alexametrics
25.6 C
Malang
Thursday, 26 May 2022

Ditracing, 15 Warga Kota Malang Positif Covid-19. Dinkes Pastikan Bukan Omicron

MALANG KOTA – Kasus Covid-19 kembali ditemukan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang. Bila sebelumnya ada dua pasien yang terkonfirmasi terpapar varian Omicron, kemarin (25/1) ada penambahan 15 pasien covid baru. Penambahan tersebut berasal dari hasil tracing atau pelacakan pasien Covid-19. Namun bukan dari kontak erat dua pasien terkonfirmasi Omicron.

Dinkes Kota Malang juga memastikan bila 15 pasien baru tersebut tak ditemukan gejala varian Omicron. Alasannya karena cycle threshold (CT) value mereka di bawah angka 30. Mereka juga terpapar Covid-19 dengan status orang tanpa gejala (OTG). Hingga saat ini, para pasien tersebut menjalani isolasi mandiri (isoman) di rumah masing-masing.

Dinkes menyebut bila klaster keluarga masih menjadi rantai penyebaran Covid-19 yang perlu diwaspadai di Kota Malang. ”Ke 15 orang itu memang kontak erat. Kami tetap memantaunya, dan jika terjadi penurunan kesehatan bakal segera dirujuk ke isoter (isolasi terpusat) atau RS (rumah sakit),” kata Kepala Dinkes Kota Malang dr Husnul Muarif.

Total kasus aktif Covid-19 Kota Malang hingga kemarin mencapai 97 orang. Dua klaster, yakni klaster keluarga dan lembaga pendidikan menjadi penyumbang cukup tertinggi dengan 37 orang. Untuk update terbaru, 37 pelajar yang sebelumnya dikabarkan terpapar Covid-19 mulai menunjukkan kesembuhan. Rencananya, para siswa bakal menjalani karantina terakhir dan tes swab terakhir pada hari ini (26/1).

Untuk langkah mencegah penambahan kasus, dinkes sudah menyiapkan sejumlah antisipasi. Mulai dari persiapan isoter di sanggar kegiatan bersama (SKB) yang terletak di Kecamatan Blimbing, hingga memantau pekerja migran Indonesia (PMI) yang pulang ke Kota Malang (selengkapnya lihat grafis). Untuk tempat isoter, Husnul menjelaskan jika kapasitasnya saat ini mencapai 50 tempat tidur.

”Pasien yang bergejala ringan bisa masuk SKB. Untuk ketersediaan nakes (tenaga kesehatan) akan dikoordinasikan RSUD (Kota Malang),” tambah Husnul. Mantan Direktur RSUD Kota Malang itu tak menyebut jumlah total nakes yang bakal disediakan di tempat isoter tersebut. Hanya saja, formasi nakes dalam merawat pasien Covid-19 tetap 1 banding 8. Atau satu pasien ditangani 8 nakes.

Untuk PMI asal Kota Malang yang ingin kembali bakal dipantau dinkes saat mereka menjalani isolasi di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya. “Nanti tetap kami pantau dengan wajib isolasi lagi di rumah. (Berlangsung) mulai dua sampai tiga hari,” imbuh Husnul.

Sementara itu, Wali Kota Malang Sutiaji masih tetap menekankan pentingnya menguatkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berbasis mikro di tingkat RT/RW. Dengan cara itu, dia yakin mata rantai penyebaran Covid-19 bisa diputus. ”Ini untuk kembali menguatkan bila tamu wajib lapor. Supaya bisa dilakukan tracing awal jika ada penyebaran (Covid-19), dan bisa diputus dari situ,” kata Sutiaji.

Senada dengan Husnul, pria yang juga menjadi Ketua Satgas Covid-19 Kota Malang itu juga intensif mengawasi para PMI yang pulang. Sebab pada hasil rapat koordinasi dengan Pemprov Jatim, Senin lalu (24/1), diketahui bila ancaman penyebaran Covid-19, khususnya varian Omicron, memang banyak berasal dari masyarakat yang datang dari luar negeri. Beranjak dari itu, pihaknya bakal menjemput para PMI yang pulang langsung dari bandara dan isolasi pertama di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya.

Kebijakan itu dilakukan untuk memudahkan pengawasan. Sebab pemkot tak ingin kepulangan PMI tidak menjadi ancaman penyebaran Covid-19. Selain itu, keberadaan SKB sebagai isoter juga bakal dimatangkan lagi.

”Nanti nakes sudah siap, alat-alat kesehatan juga. Tinggal semua mau mencegah penularan (Covid-19) apa tidak,” imbuh dia.

Di sisi lain, pihaknya juga terus mendorong percepatan vaksinasi. Sutiaji menyebut total ada 880 ribu warga Kota Malang yang telah tervaksin dosis pertama. Bila dirinci lebih lanjut, capaian vaksin dosis pertama sudah 110 persen. Sementara dosis kedua sudah 97 persen. Sedangkan vaksinasi lansia sudah 70 persen. Booster atau vaksin dosis ketiga juga diharapkan mampu memperkuat imunitas masyarakat. Dengan itu, risiko terpapar dan mengalami gejala berat hingga kematian bisa dicegah.

Sementara itu, lonjakan kasus harian Covid-19 di Kota Malang juga mendapat atensi dari kalangan DPRD Kota Malang. Mereka mendorong langkah-langkah preventif seperti testing dan tracing. ”Kami tetap ingin ada ketegasan pemkot mengingatkan masyarakat untuk patuh terhadap prokes (protokol kesehatan),” tegas Wakil Ketua III DPRD Kota Malang Rimzah.

