alexametrics
22.7 C
Malang
Thursday, 19 May 2022

Lagi, SBMI Malang Beber Kejanggalan di Balik Insiden TKW Kabur

MALANG KOTA – Dugaan baru seputar adanya tindak kekerasan di Balai Latihan Kerja Luar Negeri (BLK-LN) Central Karya Semesta (CKS) kembali mencuat. Hal itu dibeber Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Malang. Tak hanya itu, sejumlah kejanggalan seputar sistem pelatihan kerja dan pemberangkatan calon TKW (tenaga kerja wanita) atau PMI (pekerja migran Indonesia) juga didapati mereka.

”Sebulan sebelum kejadian 5 calon TKW kabur, ada salah satu binaan di sana (BLK-LN CKS) yang hendak pulang karena hamil. Tapi tidak diperbolehkan pulang, dan justru ditahan di BLK CKS,” beber juru bicara SBMI Malang Dina Nuriyati kepada Jawa Pos Radar Malang kemarin (24/6).

Seperti diketahui, dugaan kasus kekerasan di sana awalnya mencuat 9 Juni lalu. Saat itu, ada 5 calon TKW yang hendak kabur dari area pelatihan kerja. Mereka keluar dari jendela gedung, yang memiliki tinggi sekitar 15 meter. Di tengah upaya kabur itu, tali yang dibuat para calon TKW terputus. Akibatnya, 3 orang diantara mereka mengalami luka serius. Satu lainnya mengalami luka ringan dan sudah kembali ke BLK-LN CKS. Sementara satu orang lainnya berhasil kabur. Sejak kabar itu mencuat, sejumlah pihak langsung turun untuk mendalami kasusnya.

Selain aparat kepolisian, Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) pusat dan Malang juga sudah turun untuk melakukan investigasi. Pada 12 Juni lalu, Pemkot Malang yang dikomandoi Wali Kota Malang Sutiaji juga sudah melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sana. Hasilnya, saat itu Pemkot menyebut bila pihaknya tak menemukan indikasi kekerasan di tempat pelatihan kerja untuk para calon TKW tersebut. Statement tersebut turut disayangkan SBMI Malang.

Dina menyebut bila kesimpulan Pemkot Malang itu cenderung memihak BLK-LN CKS. Harusnya, dikatakan dia, Pemkot mau berkoordinasi dengan BP2MI Malang terlebih dahulu. Sebab, temuan soal kekerasan di sana juga mengindikasikan bila BLK-LN CKS telah melanggar sejumlah aturan. “Wali Kota Malang perlu mendengar cerita dari korban. Karena dari situlah beberapa fakta bisa diketahui,” imbuh Dina. Agar temuan-temuan dari BP2MI bisa mendapat perhatian, kini mereka bersiap mendatangi DPRD Kota Malang.

Tujuannya agar para calon TKW yang jadi korban bisa dipertemukan dengan Pemkot Malang. ”Kami sudah meminta untuk bertemu dewan, dan alhamdulillah tinggal menunggu jadwalnya saja,” tambahnya.

Dina juga menceritakan laporan lain yang didapatkan pihaknya seputar aktivitas di BLK-LN CKS. Ia menyebut bila beberapa waktu lalu BLK itu menahan dokumen penting milik salah satu PMI. Penahanan dilakukan pasca yang bersangkutan pulang dari Hongkong. Selain itu, handphone (HP) milik PMI tersebut juga dirampas oleh pihak BLK-LN CKS.

Mirisnya, ia menyebut bila alasan dari penyitaan dokumen dan HP milik PMI itu lantaran yang bersangkutan tidak mampu membayar denda senilai Rp 21 juta. Tidak diketahui pasti mengapa BLK-LN CKS menjatuhkan denda tersebut kepada yang bersangkutan. “Dia sekarang tidak mau lagi balik ke negara tujuan, karena masih hamil dan terpaksa patuh ke BLK-LN CKS,” sambung Dina.

Di tempat lain, Wali Kota Malang Sutiaji menyebut bila secara legalitas, izin operasional lembaga pelatihan kerja tersebut dipastikan legal. Terbaru, ada izin anyar yang tengah diajukan PT CKS, yakni terkait dibukanya pelatihan barista. Soal dugaan kekerasan, Sutiaji menyebut bila itu tidak menjadi ranah pihaknya. ”Tentu kami kawal kasus ini. Jika ada pelanggaran kekerasan, itu sudah kewenangan pihak berwajib,” kata dia kepada Jawa Pos Radar Malang, kemarin (24/6).

Dari hasil sidak 12 Juni lalu, politisi Partai Demokrat itu mengaku tak melihat rasa traumatis dari para calon PMI. Ia juga mengaku sudah meminta klarifikasi kepada manajemen BLK-LN CKS. Hasilnya, Sutiaji menyebut bila pihak manajemen bersikap terbuka, dan menyatakan tidak ada kekerasan di sana. Jika kedepan ada temuan baru, ia meminta keterbukaan pihak BLK-LN CKS. Sementara jika terbukti ada tindak kekerasan, ia menyebut bila konsekuensinya adalah penutupan balai pelatihan kerja. (rmc/adn/by)

MALANG KOTA – Dugaan baru seputar adanya tindak kekerasan di Balai Latihan Kerja Luar Negeri (BLK-LN) Central Karya Semesta (CKS) kembali mencuat. Hal itu dibeber Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Malang. Tak hanya itu, sejumlah kejanggalan seputar sistem pelatihan kerja dan pemberangkatan calon TKW (tenaga kerja wanita) atau PMI (pekerja migran Indonesia) juga didapati mereka.

”Sebulan sebelum kejadian 5 calon TKW kabur, ada salah satu binaan di sana (BLK-LN CKS) yang hendak pulang karena hamil. Tapi tidak diperbolehkan pulang, dan justru ditahan di BLK CKS,” beber juru bicara SBMI Malang Dina Nuriyati kepada Jawa Pos Radar Malang kemarin (24/6).

Seperti diketahui, dugaan kasus kekerasan di sana awalnya mencuat 9 Juni lalu. Saat itu, ada 5 calon TKW yang hendak kabur dari area pelatihan kerja. Mereka keluar dari jendela gedung, yang memiliki tinggi sekitar 15 meter. Di tengah upaya kabur itu, tali yang dibuat para calon TKW terputus. Akibatnya, 3 orang diantara mereka mengalami luka serius. Satu lainnya mengalami luka ringan dan sudah kembali ke BLK-LN CKS. Sementara satu orang lainnya berhasil kabur. Sejak kabar itu mencuat, sejumlah pihak langsung turun untuk mendalami kasusnya.

Selain aparat kepolisian, Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) pusat dan Malang juga sudah turun untuk melakukan investigasi. Pada 12 Juni lalu, Pemkot Malang yang dikomandoi Wali Kota Malang Sutiaji juga sudah melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sana. Hasilnya, saat itu Pemkot menyebut bila pihaknya tak menemukan indikasi kekerasan di tempat pelatihan kerja untuk para calon TKW tersebut. Statement tersebut turut disayangkan SBMI Malang.

Dina menyebut bila kesimpulan Pemkot Malang itu cenderung memihak BLK-LN CKS. Harusnya, dikatakan dia, Pemkot mau berkoordinasi dengan BP2MI Malang terlebih dahulu. Sebab, temuan soal kekerasan di sana juga mengindikasikan bila BLK-LN CKS telah melanggar sejumlah aturan. “Wali Kota Malang perlu mendengar cerita dari korban. Karena dari situlah beberapa fakta bisa diketahui,” imbuh Dina. Agar temuan-temuan dari BP2MI bisa mendapat perhatian, kini mereka bersiap mendatangi DPRD Kota Malang.

Tujuannya agar para calon TKW yang jadi korban bisa dipertemukan dengan Pemkot Malang. ”Kami sudah meminta untuk bertemu dewan, dan alhamdulillah tinggal menunggu jadwalnya saja,” tambahnya.

Dina juga menceritakan laporan lain yang didapatkan pihaknya seputar aktivitas di BLK-LN CKS. Ia menyebut bila beberapa waktu lalu BLK itu menahan dokumen penting milik salah satu PMI. Penahanan dilakukan pasca yang bersangkutan pulang dari Hongkong. Selain itu, handphone (HP) milik PMI tersebut juga dirampas oleh pihak BLK-LN CKS.

Mirisnya, ia menyebut bila alasan dari penyitaan dokumen dan HP milik PMI itu lantaran yang bersangkutan tidak mampu membayar denda senilai Rp 21 juta. Tidak diketahui pasti mengapa BLK-LN CKS menjatuhkan denda tersebut kepada yang bersangkutan. “Dia sekarang tidak mau lagi balik ke negara tujuan, karena masih hamil dan terpaksa patuh ke BLK-LN CKS,” sambung Dina.

Di tempat lain, Wali Kota Malang Sutiaji menyebut bila secara legalitas, izin operasional lembaga pelatihan kerja tersebut dipastikan legal. Terbaru, ada izin anyar yang tengah diajukan PT CKS, yakni terkait dibukanya pelatihan barista. Soal dugaan kekerasan, Sutiaji menyebut bila itu tidak menjadi ranah pihaknya. ”Tentu kami kawal kasus ini. Jika ada pelanggaran kekerasan, itu sudah kewenangan pihak berwajib,” kata dia kepada Jawa Pos Radar Malang, kemarin (24/6).

Dari hasil sidak 12 Juni lalu, politisi Partai Demokrat itu mengaku tak melihat rasa traumatis dari para calon PMI. Ia juga mengaku sudah meminta klarifikasi kepada manajemen BLK-LN CKS. Hasilnya, Sutiaji menyebut bila pihak manajemen bersikap terbuka, dan menyatakan tidak ada kekerasan di sana. Jika kedepan ada temuan baru, ia meminta keterbukaan pihak BLK-LN CKS. Sementara jika terbukti ada tindak kekerasan, ia menyebut bila konsekuensinya adalah penutupan balai pelatihan kerja. (rmc/adn/by)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/