alexametrics
22.6 C
Malang
Thursday, 19 May 2022

Peserta Lomba Urban Farming Kota Malang Hadirkan Inovasi Keren Ini

MALANG KOTA – Beragam inovasi bidang lingkungan ditemukan pada hari pertama penjurian Urban Farming Kota Malang yang dimulai kemarin (24/5). Di antaranya ada sistem pengairan tanaman berteknologi. Namanya Drip Irigation System. Inovasi pengairan ini cukup menyalakan satu keran, selang air yang berada di polybag akan secara otomatis menyiramkan ke tanaman.

Ada pula inovasi berupa tanaman yang terpasang QR code. Tinggal scan barcode, bisa dilihat kapan tanaman itu ditanam hingga kapan bisa dipanen. Inovasi tersebut ditemukan tim juri di kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Malang. ”Inovasi-inovasi seperti inilah yang kami harapkan bisa muncul di setiap perangkat daerah maupun dasawisma. Sehingga tujuan urban farming sebagai strategi pengendalian inflasi, ketahanan pangan, serta penanganan stunting akan tercapai,” papar Kasi Penganekaragaman, Konsumsi, dan Keamanan Pangan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang Mohamad Ridwan STP MM.

Untuk diketahui, Lomba Urban Farming ini atas inisiasi Dispangtan Kota Malang bekerja sama dengan Jawa Pos Radar Malang. Penjurian berlangsung mulai kemarin hingga 24 Juni mendatang. Total ada 148 objek penjurian. Terdiri dari 91 peserta kategori perangkat daerah dan 57 kategori dasawisma. Tim juri terdiri dari akademisi, tim penggerak PKK, media, kader lingkungan dan dispangtan.

Sementara itu, pada hari pertama penjurian kemarin, untuk kategori dasawisma, tim juri mengawali di RW 7 Kelurahan Blimbing. Di sana, warga menunjukkan lahan kosong yang disulap jadi area tanam sayuran dan buah-buahan. Lahan tersebut berada di samping rel kereta api. Selama beberapa tahun lahan itu menganggur. Maka, atas insiatif dari warga, lahan itu ditanami beragam jenis sayuran, seperti sawi. Hasil panenannya, dibagikan ke warga RW yang membutuhkan.

Mohamad Ridwan menambahkan, lomba ini mengutamakan semangat menanam dari peserta dan melihat inovasinya. Karena tujuan akhir adalah terjaganya ketahanan pangan, terutama sejak ada pandemi. Warga dimotiviasi untuk memanfaatkan lahan terbatas dengan budi daya pertanian. Khususnya sayuran.

”Agar setiap rumah menanam cabai. Kenapa begitu? Karena harga cabai sangat fluktuatif. Nah, untuk kebutuhan sehati-hari daripada beli di pasar lebih baik menanam sendiri. Oleh karenanya, kami mewajibkan agar di perlombaan urban farming ini harus ada tanaman cabai, terong, dan tomat,” tuturnya.

Dalam penjurian kemarin juga ada yang menarik. Yakni produk olahan berupa makanan dan minuman dari hasil panen warga sendiri. Itu ada di RT 1/RW 6 Kelurahan Balearjosari. Di sana, warga juga memanfaatkan lahan kosong untuk menanam beragam jenis sayur dan toga. Hasil panen diolah sendiri dan dijual ke warga sekitar. Misalkan ada keripik kelor, minuman jahe, minuman kelor. Produknya juga ada yang berupa serbuk. (rmc/bin/c1/abm)

MALANG KOTA – Beragam inovasi bidang lingkungan ditemukan pada hari pertama penjurian Urban Farming Kota Malang yang dimulai kemarin (24/5). Di antaranya ada sistem pengairan tanaman berteknologi. Namanya Drip Irigation System. Inovasi pengairan ini cukup menyalakan satu keran, selang air yang berada di polybag akan secara otomatis menyiramkan ke tanaman.

Ada pula inovasi berupa tanaman yang terpasang QR code. Tinggal scan barcode, bisa dilihat kapan tanaman itu ditanam hingga kapan bisa dipanen. Inovasi tersebut ditemukan tim juri di kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Malang. ”Inovasi-inovasi seperti inilah yang kami harapkan bisa muncul di setiap perangkat daerah maupun dasawisma. Sehingga tujuan urban farming sebagai strategi pengendalian inflasi, ketahanan pangan, serta penanganan stunting akan tercapai,” papar Kasi Penganekaragaman, Konsumsi, dan Keamanan Pangan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang Mohamad Ridwan STP MM.

Untuk diketahui, Lomba Urban Farming ini atas inisiasi Dispangtan Kota Malang bekerja sama dengan Jawa Pos Radar Malang. Penjurian berlangsung mulai kemarin hingga 24 Juni mendatang. Total ada 148 objek penjurian. Terdiri dari 91 peserta kategori perangkat daerah dan 57 kategori dasawisma. Tim juri terdiri dari akademisi, tim penggerak PKK, media, kader lingkungan dan dispangtan.

Sementara itu, pada hari pertama penjurian kemarin, untuk kategori dasawisma, tim juri mengawali di RW 7 Kelurahan Blimbing. Di sana, warga menunjukkan lahan kosong yang disulap jadi area tanam sayuran dan buah-buahan. Lahan tersebut berada di samping rel kereta api. Selama beberapa tahun lahan itu menganggur. Maka, atas insiatif dari warga, lahan itu ditanami beragam jenis sayuran, seperti sawi. Hasil panenannya, dibagikan ke warga RW yang membutuhkan.

Mohamad Ridwan menambahkan, lomba ini mengutamakan semangat menanam dari peserta dan melihat inovasinya. Karena tujuan akhir adalah terjaganya ketahanan pangan, terutama sejak ada pandemi. Warga dimotiviasi untuk memanfaatkan lahan terbatas dengan budi daya pertanian. Khususnya sayuran.

”Agar setiap rumah menanam cabai. Kenapa begitu? Karena harga cabai sangat fluktuatif. Nah, untuk kebutuhan sehati-hari daripada beli di pasar lebih baik menanam sendiri. Oleh karenanya, kami mewajibkan agar di perlombaan urban farming ini harus ada tanaman cabai, terong, dan tomat,” tuturnya.

Dalam penjurian kemarin juga ada yang menarik. Yakni produk olahan berupa makanan dan minuman dari hasil panen warga sendiri. Itu ada di RT 1/RW 6 Kelurahan Balearjosari. Di sana, warga juga memanfaatkan lahan kosong untuk menanam beragam jenis sayur dan toga. Hasil panen diolah sendiri dan dijual ke warga sekitar. Misalkan ada keripik kelor, minuman jahe, minuman kelor. Produknya juga ada yang berupa serbuk. (rmc/bin/c1/abm)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/