alexametrics
30.6 C
Malang
Tuesday, 24 May 2022

Tersandung PPKM, Iklim Investasi Kota Malang Merosot 40 Persen

MALANG KOTA – Meski sudah mengalami penurunan level PPKM, iklim investasi di Malang Raya masih bangkit perlahan. Dibanding Tahun 2020 lalu, iklim investasi tahun ini justru mengalami penurunan. Di Kota Malang misalnya, dibanding periode yang sama pada tahun lalu, sektor penanaman modal dalam negeri (PMDN) turun hingga 25 persen. Tahun lalu, nilai PMDN mencapai 40 miliar di periode yang sama, sementara tahun ini baru berada pada angka Rp 29,7 miliar.

Padahal, pada triwulan kedua di tahun ini, total ada 148 proyek baru yang berjalan. Sementara tahun lalu total hanya ada 73 proyek. Artinya, nilai PMDN yang masuk neraca tidak sebanding dengan banyaknya proyek yang berjalan.

”Kemungkinan pelaku usaha kurang paham tentang bagaimana tata cara menyampaikan LKPM (laporan kegiatan penanaman modal), yang sekarang dilakukan secara online,” terang Kabid Pengendalian Pengaduan Data dan Informasi Dinas Ketenagakerjaan-Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (Disnaker-PMPTSP) Kota Malang Dandung Djulharjanto. Data Disnaker-PMTSP mencatat, bidang perdagangan dan reparasi lah yang paling mendominasi nilai investasi di tahun ini.

Tercatat ada 75 proyek yang saat ini baru berdiri. Jumlah itu naik hampir dua kali lipat dibandingkan tahun lalu, yang hanya ada 41 proyek. Sementara di sektor penanaman modal asing (PMA), nilai investasi di triwulan kedua tampak mengalami peningkatan. Bila dipersentase, nilai peningkatannya mencapai 200 persen lebih. ”Realisasi (PMA) di triwulan kedua ini sebesar US$ 135 ribu. Sedangkan di triwulan kedua tahun lalu hanya US$ 40 ribu,” beber Dandung.

Realisasi PMA di triwulan kedua tahun ini berasal dari 12 proyek. Sementara realisasi PMA dari triwulan kedua tahun lalu berasal dari 14 proyek. Dandung menambahkan bila realisasi investasi itu juga tercatat dari kewajiban pelaku usaha untuk membuat LKPM secara online. Hal itu diatur dalam Peraturan BKPM RI nomor 5 tahun 2021 tentang pedoman dan tata cara pengawasan berbasis risiko. Dalam pasal 29 ayat 4, pelaku usaha diwajibkan untuk menyampaikan laporan kegiatan penanaman modal tiap tiga bulan sekali. Sehingga data yang masuk merupakan hasil rekapan selama tiga bulan sekali. Dari April sampai Juni lalu.

Sementara itu, dari pengamatan Jawa Pos Radar Malang, investasi dari sektor properti di Kota Malang terbilang masih bagus pada triwulan kedua. Salah satu alasannya karena ada aturan pajak pertambahan nilai (PPN) 0 persen. ”Pada triwulan kedua, pertumbuhan bisnis properti di Kota Malang mencapai 40 sampai 60 persen,” beber Ketua Real Estate Indonesia (REI) Malang Suwoko.

Rata-rata pengembang yang sukses menumbuhkan investasi itu berada di area 3 sampai 7 kilometer dari pusat kota. Jarak tersebut, diakui Suwoko menjadi area yang banyak dicari masyarakat. Terutama generasi milenial, yang sedang mencari hunian baik untuk tempat tinggal maupun usaha. ”Apalagi usaha untuk perdagangan, sekarang bisa dilihat mulai menjamur,” imbuh Suwoko.

Selepas triwulan kedua, dia mengakui bila iklim investasi turut berubah. Adanya kebijakan PPKM cukup berdampak signifikan. Suwoko mencatat saat itu penurunan investasinya mencapai 40 persen. ”Utamanya warga luar Malang yang mau beli (properti) di sini jadi terhalang, maka jalan tengahnya ya menunda (investasi),” imbuhnya. Secara umum, Suwoko tetap optimistis dunia properti bisa bertahan di tengah pandemi. (adn/by/rmc)

 

MALANG KOTA – Meski sudah mengalami penurunan level PPKM, iklim investasi di Malang Raya masih bangkit perlahan. Dibanding Tahun 2020 lalu, iklim investasi tahun ini justru mengalami penurunan. Di Kota Malang misalnya, dibanding periode yang sama pada tahun lalu, sektor penanaman modal dalam negeri (PMDN) turun hingga 25 persen. Tahun lalu, nilai PMDN mencapai 40 miliar di periode yang sama, sementara tahun ini baru berada pada angka Rp 29,7 miliar.

Padahal, pada triwulan kedua di tahun ini, total ada 148 proyek baru yang berjalan. Sementara tahun lalu total hanya ada 73 proyek. Artinya, nilai PMDN yang masuk neraca tidak sebanding dengan banyaknya proyek yang berjalan.

”Kemungkinan pelaku usaha kurang paham tentang bagaimana tata cara menyampaikan LKPM (laporan kegiatan penanaman modal), yang sekarang dilakukan secara online,” terang Kabid Pengendalian Pengaduan Data dan Informasi Dinas Ketenagakerjaan-Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (Disnaker-PMPTSP) Kota Malang Dandung Djulharjanto. Data Disnaker-PMTSP mencatat, bidang perdagangan dan reparasi lah yang paling mendominasi nilai investasi di tahun ini.

Tercatat ada 75 proyek yang saat ini baru berdiri. Jumlah itu naik hampir dua kali lipat dibandingkan tahun lalu, yang hanya ada 41 proyek. Sementara di sektor penanaman modal asing (PMA), nilai investasi di triwulan kedua tampak mengalami peningkatan. Bila dipersentase, nilai peningkatannya mencapai 200 persen lebih. ”Realisasi (PMA) di triwulan kedua ini sebesar US$ 135 ribu. Sedangkan di triwulan kedua tahun lalu hanya US$ 40 ribu,” beber Dandung.

Realisasi PMA di triwulan kedua tahun ini berasal dari 12 proyek. Sementara realisasi PMA dari triwulan kedua tahun lalu berasal dari 14 proyek. Dandung menambahkan bila realisasi investasi itu juga tercatat dari kewajiban pelaku usaha untuk membuat LKPM secara online. Hal itu diatur dalam Peraturan BKPM RI nomor 5 tahun 2021 tentang pedoman dan tata cara pengawasan berbasis risiko. Dalam pasal 29 ayat 4, pelaku usaha diwajibkan untuk menyampaikan laporan kegiatan penanaman modal tiap tiga bulan sekali. Sehingga data yang masuk merupakan hasil rekapan selama tiga bulan sekali. Dari April sampai Juni lalu.

Sementara itu, dari pengamatan Jawa Pos Radar Malang, investasi dari sektor properti di Kota Malang terbilang masih bagus pada triwulan kedua. Salah satu alasannya karena ada aturan pajak pertambahan nilai (PPN) 0 persen. ”Pada triwulan kedua, pertumbuhan bisnis properti di Kota Malang mencapai 40 sampai 60 persen,” beber Ketua Real Estate Indonesia (REI) Malang Suwoko.

Rata-rata pengembang yang sukses menumbuhkan investasi itu berada di area 3 sampai 7 kilometer dari pusat kota. Jarak tersebut, diakui Suwoko menjadi area yang banyak dicari masyarakat. Terutama generasi milenial, yang sedang mencari hunian baik untuk tempat tinggal maupun usaha. ”Apalagi usaha untuk perdagangan, sekarang bisa dilihat mulai menjamur,” imbuh Suwoko.

Selepas triwulan kedua, dia mengakui bila iklim investasi turut berubah. Adanya kebijakan PPKM cukup berdampak signifikan. Suwoko mencatat saat itu penurunan investasinya mencapai 40 persen. ”Utamanya warga luar Malang yang mau beli (properti) di sini jadi terhalang, maka jalan tengahnya ya menunda (investasi),” imbuhnya. Secara umum, Suwoko tetap optimistis dunia properti bisa bertahan di tengah pandemi. (adn/by/rmc)

 

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/