alexametrics
22.6 C
Malang
Thursday, 19 May 2022

Tutupi Utang Rp 12 M, Kondotel Bermasalah Ganti Pengelola

MALANG KOTA – Tengara ada yang tak beres dalam investasi unit kondominium hotel atau kondotel Blue Bells di Jalan Kedawung, Kota Malang sudah diendus para user atau pembeli. Sekitar 50 user yang diperkirakan sudah keluar uang hingga miliaran rupiah, namun hingga kini haknya belum dipenuhi.

Para pembeli sudah resah cukup lama. Sebab, rata-rata mereka sudah mengeluarkan duit antara Rp 300 juta sampai Rp 385 juta. ”Artinya, kalau diambil rata-rata pembayaran terendah (Rp 300 juta), berarti sudah Rp 15 miliar,” ujar pembeli kondotel yang mewanti-wanti namanya dirahasiakan.

Sebenarnya, sebanyak 50 pembeli tersebut terbagi menjadi dua. Pertama, tahap 1 untuk pembelian tahun 2018. Kedua, untuk tahap 2 bagi pembelian tahun 2019-2020. Yang cukup mengagetkan para user (pembeli) adalah saat tiba-tiba ada kabar jika Rudi selaku pemilik kondotel Blue Bells menghilang pada Desember 2020. Lalu, muncul kabar lain jika pengelolaan kondotel Blue Bells sudah beralih ke manajemen berbeda, yakni dari PT BWI beralih ke manajemen PT Citra Mandiri Cipta (CMC) yang bermarkas di Surabaya.

Nama kondotel Blue Bells pun berubah menjadi Damar Hotel. Disebut-sebut, CMC mengelola kondotel tersebut dalam waktu tiga tahun dan juga mempunyai tanggungan sebesar Rp 12 miliar yang belum terbayarkan oleh Rudi. ”Makanya CMC bilang ke user dan tenant itu juga sebagai korban,” tambahnya.

Untuk melihat kepastian kondisi kondotel, dia mengaku datang lagi dari Lumajang ke lokasi di Jalan Kedawung pada Selasa, 23 Maret 2021 lalu. ”Nampak rapi ketika dari depan, namun saat masuk ke area parkir yang berada di area belakang, konstruksi yang belum selesai dan tumpukan semen dan pasir masih teronggok di sana,” keluh dia.

Sementara itu, Koordinator Tenant PT CMC Vivi mengatakan bahwa pembangunan kondotel di sana sudah tertunda selama satu tahun. ”Sudah satu tahun mandek, Mas. Sebenarnya pembangunannya ada dua tahap, tahap satu sudah selesai yang berdiri sekarang, nah yang sekarang mandek ini tahap dua. Kalau yang di parkiran belakang itu renovasi,” sebutnya. Vivi mengungkapkan, kini semua urusan tenant dan pembangunan sepenuhnya ditanggung oleh CMC. ”Semua tenant bahkan pengelolaan hotel saat ini juga diambil alih oleh tim kerja Pak Rezal (Dirut PT CMC) dkk,” ujarnya.

Hal itu pun dibenarkan oleh Direktur Utama PT CMC Rezal Walyan. ”Kondotel yang dibangun oleh Pak Rudi itu sudah kami miliki secara mayoritas. Di sana kami ada 16 unit yang milik kami, tetap kongsi dengan kami juga dengan tenant,” kata dia. Dia mengatakan bahwa Rudi memiliki utang kepada CMC. ”Dulu kami itu kontraktor, nah kami tutup piutang itu ada sekitar Rp 12 miliar,” imbuhnya.

Perubahan seiring waktu terjadi, CMC pun mengambil alih pengelolaan yang sebelumnya dirasa kurang baik. ”Business plan dari pengelola sebelumnya itu buruk, salah satu dampaknya ialah konstruksi bangunan kami yang ada juga makin buruk tanpa ada maintenance-nya. Juga revenue dari unit yang ada tidak didapat dan (rugi) makin membengkak,” kata pria yang menjabat sebagai pengurus Majelis Pimpinan Wilayah (MPW) Pemuda Pancasila Provinsi Jawa Barat tersebut.

