alexametrics
24C
Malang
Thursday, 15 April 2021

Jumlah Pasien Covid-19 di Kota Malang Cenderung Turun

MALANG KOTA – Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Mikro yang berlaku mulai 9-22 Februari membuahkan hasil positif. Wali Kota Malang Sutiaji mengklaim penerapan PPKM mikro tersebut berhasil menekan angka penularan Covid-19. Demikian juga dengan Direktur RS Dr Saiful Anwar Dr dr Kohar Hari Santoso SpAn KIC KAP yang menyatakan jumlah pasien Covid-19 yang dirawat cenderung menurun.

”Kalau dilihat memang jumlah pasien yang di rumah sakit Dr Saiful Anwar dengan rumah sakit lapangan itu akhir-akhir ini mengalami penurunan,” terang dr Kohar kepada Jawa Pos Radar Malang. Namun, terkait penurunan jumlah pasien ini, apakah ada korelasinya dengan penerapan PPKM mikro, pihaknya belum bisa menjawab secara pasti.

Tetapi yang jelas, bahwa antara kegiatan PPKM mikro dengan kondisi jumlah pasien yang menurun ini sepertinya beriringan. Pihaknya menilai penurunan angka penularan Covid-19 ini bisa terlihat dari bed occupancy ratio (BOR). ”Kalau sebelum itu BOR-nya sekitar 80 persen lebih,” jelas dr Kohar.

Sementara beberapa waktu terakhir setelah diberlakukan PPKM mikro, BOR-nya terpantau berada di kisaran 50-60 persen. Tinggal separo dari kapasitas rumah sakit yang berjumlah 220 bed untuk Ruang Incovit. ”Penurunan pasien ini kalau dilihat perbandingan antara pasien yang keluar dengan yang masuk dirawat sekarang ini lebih banyak yang keluar rumah sakit daripada pasien baru yang masuk,” jelasnya.

Ini menunjukkan bahwa penularan Covid-19 di masyarakat setidaknya berhasil ditekan. Terlihat dari berkurangnya pasien baru yang dirawat di rumah sakit rujukan terbesar di Jawa Timur ini. Meskipun demikian, grafik keluar masuk pasien masih terus bergerak. ”Tadi (Jumat, 19/20) saja sudah ada yang masuk lagi. Terakhir kemarin (Kamis, 18/20) ada 89 pasien yang dirawat,” ungkapnya.

Begitu pula dengan gejala pasien yang dirawat, mulai tanpa gejala, gejala ringan, sedang, sampai berat semuanya terlihat mengalami penurunan baik di RSSA dan RS Lapangan Idjen Boulevard. Sementara pasien yang dirawat rata-rata berusia produktif antara 30 tahun sampai 50 tahun.

Berdasarkan data yang diberikan, jumlah pasien rawat inap terlihat mengalami fluktuasi sejak awal Februari lalu. Pada awal Februari tercatat ada 113 pasien yang dirawat, kemudian jumlahnya bertambah menjadi 120 pasien pada keesokan harinya. Hingga pada 9 Februari jumlahnya berhasil turun menjadi 96 pasien dan pada 16 Februari jumlahnya menjadi tinggal 80 pasien. Begitu pula dengan BOR yang juga fluktuatif jumlahnya. Sejak awal Februari berada di 69,7 persen okupansinya dan terakhir pada 16 Februari okupansinya berada di 39 persen.

Kendati jumlah penularan terlihat menurun, jumlah kematian yang tercatat belum menunjukkan perubahan yang signifikan. Angka kematian beberapa waktu terakhir ini masih proporsional dengan angka kematian saat dulu belum diberlakukan PPKM mikro. ”Memang cenderung agak berkurang tapi kurang signifikan,” lanjutnya. (rmc/ref/c1/mas)

MALANG KOTA – Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Mikro yang berlaku mulai 9-22 Februari membuahkan hasil positif. Wali Kota Malang Sutiaji mengklaim penerapan PPKM mikro tersebut berhasil menekan angka penularan Covid-19. Demikian juga dengan Direktur RS Dr Saiful Anwar Dr dr Kohar Hari Santoso SpAn KIC KAP yang menyatakan jumlah pasien Covid-19 yang dirawat cenderung menurun.

”Kalau dilihat memang jumlah pasien yang di rumah sakit Dr Saiful Anwar dengan rumah sakit lapangan itu akhir-akhir ini mengalami penurunan,” terang dr Kohar kepada Jawa Pos Radar Malang. Namun, terkait penurunan jumlah pasien ini, apakah ada korelasinya dengan penerapan PPKM mikro, pihaknya belum bisa menjawab secara pasti.

Tetapi yang jelas, bahwa antara kegiatan PPKM mikro dengan kondisi jumlah pasien yang menurun ini sepertinya beriringan. Pihaknya menilai penurunan angka penularan Covid-19 ini bisa terlihat dari bed occupancy ratio (BOR). ”Kalau sebelum itu BOR-nya sekitar 80 persen lebih,” jelas dr Kohar.

Sementara beberapa waktu terakhir setelah diberlakukan PPKM mikro, BOR-nya terpantau berada di kisaran 50-60 persen. Tinggal separo dari kapasitas rumah sakit yang berjumlah 220 bed untuk Ruang Incovit. ”Penurunan pasien ini kalau dilihat perbandingan antara pasien yang keluar dengan yang masuk dirawat sekarang ini lebih banyak yang keluar rumah sakit daripada pasien baru yang masuk,” jelasnya.

Ini menunjukkan bahwa penularan Covid-19 di masyarakat setidaknya berhasil ditekan. Terlihat dari berkurangnya pasien baru yang dirawat di rumah sakit rujukan terbesar di Jawa Timur ini. Meskipun demikian, grafik keluar masuk pasien masih terus bergerak. ”Tadi (Jumat, 19/20) saja sudah ada yang masuk lagi. Terakhir kemarin (Kamis, 18/20) ada 89 pasien yang dirawat,” ungkapnya.

Begitu pula dengan gejala pasien yang dirawat, mulai tanpa gejala, gejala ringan, sedang, sampai berat semuanya terlihat mengalami penurunan baik di RSSA dan RS Lapangan Idjen Boulevard. Sementara pasien yang dirawat rata-rata berusia produktif antara 30 tahun sampai 50 tahun.

Berdasarkan data yang diberikan, jumlah pasien rawat inap terlihat mengalami fluktuasi sejak awal Februari lalu. Pada awal Februari tercatat ada 113 pasien yang dirawat, kemudian jumlahnya bertambah menjadi 120 pasien pada keesokan harinya. Hingga pada 9 Februari jumlahnya berhasil turun menjadi 96 pasien dan pada 16 Februari jumlahnya menjadi tinggal 80 pasien. Begitu pula dengan BOR yang juga fluktuatif jumlahnya. Sejak awal Februari berada di 69,7 persen okupansinya dan terakhir pada 16 Februari okupansinya berada di 39 persen.

Kendati jumlah penularan terlihat menurun, jumlah kematian yang tercatat belum menunjukkan perubahan yang signifikan. Angka kematian beberapa waktu terakhir ini masih proporsional dengan angka kematian saat dulu belum diberlakukan PPKM mikro. ”Memang cenderung agak berkurang tapi kurang signifikan,” lanjutnya. (rmc/ref/c1/mas)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru