alexametrics
27C
Malang
Sunday, 7 March 2021

Protes Proyek Kajoetangan, Seniman Malang Gelar Aksi Teatrikal

MALANG KOTA – Malang Performing Art Community (Mapac) punya cara unik untuk menyampaikan kritiknya kepada Pemerintah Kota Malang. Lewat performance art, anggota komunitas tersebut menggelar aksi protes terhadap proyek Kajoetangan Heritage di perempatan Rajabali kemarin (22/2).

Di tengah-tengah keramaian lalu lintas, dua orang seniman memperagakan dua penampilan dengan makna yang berbeda pula. Seniman pertama bernama Sogeh Ahmad misalnya, membawa properti berupa seikat bunga mawar merah, masker oksigen, pot berisi lumpur dan perban. ”Jadi (aksi) ini bertujuan untuk mengkritik Pemkot Malang. Di sini saya berperan sebagai masyarakat yang terkena imbas dari proyek itu,” ujar Sogeh.

Dalam aksinya, pria yang berprofesi sebagai arsitek itu memakai masker oksigen yang menandakan semakin hilangnya kawasan hutan kota sebagai sumber oksigen. Pot berisi lumpur dia letakkan di atas kepalanya dan diikat dengan perban. Hal ini menjadi simbol bahwa masyarakat yang kena dampak dari proyek ini berupa datangnya banjir. Dia juga mengacungkan seikat bunga yang menandakan simbol Malang sebagai Kota Bunga.

“Kajoetangan Heritage ini apa sih yang ingin kita beri ke generasi selanjutnya, benar-benar menjadi warisan yang bakal dikenang atau berubah lagi,” terangnya. Performance ini menjadi protes yang menunjukkan bahwa tidak ada kejelasan arah proyek pembangunan Kajoetangan Heritage.

Sementara itu, penampilan kedua diperagakan oleh Braga Aria B. Pria ini menggunakan kostum setelan jas necis ala pegawai kantor lengkap dengan dasi dan peci hitam. Wajahnya diolesi bedak tabur berwarna putih dan membawa sebotol air sabun. Menurut Braga, kostum yang dia pakai itu mewakili pemerintah. Kemudian dia terlihat bersenang-senang dengan meniupkan air sabun itu sehingga menciptakan gelembung-gelembung. “Gelembung ini sebenarnya wujud dari kritikan masyarakat yang begitu banyak tapi setelah itu pecah dan tidak berbekas apa-apa. Artinya pemerintah seakan tidak mendengar kata rakyatnya,” ujar Braga. (rmc/ref/iik)

MALANG KOTA – Malang Performing Art Community (Mapac) punya cara unik untuk menyampaikan kritiknya kepada Pemerintah Kota Malang. Lewat performance art, anggota komunitas tersebut menggelar aksi protes terhadap proyek Kajoetangan Heritage di perempatan Rajabali kemarin (22/2).

Di tengah-tengah keramaian lalu lintas, dua orang seniman memperagakan dua penampilan dengan makna yang berbeda pula. Seniman pertama bernama Sogeh Ahmad misalnya, membawa properti berupa seikat bunga mawar merah, masker oksigen, pot berisi lumpur dan perban. ”Jadi (aksi) ini bertujuan untuk mengkritik Pemkot Malang. Di sini saya berperan sebagai masyarakat yang terkena imbas dari proyek itu,” ujar Sogeh.

Dalam aksinya, pria yang berprofesi sebagai arsitek itu memakai masker oksigen yang menandakan semakin hilangnya kawasan hutan kota sebagai sumber oksigen. Pot berisi lumpur dia letakkan di atas kepalanya dan diikat dengan perban. Hal ini menjadi simbol bahwa masyarakat yang kena dampak dari proyek ini berupa datangnya banjir. Dia juga mengacungkan seikat bunga yang menandakan simbol Malang sebagai Kota Bunga.

“Kajoetangan Heritage ini apa sih yang ingin kita beri ke generasi selanjutnya, benar-benar menjadi warisan yang bakal dikenang atau berubah lagi,” terangnya. Performance ini menjadi protes yang menunjukkan bahwa tidak ada kejelasan arah proyek pembangunan Kajoetangan Heritage.

Sementara itu, penampilan kedua diperagakan oleh Braga Aria B. Pria ini menggunakan kostum setelan jas necis ala pegawai kantor lengkap dengan dasi dan peci hitam. Wajahnya diolesi bedak tabur berwarna putih dan membawa sebotol air sabun. Menurut Braga, kostum yang dia pakai itu mewakili pemerintah. Kemudian dia terlihat bersenang-senang dengan meniupkan air sabun itu sehingga menciptakan gelembung-gelembung. “Gelembung ini sebenarnya wujud dari kritikan masyarakat yang begitu banyak tapi setelah itu pecah dan tidak berbekas apa-apa. Artinya pemerintah seakan tidak mendengar kata rakyatnya,” ujar Braga. (rmc/ref/iik)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru