alexametrics
26.1 C
Malang
Wednesday, 1 December 2021

Bocah Panti Korban Penganiayaan Rayakan Ultah di Shelter Dinsos

 

MALANG KOTA-Sejak Selasa malam (23/11), Mentik (nama samaran bocah panti yang menjadi korban penganiayaan) menjalani program trauma healing untuk mengurangi penderitaan akibat kasus pencabulan dan penganiayaan. Bersama ibunya, dia menjalani program itu di shelter Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Jawa Timur.  Di hari kedua program tersebut, Mentik mendapat kejutan istimewa.

Sekitar pukul 10.00, seluruh tim pendamping dan kuasa hukum datang ke shelter. Mereka membawa kue untuk merayakan ulang tahun Mentik yang ke-13.  Ditemani sang ibunda, Mentik tampak larut dalam suasana hangat perayaan ulang tahun tersebut.

Acaranya berlangsung sederhana, hanya tiup lilin dan potong kue, dilanjut dengan doa bersama. Meski demikian, ada sejumlah pihak yang mengirim hadiah sebagai bentuk simpati dan dukungan moral untuk Mentik dan keluarganya.  ”Ada beberapa pelaku usaha yang mengirimkan hadiah kepadanya,” ujar Kuasa Hukum korban Leo A. Permana kemarin.

Dia mencontohkan handphone milik Mentik yang dirampas pelaku pencabulan berinisial YG. Leo mengatakan bahwa saat ini Mentik sudah mendapatkan hadiah berupa handphone baru. Gawai itu digunakan untuk menunjang pembelajaran Mentik yang kini duduk di bangku kelas 6 SD itu.

”Hadiah” lain pun segara menyusul datang kepada korban. Ketua Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur (JKJT) Agustinus Tedja Bawana mengatakan, pihaknya sudah meminta bantuan ke Dinsos Provinsi Jatim untuk memberikan perhatian khusus kepada Mentik dan ibunya. Salah satunya dengan mengontrakkan rumah selama lima atau sepuluh tahun untuk korban setelah perkara ini selesai. ”Agar keluarganya bisa berkumpul dan proses healing berjalan lancar,” ucap dia.

Bantuan lain juga dimintakan ke Gubernur Jawa Timur, terutama terkait dengan mata pencaharian ibunda Mentik. ”Belikan mesin jahit supaya ibunya bisa bekerja sambil mengurus anak,” imbuh Tedja.

Sementara itu, pengakuan Mentik selama mendapat pendampingan kerap membuat banyak pihak merasa trenyuh. Salah satunya terkait cita-cita bocah perempuan itu yang ingin menjadi dokter. Alasannya agar dia bisa mengobati ayahnya yang mengalami gangguan jiwa.

Seperti diungkapkan Leo A. Permana, cita-cita tinggi itulah yang membuat Mentik rajin belajar dan mendapatkan ranking di kelasnya. Sangat disayangkan jika cita-cita mulia itu kandas akibat kasus pencabulan dan penganiayaan yang dialaminya. (biy/fat)

 

 

MALANG KOTA-Sejak Selasa malam (23/11), Mentik (nama samaran bocah panti yang menjadi korban penganiayaan) menjalani program trauma healing untuk mengurangi penderitaan akibat kasus pencabulan dan penganiayaan. Bersama ibunya, dia menjalani program itu di shelter Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Jawa Timur.  Di hari kedua program tersebut, Mentik mendapat kejutan istimewa.

Sekitar pukul 10.00, seluruh tim pendamping dan kuasa hukum datang ke shelter. Mereka membawa kue untuk merayakan ulang tahun Mentik yang ke-13.  Ditemani sang ibunda, Mentik tampak larut dalam suasana hangat perayaan ulang tahun tersebut.

Acaranya berlangsung sederhana, hanya tiup lilin dan potong kue, dilanjut dengan doa bersama. Meski demikian, ada sejumlah pihak yang mengirim hadiah sebagai bentuk simpati dan dukungan moral untuk Mentik dan keluarganya.  ”Ada beberapa pelaku usaha yang mengirimkan hadiah kepadanya,” ujar Kuasa Hukum korban Leo A. Permana kemarin.

Dia mencontohkan handphone milik Mentik yang dirampas pelaku pencabulan berinisial YG. Leo mengatakan bahwa saat ini Mentik sudah mendapatkan hadiah berupa handphone baru. Gawai itu digunakan untuk menunjang pembelajaran Mentik yang kini duduk di bangku kelas 6 SD itu.

”Hadiah” lain pun segara menyusul datang kepada korban. Ketua Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur (JKJT) Agustinus Tedja Bawana mengatakan, pihaknya sudah meminta bantuan ke Dinsos Provinsi Jatim untuk memberikan perhatian khusus kepada Mentik dan ibunya. Salah satunya dengan mengontrakkan rumah selama lima atau sepuluh tahun untuk korban setelah perkara ini selesai. ”Agar keluarganya bisa berkumpul dan proses healing berjalan lancar,” ucap dia.

Bantuan lain juga dimintakan ke Gubernur Jawa Timur, terutama terkait dengan mata pencaharian ibunda Mentik. ”Belikan mesin jahit supaya ibunya bisa bekerja sambil mengurus anak,” imbuh Tedja.

Sementara itu, pengakuan Mentik selama mendapat pendampingan kerap membuat banyak pihak merasa trenyuh. Salah satunya terkait cita-cita bocah perempuan itu yang ingin menjadi dokter. Alasannya agar dia bisa mengobati ayahnya yang mengalami gangguan jiwa.

Seperti diungkapkan Leo A. Permana, cita-cita tinggi itulah yang membuat Mentik rajin belajar dan mendapatkan ranking di kelasnya. Sangat disayangkan jika cita-cita mulia itu kandas akibat kasus pencabulan dan penganiayaan yang dialaminya. (biy/fat)

 

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru