alexametrics
25.1 C
Malang
Sunday, 25 July 2021

Omzet Sentra Oleh-Oleh di Malang Drop, Jualan Online Belum Optimal

MALANG KOTA – Kebijakan perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) banyak mendapat respon negatif. Meski memahami tujuannya untuk menekan penyebaran Covid-19, namun kondisi tersebut membuat ekonomi masyarakat terjun bebas. Tak terkecuali para pelaku usaha oleh-oleh di Malang.

Banyaknya tempat wisata yang tutup dan adanya penyekatan jalan membuat banyak wisatawan batal datang ke Malang. Akibatnya omzet sentra oleh-oleh di Kota Malang kembang kempis. Pasalnya, pendapatan mereka drop alias menurun drastis hingga 80 persen.

Salah satu pengusaha keripik tempe Sanan, Etik mengungkapkan, merosotnya penjualan dikarenakan pembatasan mobilitas yang tengah dilakukan. Diketahui, mayoritas pelanggan toko oleh-oleh didominasi masyarakat yang bepergian ke Kota Malang.
“Pelanggan kita rata-rata berasal dari wisatawan yang datang mengunjungi Malang. Semenjak PPKM kan sudah tidak boleh pergi-pergi, jadi seperti ini lah kondisi saat ini,” ujar wanita 38 tahun ini sambil menunjuk kearah parkiran yang terlihat lenggang dan sepi pengunjung.

Meski telah berkecimpung selama 11 tahun dalam industri keripik tempe, dirinya mengaku baru kali ini mengalami penurunan omzet secara drastis. “Supaya bisnis tetap jalan, kami menurunkan harga agar produk yang ditawarkan dapat terjual meski merugi,” katanya.

Lebih lanjut, Etik mengatakan sebelum pandemi dalam satu hari dapat menjual hingga 50 kilogram keripik tempe, namun saat ini per hari paling tinggi hanya bisa menjual 10 kilogram.

Hal serupa dikatakan Kinanti, salah satu penjual toko manisan dan oleh-oleh khas Malang. Dia mengaku, selama pandemi tidak jarang toko miliknya harus tutup dan ada pengurangan karyawan karena sepinya pelanggan.

“Kita hanya buka saat akhir pekan, untuk menutupi operasional sehari-hari. Bahkan karyawan yang awalnya delapan orang saat ini, hanya tinggal empat orang karena sepinya pembeli selama pandemi,” tutur dia.

Untuk tetap mendapatkan penghasilan, pihaknya menggencarkan penjualan melalui media daring yang dikelola sendiri. Meski, hasilnya belum maksimal karena pembatasan sosial membuat mereka kesulitan untuk mengirimkan pesanan.

Pewarta: Andika Satria Perdana

MALANG KOTA – Kebijakan perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) banyak mendapat respon negatif. Meski memahami tujuannya untuk menekan penyebaran Covid-19, namun kondisi tersebut membuat ekonomi masyarakat terjun bebas. Tak terkecuali para pelaku usaha oleh-oleh di Malang.

Banyaknya tempat wisata yang tutup dan adanya penyekatan jalan membuat banyak wisatawan batal datang ke Malang. Akibatnya omzet sentra oleh-oleh di Kota Malang kembang kempis. Pasalnya, pendapatan mereka drop alias menurun drastis hingga 80 persen.

Salah satu pengusaha keripik tempe Sanan, Etik mengungkapkan, merosotnya penjualan dikarenakan pembatasan mobilitas yang tengah dilakukan. Diketahui, mayoritas pelanggan toko oleh-oleh didominasi masyarakat yang bepergian ke Kota Malang.
“Pelanggan kita rata-rata berasal dari wisatawan yang datang mengunjungi Malang. Semenjak PPKM kan sudah tidak boleh pergi-pergi, jadi seperti ini lah kondisi saat ini,” ujar wanita 38 tahun ini sambil menunjuk kearah parkiran yang terlihat lenggang dan sepi pengunjung.

Meski telah berkecimpung selama 11 tahun dalam industri keripik tempe, dirinya mengaku baru kali ini mengalami penurunan omzet secara drastis. “Supaya bisnis tetap jalan, kami menurunkan harga agar produk yang ditawarkan dapat terjual meski merugi,” katanya.

Lebih lanjut, Etik mengatakan sebelum pandemi dalam satu hari dapat menjual hingga 50 kilogram keripik tempe, namun saat ini per hari paling tinggi hanya bisa menjual 10 kilogram.

Hal serupa dikatakan Kinanti, salah satu penjual toko manisan dan oleh-oleh khas Malang. Dia mengaku, selama pandemi tidak jarang toko miliknya harus tutup dan ada pengurangan karyawan karena sepinya pelanggan.

“Kita hanya buka saat akhir pekan, untuk menutupi operasional sehari-hari. Bahkan karyawan yang awalnya delapan orang saat ini, hanya tinggal empat orang karena sepinya pembeli selama pandemi,” tutur dia.

Untuk tetap mendapatkan penghasilan, pihaknya menggencarkan penjualan melalui media daring yang dikelola sendiri. Meski, hasilnya belum maksimal karena pembatasan sosial membuat mereka kesulitan untuk mengirimkan pesanan.

Pewarta: Andika Satria Perdana

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru