alexametrics
22.7 C
Malang
Monday, 27 June 2022

Kasus Bunuh Diri Meningkat 20 Persen

MALANG KOTA – Kasus bunuh diri di Kota Pendidikan ini tergolong tinggi. Dalam kurun waktu lima bulan saja, Januari-Mei lalu, Polresta Malang Kota menerima laporan lima kasus. Jika dirata-rata, setiap bulan orang yang mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.

Angka kasus bunuh diri tersebut meningkat dibanding periode yang sama pada tahun 2021 lalu. “Jika ditotal, sepanjang tahun 2020 ada sembilan kasus. Sedangkan pada 2021 ada 10 kasus bunuh diri,” ujar Wakasatreskrim Polresta Malang Kota Iptu Nurwasis, beberapa hari lalu.

Nurwasis menyebutkan, penyebab yang paling mendominasi bunuh diri di Kota Malang adalah faktor ekonomi. “Namun, dari pengamatan saya, selain faktor ekonomi juga terdapat faktor penyakit. Jadi mereka tidak tahan dengan penyakitnya. Kemudian, ada pula faktor kekecewaan dengan orang lain,” sambungnya.

Santernya kasus bunuh diri, katanya, tentunya perlu menjadi perhatian bersama. Terlebih lagi, saat ini trennya tidak hanya terjadi pada orang dewasa, tetapi juga remaja. “Sejak pandemi, pasien di RSSA yang memiliki pemikiran untuk bunuh diri dan menyakiti diri sendiri meningkat 20 persen,” ujar ahli kesehatan jiwa Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang dr Frilya Rachma Putri SpKJ (K).

“Namun terkadang mereka ke rumah sakit bukannya ingin mengakhiri hidup, melainkan lebih kepada ingin mengakhiri rasa sakit,” tambahnya.

Dia mengatakan, faktor penyebabnya beragam. Tidak melulu karena faktor ekonomi. Ada juga yang disebabkan karena gangguan mood hingga gangguan psikotik. “Kalau pada remaja, biasanya karena kepribadian mereka yang masih rentan, sehingga saat dihadapkan pada suatu masalah, mereka tidak punya mekanisme koping (coping mechanisme). Selain itu juga karena imej diri yang kabur yang membuat mereka tidak bisa berpikir panjang,” jelasnya.

Untuk mencegah kasus kejiwaan yang berujung bunuh diri, Frilya mengimbau agar lingkungan sekitar menjadi pendengar yang aktif dan mampu mengenali tindakan yang mengarah pada keinginan menyakiti diri. Kemudian, diperlukan sikap yang tidak suka menghakimi (judgemental). “Tidak boleh menstigma juga. Tapi harus bisa memberdayakan, memberikan pendampingan, atau mendorong mereka supaya mencari pertolongan ke profesional,” pungkas Frilya. (mel/dan)

MALANG KOTA – Kasus bunuh diri di Kota Pendidikan ini tergolong tinggi. Dalam kurun waktu lima bulan saja, Januari-Mei lalu, Polresta Malang Kota menerima laporan lima kasus. Jika dirata-rata, setiap bulan orang yang mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.

Angka kasus bunuh diri tersebut meningkat dibanding periode yang sama pada tahun 2021 lalu. “Jika ditotal, sepanjang tahun 2020 ada sembilan kasus. Sedangkan pada 2021 ada 10 kasus bunuh diri,” ujar Wakasatreskrim Polresta Malang Kota Iptu Nurwasis, beberapa hari lalu.

Nurwasis menyebutkan, penyebab yang paling mendominasi bunuh diri di Kota Malang adalah faktor ekonomi. “Namun, dari pengamatan saya, selain faktor ekonomi juga terdapat faktor penyakit. Jadi mereka tidak tahan dengan penyakitnya. Kemudian, ada pula faktor kekecewaan dengan orang lain,” sambungnya.

Santernya kasus bunuh diri, katanya, tentunya perlu menjadi perhatian bersama. Terlebih lagi, saat ini trennya tidak hanya terjadi pada orang dewasa, tetapi juga remaja. “Sejak pandemi, pasien di RSSA yang memiliki pemikiran untuk bunuh diri dan menyakiti diri sendiri meningkat 20 persen,” ujar ahli kesehatan jiwa Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang dr Frilya Rachma Putri SpKJ (K).

“Namun terkadang mereka ke rumah sakit bukannya ingin mengakhiri hidup, melainkan lebih kepada ingin mengakhiri rasa sakit,” tambahnya.

Dia mengatakan, faktor penyebabnya beragam. Tidak melulu karena faktor ekonomi. Ada juga yang disebabkan karena gangguan mood hingga gangguan psikotik. “Kalau pada remaja, biasanya karena kepribadian mereka yang masih rentan, sehingga saat dihadapkan pada suatu masalah, mereka tidak punya mekanisme koping (coping mechanisme). Selain itu juga karena imej diri yang kabur yang membuat mereka tidak bisa berpikir panjang,” jelasnya.

Untuk mencegah kasus kejiwaan yang berujung bunuh diri, Frilya mengimbau agar lingkungan sekitar menjadi pendengar yang aktif dan mampu mengenali tindakan yang mengarah pada keinginan menyakiti diri. Kemudian, diperlukan sikap yang tidak suka menghakimi (judgemental). “Tidak boleh menstigma juga. Tapi harus bisa memberdayakan, memberikan pendampingan, atau mendorong mereka supaya mencari pertolongan ke profesional,” pungkas Frilya. (mel/dan)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/