi. “Semoga pihak pemerintah bisa mengendalikan harga pakan ternak, bisa stabil agar ada kepastian untuk keberlangsungan usaha,” pungkas Sugeng.

Sementara itu di kenaikan harga telur ayam ras di pasar naik Rp 2 ribu. Kenaikan harga terjadi sejak sepekan yang lalu. Seperti yang diungkapkan salah satu pedangan telur ayam di Pasar Besar Suwito. Sejak bulan Mei harga telur naik dari Rp 23 ribu menjadi Rp 26 ribu per kilogram. “Dan sepekan yang lalu naik lagi menjadi Rp 28 ribu,” ujarnya.

Senada dengan Suwito, Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang juga menangkap fenomena kenaikan harga pada telur ayam di pasar.

Kabid Perdagangan Diskopindag Sapto Wibowo mengatakan bahwa kenaikan harga telur ayam diyakini karena harga pakan ternak naik. “Selain itu stok juga berkurang ditambah karena kebutuhan masyarakat juga naik,” ujarnya kemarin (16/8).

Menurut pantauannya, Sapto mengatakan bahwa harga telur ayam ras di pasar tradisional kisaran Rp 28.500 hingga Rp 30 ribu per kilogramnya. “Untuk itu kami masih akan terus memantau, melakukan operasi pasar baik mengenai telur maupun pakan ternak,” ungkapnya. (mit/abm)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/