alexametrics
22.4 C
Malang
Tuesday, 17 May 2022

Dikejar Debt Collector Pinjol, Guru TK Dipecat dan Nyaris Bunuh Diri

MALANG KOTA – Terjebak pinjaman online hingga dikejar-kejar debt collector membuat Melati (bukan nama sebenarnya) , 40th, yang berprofesi sebagai guru TK di Kota Malang frustasi hingga nyaris bunuh diri. Tak tanggung-tanggung, Melati meminjam uang ke 24 pinjol.

Cerita berawal pada akhir tahun 2020 lalu, dimana ia hendak masuk ke salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Malang untuk memenuhi syarat agar tetap mengajar sebagai guru di TK tempatnya mengajar. Padahal, ia sudah menjadi guru selama 13 tahun di sekolah tersebut.

“Ya, untuk memenuhi syarat agar tetap bisa mengajar, kan harus S1, maka si ibu ini sambil kuliah, namun harus membayarkan uang sebesar Rp 2,5 juta untuk biayanya,” terang kuasa hukum Melati, Slamet Yuono.

Gajinya sebagai guru TK tak mampu memenuhi biaya kuliah S1. Menurut Slamet, gaji terakhir yang diterima sebelum dipecat adalah Rp 400 ribu per bulan. Saat sedang kalut karena kekurangan biaya kuliah, salah seorang kawan menyarankan untuk meminjam uang dari pinjaman online (pinjol).

“Pinjolnya ini ada beberapa aplikasi yang ditembusi untuk angka Rp 2,5 juta. Karena awal peminjaman, cuma bisa cair sekitar Rp 600 ribu hingga Rp 700 ribu,” terangnya.

Untuk mendapatkan angka Rp 2.5 juta, Melati harus meminjam di tiga pinjol, denagn bunga yang sangat tinggi dengan tempo yang singkat, hanya 7 hari. “Sebagai contoh, tertulis di aplikasi Rp 1.8 juta, tapi uang yang diterima hanya Rp 1.2 juta,” beber pengacara dari 99 and Partner Law Firm, Jakarta itu.

Jatuh tempo kemudian datang, namun Melati masih kesulitan untuk bayar, hingga kemudian ia meminjam setidaknya dari 24 aplikasi. “Pinjam lagi supaya bisa membayar tagihan yang sudah tanggal jatuh tempo, sampai pada akhirnya menumpuk banyak antara Rp 30 juta hingga Rp 40 juta di 24 aplikasi pinjaman online yang berbeda-beda,” imbuhnya.

Dari sana, serangkaian teror dimulai. Namun akhirnya berakhir fatal karena serangkaian teror baik personal maupun sebar data personal terus dilakukan oleh debt collector dan penyelenggara pinjol yang kebanyakan dari mereka tergolong ilegal.

“Dipecat dari tempat ia mengajar per tanggal 5 November 2020. Kemudian setelah dicari tahu ternyata 19 aplikasi yang dipakai itu ilegal,” beber Slamet. Akibat dari pemecatan itu Melati sempat hendak mengakhiri hidupnya.

Mendengar kabar itu, Slamet yang anaknya pernah diajar korban langsung membantu. “Kami laporkan ke Satgas Waspada Investasi, yang juga didalamnya ada kepolisian yang dalam hal ini Cyber Bareskrim Polri. Itu dilakukan Desember 2020 lalu. Dari situ akhirnya semua terbuka, klien saya juga mulai berani dan bangkit,” kata dia.

Pewarta: Biyan Mudzaky

MALANG KOTA – Terjebak pinjaman online hingga dikejar-kejar debt collector membuat Melati (bukan nama sebenarnya) , 40th, yang berprofesi sebagai guru TK di Kota Malang frustasi hingga nyaris bunuh diri. Tak tanggung-tanggung, Melati meminjam uang ke 24 pinjol.

Cerita berawal pada akhir tahun 2020 lalu, dimana ia hendak masuk ke salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Malang untuk memenuhi syarat agar tetap mengajar sebagai guru di TK tempatnya mengajar. Padahal, ia sudah menjadi guru selama 13 tahun di sekolah tersebut.

“Ya, untuk memenuhi syarat agar tetap bisa mengajar, kan harus S1, maka si ibu ini sambil kuliah, namun harus membayarkan uang sebesar Rp 2,5 juta untuk biayanya,” terang kuasa hukum Melati, Slamet Yuono.

Gajinya sebagai guru TK tak mampu memenuhi biaya kuliah S1. Menurut Slamet, gaji terakhir yang diterima sebelum dipecat adalah Rp 400 ribu per bulan. Saat sedang kalut karena kekurangan biaya kuliah, salah seorang kawan menyarankan untuk meminjam uang dari pinjaman online (pinjol).

“Pinjolnya ini ada beberapa aplikasi yang ditembusi untuk angka Rp 2,5 juta. Karena awal peminjaman, cuma bisa cair sekitar Rp 600 ribu hingga Rp 700 ribu,” terangnya.

Untuk mendapatkan angka Rp 2.5 juta, Melati harus meminjam di tiga pinjol, denagn bunga yang sangat tinggi dengan tempo yang singkat, hanya 7 hari. “Sebagai contoh, tertulis di aplikasi Rp 1.8 juta, tapi uang yang diterima hanya Rp 1.2 juta,” beber pengacara dari 99 and Partner Law Firm, Jakarta itu.

Jatuh tempo kemudian datang, namun Melati masih kesulitan untuk bayar, hingga kemudian ia meminjam setidaknya dari 24 aplikasi. “Pinjam lagi supaya bisa membayar tagihan yang sudah tanggal jatuh tempo, sampai pada akhirnya menumpuk banyak antara Rp 30 juta hingga Rp 40 juta di 24 aplikasi pinjaman online yang berbeda-beda,” imbuhnya.

Dari sana, serangkaian teror dimulai. Namun akhirnya berakhir fatal karena serangkaian teror baik personal maupun sebar data personal terus dilakukan oleh debt collector dan penyelenggara pinjol yang kebanyakan dari mereka tergolong ilegal.

“Dipecat dari tempat ia mengajar per tanggal 5 November 2020. Kemudian setelah dicari tahu ternyata 19 aplikasi yang dipakai itu ilegal,” beber Slamet. Akibat dari pemecatan itu Melati sempat hendak mengakhiri hidupnya.

Mendengar kabar itu, Slamet yang anaknya pernah diajar korban langsung membantu. “Kami laporkan ke Satgas Waspada Investasi, yang juga didalamnya ada kepolisian yang dalam hal ini Cyber Bareskrim Polri. Itu dilakukan Desember 2020 lalu. Dari situ akhirnya semua terbuka, klien saya juga mulai berani dan bangkit,” kata dia.

Pewarta: Biyan Mudzaky

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/