Tidak sampai di situ, 70 unit tahap kedua juga mangkrak. ”Problem selanjutnya 70 unit mangkrak, sementara Rp 14 miliar sudah masuk (dari user),” kata dia. Program kerja kemudian dibuat, yakni Damar Tahap 1 dan 2. Kini, pihaknya masih mencoba merangkul para tenant yang belum tergabung. (rmc/biy/c1/abm)

MALANG KOTA – Tengara ada yang tak beres dalam investasi unit kondominium hotel atau kondotel Blue Bells di Jalan Kedawung, Kota Malang sudah diendus para user atau pembeli. Sekitar 50 user yang diperkirakan sudah keluar uang hingga miliaran rupiah, namun hingga kini haknya belum dipenuhi.

Para pembeli sudah resah cukup lama. Sebab, rata-rata mereka sudah mengeluarkan duit antara Rp 300 juta sampai Rp 385 juta. ”Artinya, kalau diambil rata-rata pembayaran terendah (Rp 300 juta), berarti sudah Rp 15 miliar,” ujar pembeli kondotel yang mewanti-wanti namanya dirahasiakan.

Sebenarnya, sebanyak 50 pembeli tersebut terbagi menjadi dua. Pertama, tahap 1 untuk pembelian tahun 2018. Kedua, untuk tahap 2 bagi pembelian tahun 2019-2020. Yang cukup mengagetkan para user (pembeli) adalah saat tiba-tiba ada kabar jika Rudi selaku pemilik kondotel Blue Bells menghilang pada Desember 2020. Lalu, muncul kabar lain jika pengelolaan kondotel Blue Bells sudah beralih ke manajemen berbeda, yakni dari PT BWI beralih ke manajemen PT Citra Mandiri Cipta (CMC) yang bermarkas di Surabaya.

Nama kondotel Blue Bells pun berubah menjadi Damar Hotel. Disebut-sebut, CMC mengelola kondotel tersebut dalam waktu tiga tahun dan juga mempunyai tanggungan sebesar Rp 12 miliar yang belum terbayarkan oleh Rudi. ”Makanya CMC bilang ke user dan tenant itu juga sebagai korban,” tambahnya.

Untuk melihat kepastian kondisi kondotel, dia mengaku datang lagi dari Lumajang ke lokasi di Jalan Kedawung pada Selasa, 23 Maret 2021 lalu. ”Nampak rapi ketika dari depan, namun saat masuk ke area parkir yang berada di area belakang, konstruksi yang belum selesai dan tumpukan semen dan pasir masih teronggok di sana,” keluh dia.

Sementara itu, Koordinator Tenant PT CMC Vivi mengatakan bahwa pembangunan kondotel di sana sudah tertunda selama satu tahun. ”Sudah satu tahun mandek, Mas. Sebenarnya pembangunannya ada dua tahap, tahap satu sudah selesai yang berdiri sekarang, nah yang sekarang mandek ini tahap dua. Kalau yang di parkiran belakang itu renovasi,” sebutnya. Vivi mengungkapkan, kini semua urusan tenant dan pembangunan sepenuhnya ditanggung oleh CMC. ”Semua tenant bahkan pengelolaan hotel saat ini juga diambil alih oleh tim kerja Pak Rezal (Dirut PT CMC) dkk,” ujarnya.

Hal itu pun dibenarkan oleh Direktur Utama PT CMC Rezal Walyan. ”Kondotel yang dibangun oleh Pak Rudi itu sudah kami miliki secara mayoritas. Di sana kami ada 16 unit yang milik kami, tetap kongsi dengan kami juga dengan tenant,” kata dia. Dia mengatakan bahwa Rudi memiliki utang kepada CMC. ”Dulu kami itu kontraktor, nah kami tutup piutang itu ada sekitar Rp 12 miliar,” imbuhnya.

Perubahan seiring waktu terjadi, CMC pun mengambil alih pengelolaan yang sebelumnya dirasa kurang baik. ”Business plan dari pengelola sebelumnya itu buruk, salah satu dampaknya ialah konstruksi bangunan kami yang ada juga makin buruk tanpa ada maintenance-nya. Juga revenue dari unit yang ada tidak didapat dan (rugi) makin membengkak,” kata pria yang menjabat sebagai pengurus Majelis Pimpinan Wilayah (MPW) Pemuda Pancasila Provinsi Jawa Barat tersebut.

Tidak sampai di situ, 70 unit tahap kedua juga mangkrak. ”Problem selanjutnya 70 unit mangkrak, sementara Rp 14 miliar sudah masuk (dari user),” kata dia. Program kerja kemudian dibuat, yakni Damar Tahap 1 dan 2. Kini, pihaknya masih mencoba merangkul para tenant yang belum tergabung. (rmc/biy/c1/abm)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/