alexametrics
26.5 C
Malang
Friday, 27 May 2022

Buntut Diputus Pailit, Kuasa Hukum PT GML Sesalkan PT BTN

KOTA MALANG- Meski mendapat penolakan dari pihak manajemen apartemen dan kondotel MCP,  wartawan koran ini mampu mendapat alasan kenapa PT GML diputuskan pailit. Kuasa Hukum PT GML Gunadi Handoko membeberkannya secara detail. Sebelum putusan dari Pengadilan Niaga Surabaya pada 9 November, telah dilakukan voting antara kreditur separatis dalam hal ini PT BTN dan kreditur konkuren dalam hal ini  user dan kontraktor. Voting tersebut diambil untuk membuat proposal perdamaian atas penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU).

“Dalam voting ini pihak kreditur separatis tidak menyetujui sehingga status PT GML jadi pailit,” ungkapnya.

Mantan Direktur PT Arema Indonesia tersebut menyesalkan sikap PT BTN yang tidak menyetujui hasil voting perdamaian. Sebab, para user dan pengembang berusaha untuk tidak dipailitkan. Karena sejumlah user juga telah membeli unit tersebut sejak 2011 silam. Khususnya mereka yang telah membayar lunas unit apartemen maupun kondotel.

Langkah untuk melakukan kasasi bisa saja dilakukan. Namun Gunadi tak bisa melakukan hal itu lantaran pihak pengembang sudah melakukan PKPU. Jika belum melakukan PKPU dan diputuskan sepihak, maka langkah kasasi bakal dilakukan.

“Saat ini kami ingin user bisa mendapat perlindungan, apalagi verifikasi oleh kurator diharapkan bisa menguntungkan user,” tegas Gunadi.

Gunadi meminta para user untuk bisa melaporkan verifikasi ke kurator sejujur-jujurnya. Terkait potensi unit jadi boedel palilit atau lelang karena pailit, dia belum bisa berkomentar. Karena hasil verifikasi bakal dilakukan pada 16 Desember mendatang di Pengadilan Niaga Surabaya.

Dari informasi yang diterima koran ini, utang PT GML ke Bank BTN sebanyak Rp 280 miliar. Sementara aset yang dimiliki PT GML di apartemen dan kondotel itu sebesar Rp 326,7 miliar. Sehingga kemungkinan lelang bisa saja terjadi jika hasil verifikasi menemukan hal baru.”Kami harap jangan sampai ada konflik baru,” harap dia. (and/abm)

Pewarta: Aditya Novrian

KOTA MALANG- Meski mendapat penolakan dari pihak manajemen apartemen dan kondotel MCP,  wartawan koran ini mampu mendapat alasan kenapa PT GML diputuskan pailit. Kuasa Hukum PT GML Gunadi Handoko membeberkannya secara detail. Sebelum putusan dari Pengadilan Niaga Surabaya pada 9 November, telah dilakukan voting antara kreditur separatis dalam hal ini PT BTN dan kreditur konkuren dalam hal ini  user dan kontraktor. Voting tersebut diambil untuk membuat proposal perdamaian atas penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU).

“Dalam voting ini pihak kreditur separatis tidak menyetujui sehingga status PT GML jadi pailit,” ungkapnya.

Mantan Direktur PT Arema Indonesia tersebut menyesalkan sikap PT BTN yang tidak menyetujui hasil voting perdamaian. Sebab, para user dan pengembang berusaha untuk tidak dipailitkan. Karena sejumlah user juga telah membeli unit tersebut sejak 2011 silam. Khususnya mereka yang telah membayar lunas unit apartemen maupun kondotel.

Langkah untuk melakukan kasasi bisa saja dilakukan. Namun Gunadi tak bisa melakukan hal itu lantaran pihak pengembang sudah melakukan PKPU. Jika belum melakukan PKPU dan diputuskan sepihak, maka langkah kasasi bakal dilakukan.

“Saat ini kami ingin user bisa mendapat perlindungan, apalagi verifikasi oleh kurator diharapkan bisa menguntungkan user,” tegas Gunadi.

Gunadi meminta para user untuk bisa melaporkan verifikasi ke kurator sejujur-jujurnya. Terkait potensi unit jadi boedel palilit atau lelang karena pailit, dia belum bisa berkomentar. Karena hasil verifikasi bakal dilakukan pada 16 Desember mendatang di Pengadilan Niaga Surabaya.

Dari informasi yang diterima koran ini, utang PT GML ke Bank BTN sebanyak Rp 280 miliar. Sementara aset yang dimiliki PT GML di apartemen dan kondotel itu sebesar Rp 326,7 miliar. Sehingga kemungkinan lelang bisa saja terjadi jika hasil verifikasi menemukan hal baru.”Kami harap jangan sampai ada konflik baru,” harap dia. (and/abm)

Pewarta: Aditya Novrian

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/