alexametrics
25.1 C
Malang
Sunday, 25 July 2021

300 Penderita Covid-19 di Kabupaten Malang Pilih Isoman

KEPANJEN – Sejumlah rumah sakit (RS) rujukan nyaris penuh dan banyak tenaga kesehatan (nakes) yang terpapar membuat warga yang positif Covid-19 memilih isolasi mandiri (Isoman). Setidaknya, saat ini sudah ada 300 penderita Covid-19 yang isoman, baik di safe house kecamatan maupun di rumah masing-masing.

Banyaknya penderita baru yang isoman itu terungkap saat Bupati Malang, Drs H. M. Sanusi MM melakukan inspeksi mendadak (sidak) di safe house kawasan Desa Jatirejoyoso, Kecamatan Kepanjen kemarin (21/7).

”Saat ini ada sekitar 300-an orang yang melakukan isolasi mandiri. Detailnya masih didata karena setiap hari selalu berkembang,” ujar Sanusi yang didampingi personel dari jajaran TNI dan Polri.

Mantan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Malang itu menambahkan, keberadaan safe house di setiap kecamatan itu bisa mengurangi Bed Occupancy Rate (BOR) atau keterisian tempat tidur di RS rujukan Covid-19. Saat ini, keterisian tempat tidur di beberapa RS rujukan Covid-19 di Kabupaten Malang sudah mencapai 80 – 90 persen.

Selain itu, isolasi mandiri juga bermanfaat untuk menghemat tenaga para tenaga kesehatan (nakes) di Kabupaten Malang. Data yang diterima Sanusi, banyak nakes yang terpapar Covid-19, sehingga mereka terpaksa melakukan isolasi mandiri.

”Tenaganya terbatas, ditambah lagi dokternya terpapar Covid-19, nakesnya terpapar sehingga pelayanan susah. Di RSUD Kanjuruhan ini ada sekitar delapan dokter terpapar,” terang Sanusi.

Di samping itu, juga ada dua laboratorium di RS rujukan Covid-19 yang tidak berfungsi karena lockdown. Misalnya Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kepanjen dan RS Muhammadiyah.

”Petugas laboratoriumnya banyak yang positif terpapar virus. Ada delapan yang kena (terpapar Covid-19),” tutur politikus PDI Perjuangan itu.

Untuk mengatasi hal itu, langkah yang dia ambil yakni tetap menggencarkan sosialisasi disiplin protokol kesehatan (prokes) di setiap daerah. Menurutnya, satu-satunya solusi untuk menekan angka penyebaran Covid-19 hanya disiplin menjalankan prokes.

”Kesadaran masyarakat untuk memakai masker, menjaga jarak, dan cuci tangan itu yang perlu digalakkan,” katanya.

Terpisah, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Malang, Dr Ir Wahyu Hidayat MM mengatakan, pemerintah kabupaten (Pemkab) Malang terus menggencarkan pentingnya menerapkan prokes. Menurut dia, penambahan kapasitas di RS rujukan Covid-19 sia-sia jika tidak diiringi dengan kesadaran masyarakat untuk menekan sebaran virus korona.

”Karena jika masyarakat tidak peduli, berapapun jumlah BOR RS juga akan tetap penuh,” tutur pejabat eselon II A Pemkab Malang itu.
Dia berkomitmen akan terus memaksimalkan pembatasan dan juga operasi yustisi agar kesadaran warga bisa terus meningkat. ”Harapan kami, kesadaran warga bisa terus meningkat. Jadi penyebaran virus bisa terus ditekan,” kata Wahyu. (fik/dan/rmc)

KEPANJEN – Sejumlah rumah sakit (RS) rujukan nyaris penuh dan banyak tenaga kesehatan (nakes) yang terpapar membuat warga yang positif Covid-19 memilih isolasi mandiri (Isoman). Setidaknya, saat ini sudah ada 300 penderita Covid-19 yang isoman, baik di safe house kecamatan maupun di rumah masing-masing.

Banyaknya penderita baru yang isoman itu terungkap saat Bupati Malang, Drs H. M. Sanusi MM melakukan inspeksi mendadak (sidak) di safe house kawasan Desa Jatirejoyoso, Kecamatan Kepanjen kemarin (21/7).

”Saat ini ada sekitar 300-an orang yang melakukan isolasi mandiri. Detailnya masih didata karena setiap hari selalu berkembang,” ujar Sanusi yang didampingi personel dari jajaran TNI dan Polri.

Mantan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Malang itu menambahkan, keberadaan safe house di setiap kecamatan itu bisa mengurangi Bed Occupancy Rate (BOR) atau keterisian tempat tidur di RS rujukan Covid-19. Saat ini, keterisian tempat tidur di beberapa RS rujukan Covid-19 di Kabupaten Malang sudah mencapai 80 – 90 persen.

Selain itu, isolasi mandiri juga bermanfaat untuk menghemat tenaga para tenaga kesehatan (nakes) di Kabupaten Malang. Data yang diterima Sanusi, banyak nakes yang terpapar Covid-19, sehingga mereka terpaksa melakukan isolasi mandiri.

”Tenaganya terbatas, ditambah lagi dokternya terpapar Covid-19, nakesnya terpapar sehingga pelayanan susah. Di RSUD Kanjuruhan ini ada sekitar delapan dokter terpapar,” terang Sanusi.

Di samping itu, juga ada dua laboratorium di RS rujukan Covid-19 yang tidak berfungsi karena lockdown. Misalnya Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kepanjen dan RS Muhammadiyah.

”Petugas laboratoriumnya banyak yang positif terpapar virus. Ada delapan yang kena (terpapar Covid-19),” tutur politikus PDI Perjuangan itu.

Untuk mengatasi hal itu, langkah yang dia ambil yakni tetap menggencarkan sosialisasi disiplin protokol kesehatan (prokes) di setiap daerah. Menurutnya, satu-satunya solusi untuk menekan angka penyebaran Covid-19 hanya disiplin menjalankan prokes.

”Kesadaran masyarakat untuk memakai masker, menjaga jarak, dan cuci tangan itu yang perlu digalakkan,” katanya.

Terpisah, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Malang, Dr Ir Wahyu Hidayat MM mengatakan, pemerintah kabupaten (Pemkab) Malang terus menggencarkan pentingnya menerapkan prokes. Menurut dia, penambahan kapasitas di RS rujukan Covid-19 sia-sia jika tidak diiringi dengan kesadaran masyarakat untuk menekan sebaran virus korona.

”Karena jika masyarakat tidak peduli, berapapun jumlah BOR RS juga akan tetap penuh,” tutur pejabat eselon II A Pemkab Malang itu.
Dia berkomitmen akan terus memaksimalkan pembatasan dan juga operasi yustisi agar kesadaran warga bisa terus meningkat. ”Harapan kami, kesadaran warga bisa terus meningkat. Jadi penyebaran virus bisa terus ditekan,” kata Wahyu. (fik/dan/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru