alexametrics
21.8 C
Malang
Thursday, 26 May 2022

Hanya Suarakan Pendapat, Massa Unras Tolak Dialog dengan DPRD

MALANG KOTA – Massa aksi unjuk rasa (unras) yang terdiri oleh Aliansi Malang Melawan (AMM) dan Solidaritas Perjuangan Buruh Indonesia (SPBI) menolak untuk melakukan dialog dengan anggota DPRD maupun wali kota dalam aksinya siang ini (20/10). Mereka hanya melakukan orasi di depan gedung DPRD untuk menyuarakan penolakan Undang-undang (UU) Cipta Kerja Omnibus Law.

Di tengah-tengah orasinya, Ketua SPBI Andi Irfan mengatakan percuma berdialog dengan DPRD jika aspirasi mereka tidak tersampaikan dengan baik dan hanya sebatas janji perkataan saja. “Nggak ada perlunya berdialog dengan anggota DPRD dan wali kota, kecuali mereka memiliki komitmen untuk membantu kita. Sehingga kami hanya menyuarakan pendapat dan melakukan konferensi pers saja,” tegas Andi.

Walaupun aksi sempat molor dan hanya tersisa beberapa massa saja, mereka tidak menyerah. Bahkan ketika aksi massa sempat terhenti di persimpangan Rajabali, karena adanya penyelundupan beberapa oknum tersebut akhirnya tetap dilaksanakan hingga depan DPRD Kota Malang.

“Memang awalnya kita ingin 3.000 massa datang turut serta pada aksi demo ini. Namun karena banyaknya aturan dari pabrik tempat buruh bekerja dan beberapa teman mahasiswa yang terhambat oleh kampus, yang tersisa hanya sekitar 1.000 ini. Yang dari kawan SPBI hanya sekitar 300 orang,” ungkap Irfan.

Irfan juga mengatakan bahwa aksi juga terpaksa berjalan molor, yang seharusnya mulai pukul 07.00, namun baru dimulai pada pukul 12.00. Hal ini disebabkan karena banyak dari mahasiswa dan beberapa massa aksi demo datangnya telat.

“Ya karena keterlambatan ini, mau tidak mau kan kita harus menunggu,” ungkapnya.

Sementara itu, Atta Nursari, salah seorang anggota koordinator massa aksi menampik bahwa aksi hanya dilakukan di persimpangan Rajabali saja. Ia mengatakan
bahwa mereka tujuan mereka tetap di depan Gedung DPRD Kota Malang.

“Kami hanya melakukan orasi dan melakukan long march saja di persimpangan Rajabali ini. Kami tetap melakukan orasi dan konferensi pers depan Gedung DPRD Kota Malang,” kata Atta.

Pewarta: Errica Vannie A

MALANG KOTA – Massa aksi unjuk rasa (unras) yang terdiri oleh Aliansi Malang Melawan (AMM) dan Solidaritas Perjuangan Buruh Indonesia (SPBI) menolak untuk melakukan dialog dengan anggota DPRD maupun wali kota dalam aksinya siang ini (20/10). Mereka hanya melakukan orasi di depan gedung DPRD untuk menyuarakan penolakan Undang-undang (UU) Cipta Kerja Omnibus Law.

Di tengah-tengah orasinya, Ketua SPBI Andi Irfan mengatakan percuma berdialog dengan DPRD jika aspirasi mereka tidak tersampaikan dengan baik dan hanya sebatas janji perkataan saja. “Nggak ada perlunya berdialog dengan anggota DPRD dan wali kota, kecuali mereka memiliki komitmen untuk membantu kita. Sehingga kami hanya menyuarakan pendapat dan melakukan konferensi pers saja,” tegas Andi.

Walaupun aksi sempat molor dan hanya tersisa beberapa massa saja, mereka tidak menyerah. Bahkan ketika aksi massa sempat terhenti di persimpangan Rajabali, karena adanya penyelundupan beberapa oknum tersebut akhirnya tetap dilaksanakan hingga depan DPRD Kota Malang.

“Memang awalnya kita ingin 3.000 massa datang turut serta pada aksi demo ini. Namun karena banyaknya aturan dari pabrik tempat buruh bekerja dan beberapa teman mahasiswa yang terhambat oleh kampus, yang tersisa hanya sekitar 1.000 ini. Yang dari kawan SPBI hanya sekitar 300 orang,” ungkap Irfan.

Irfan juga mengatakan bahwa aksi juga terpaksa berjalan molor, yang seharusnya mulai pukul 07.00, namun baru dimulai pada pukul 12.00. Hal ini disebabkan karena banyak dari mahasiswa dan beberapa massa aksi demo datangnya telat.

“Ya karena keterlambatan ini, mau tidak mau kan kita harus menunggu,” ungkapnya.

Sementara itu, Atta Nursari, salah seorang anggota koordinator massa aksi menampik bahwa aksi hanya dilakukan di persimpangan Rajabali saja. Ia mengatakan
bahwa mereka tujuan mereka tetap di depan Gedung DPRD Kota Malang.

“Kami hanya melakukan orasi dan melakukan long march saja di persimpangan Rajabali ini. Kami tetap melakukan orasi dan konferensi pers depan Gedung DPRD Kota Malang,” kata Atta.

Pewarta: Errica Vannie A

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/