alexametrics
25.6 C
Malang
Thursday, 26 May 2022

Zona Merah, Pemkot Rilis Ketentuan Ibadah Sesuai Prokes

MALANG KOTA – Wali Kota Malang Sutiaji kembali mengeluarkan aturan baru terkait penerapan protokol kesehatan (prokes). Aturan itu tertuang pada Surat Edaran nomor 35 tahun 2020. Yakni tentang pelaksanaan protokol penyelenggaraan kegiatan ibadah dan kegiatan sosial di rumah ibadah.

SE tersebut ditunjukkan kepada seluruh ketua RW dan ketua RT serta Pengurus/pengelola/takmir tempat ibadah dan seluruh masyarakat. Ada beberapa poin yang ditegaskan Sutiaji dalam SE tersebut, utamanya dalam pelaksanaan ibadah.

Pertama, ibadah dilaksanakan dengan memperhatikan prokes sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Selanjutnya, seluruh pengelola rumah ibadah dan masyarakat harus menjaga situasi kondusif, aman, dan tertib di masing-masing rumah ibadah, sehingga memberikan ketenangan kepada masyarakat dalam menyikapi situasi dan kondisi dampak dari covid-19

“Menerapkan kewajiban menggunakan masker di area rumah ibadah, dan menjamin masyarakat yang melaksanakan ibadah dalam kondisi sehat serta dengan suhu maksimal 37,3 derajat,” ujar suami Widayati itu dalam SE yang ditetapkan pada 21 Desember.

Poin lainnya adalah, masyarakat diimbau mempersingkat waktu pelaksanaan ibadah tanpa mengurangi ketentuan kesempurnaan ibadah serta tidak menjalankan kotak amal secara berpindah-pindah antar jamaah, karena aktivitas tersebut rawan terhadap penularan penyakit.

“Menerapkan pembatasan jarak dengan memberikan tanda khusus minimal jarak 1 meter baik kanan kiri atau antara depan belakang tiap jamaah,” ujar dia.

Sedangkan kegiatan ibadah yang dilakukan dengan menggunakan tempat duduk, jarak tempat duduk minimal adalah 1,5 meter.

Untuk penerapan physical distancing, jumlah jamaah dibatasi sebanyak 25 persen dari kapasitas tempat ibadah. Jamaah juga dilarang melakukan kontak fisik, seperti berjabat tangan atau berpelukan. Sedangkan untuk kegiatan sosial di rumah ibadah atau kegiatan lain selain pelaksanaan ibadah, jumlah pesertanya dibatasi sebanyak 20 persen dari kapasitas ruang atau tidak boleh lebih dari 30 orang.

“Pelanggaran terhadap SE ini akan dikenakan sanksi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan,” ujar Sutiaji. Jika mengacu pada Perwal No 30 Tahun 2020. Maka sanksi yang diberikan adalah sanksi administratif berupa denda.

Pewarta: Arlita Ulya

MALANG KOTA – Wali Kota Malang Sutiaji kembali mengeluarkan aturan baru terkait penerapan protokol kesehatan (prokes). Aturan itu tertuang pada Surat Edaran nomor 35 tahun 2020. Yakni tentang pelaksanaan protokol penyelenggaraan kegiatan ibadah dan kegiatan sosial di rumah ibadah.

SE tersebut ditunjukkan kepada seluruh ketua RW dan ketua RT serta Pengurus/pengelola/takmir tempat ibadah dan seluruh masyarakat. Ada beberapa poin yang ditegaskan Sutiaji dalam SE tersebut, utamanya dalam pelaksanaan ibadah.

Pertama, ibadah dilaksanakan dengan memperhatikan prokes sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Selanjutnya, seluruh pengelola rumah ibadah dan masyarakat harus menjaga situasi kondusif, aman, dan tertib di masing-masing rumah ibadah, sehingga memberikan ketenangan kepada masyarakat dalam menyikapi situasi dan kondisi dampak dari covid-19

“Menerapkan kewajiban menggunakan masker di area rumah ibadah, dan menjamin masyarakat yang melaksanakan ibadah dalam kondisi sehat serta dengan suhu maksimal 37,3 derajat,” ujar suami Widayati itu dalam SE yang ditetapkan pada 21 Desember.

Poin lainnya adalah, masyarakat diimbau mempersingkat waktu pelaksanaan ibadah tanpa mengurangi ketentuan kesempurnaan ibadah serta tidak menjalankan kotak amal secara berpindah-pindah antar jamaah, karena aktivitas tersebut rawan terhadap penularan penyakit.

“Menerapkan pembatasan jarak dengan memberikan tanda khusus minimal jarak 1 meter baik kanan kiri atau antara depan belakang tiap jamaah,” ujar dia.

Sedangkan kegiatan ibadah yang dilakukan dengan menggunakan tempat duduk, jarak tempat duduk minimal adalah 1,5 meter.

Untuk penerapan physical distancing, jumlah jamaah dibatasi sebanyak 25 persen dari kapasitas tempat ibadah. Jamaah juga dilarang melakukan kontak fisik, seperti berjabat tangan atau berpelukan. Sedangkan untuk kegiatan sosial di rumah ibadah atau kegiatan lain selain pelaksanaan ibadah, jumlah pesertanya dibatasi sebanyak 20 persen dari kapasitas ruang atau tidak boleh lebih dari 30 orang.

“Pelanggaran terhadap SE ini akan dikenakan sanksi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan,” ujar Sutiaji. Jika mengacu pada Perwal No 30 Tahun 2020. Maka sanksi yang diberikan adalah sanksi administratif berupa denda.

Pewarta: Arlita Ulya

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/