Antisipasi pencegahan dengan menyadarkan prokes masyarakat memang jadi awal pencegahan yang tepat. Sementara untuk langkah penanganan,  seperti kesiapan isoter dan RS rujukan Covid-19 juga tetap harus dipikirkan.

Jika menambah SKB jadi isoter, pihaknya mendukung asal semua peralatan dan perizinan tempat bisa terjamin. Politisi Partai Gerindra itu juga menginginkan penerapan PPKM berbasis mikro kembali dikuatkan. Tak hanya sekadar instruksi, namun juga dukungan turun ke lapangan. ”Kita bisa berkaca dari kasus di pertengahan tahun 2021 lalu. Jangan sampai meningkat drastis, apalagi ada kasus kematian yang tinggi,” harap Rimzah.

Soal capaian vaksinasi, dia meminta agar prosesnya di tiap fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) bisa lebih dioptimalkan. Sebab dengan vaksinasi lah pencegahan terpapar Covid-19 dengan gejala berat bisa dilakukan. (adn/by)

MALANG KOTA – Kasus Covid-19 kembali ditemukan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang. Bila sebelumnya ada dua pasien yang terkonfirmasi terpapar varian Omicron, kemarin (25/1) ada penambahan 15 pasien covid baru. Penambahan tersebut berasal dari hasil tracing atau pelacakan pasien Covid-19. Namun bukan dari kontak erat dua pasien terkonfirmasi Omicron.

Dinkes Kota Malang juga memastikan bila 15 pasien baru tersebut tak ditemukan gejala varian Omicron. Alasannya karena cycle threshold (CT) value mereka di bawah angka 30. Mereka juga terpapar Covid-19 dengan status orang tanpa gejala (OTG). Hingga saat ini, para pasien tersebut menjalani isolasi mandiri (isoman) di rumah masing-masing.

Dinkes menyebut bila klaster keluarga masih menjadi rantai penyebaran Covid-19 yang perlu diwaspadai di Kota Malang. ”Ke 15 orang itu memang kontak erat. Kami tetap memantaunya, dan jika terjadi penurunan kesehatan bakal segera dirujuk ke isoter (isolasi terpusat) atau RS (rumah sakit),” kata Kepala Dinkes Kota Malang dr Husnul Muarif.

Total kasus aktif Covid-19 Kota Malang hingga kemarin mencapai 97 orang. Dua klaster, yakni klaster keluarga dan lembaga pendidikan menjadi penyumbang cukup tertinggi dengan 37 orang. Untuk update terbaru, 37 pelajar yang sebelumnya dikabarkan terpapar Covid-19 mulai menunjukkan kesembuhan. Rencananya, para siswa bakal menjalani karantina terakhir dan tes swab terakhir pada hari ini (26/1).

Untuk langkah mencegah penambahan kasus, dinkes sudah menyiapkan sejumlah antisipasi. Mulai dari persiapan isoter di sanggar kegiatan bersama (SKB) yang terletak di Kecamatan Blimbing, hingga memantau pekerja migran Indonesia (PMI) yang pulang ke Kota Malang (selengkapnya lihat grafis). Untuk tempat isoter, Husnul menjelaskan jika kapasitasnya saat ini mencapai 50 tempat tidur.

”Pasien yang bergejala ringan bisa masuk SKB. Untuk ketersediaan nakes (tenaga kesehatan) akan dikoordinasikan RSUD (Kota Malang),” tambah Husnul. Mantan Direktur RSUD Kota Malang itu tak menyebut jumlah total nakes yang bakal disediakan di tempat isoter tersebut. Hanya saja, formasi nakes dalam merawat pasien Covid-19 tetap 1 banding 8. Atau satu pasien ditangani 8 nakes.

Untuk PMI asal Kota Malang yang ingin kembali bakal dipantau dinkes saat mereka menjalani isolasi di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya. “Nanti tetap kami pantau dengan wajib isolasi lagi di rumah. (Berlangsung) mulai dua sampai tiga hari,” imbuh Husnul.

Sementara itu, Wali Kota Malang Sutiaji masih tetap menekankan pentingnya menguatkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berbasis mikro di tingkat RT/RW. Dengan cara itu, dia yakin mata rantai penyebaran Covid-19 bisa diputus. ”Ini untuk kembali menguatkan bila tamu wajib lapor. Supaya bisa dilakukan tracing awal jika ada penyebaran (Covid-19), dan bisa diputus dari situ,” kata Sutiaji.

Senada dengan Husnul, pria yang juga menjadi Ketua Satgas Covid-19 Kota Malang itu juga intensif mengawasi para PMI yang pulang. Sebab pada hasil rapat koordinasi dengan Pemprov Jatim, Senin lalu (24/1), diketahui bila ancaman penyebaran Covid-19, khususnya varian Omicron, memang banyak berasal dari masyarakat yang datang dari luar negeri. Beranjak dari itu, pihaknya bakal menjemput para PMI yang pulang langsung dari bandara dan isolasi pertama di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya.

Kebijakan itu dilakukan untuk memudahkan pengawasan. Sebab pemkot tak ingin kepulangan PMI tidak menjadi ancaman penyebaran Covid-19. Selain itu, keberadaan SKB sebagai isoter juga bakal dimatangkan lagi.

”Nanti nakes sudah siap, alat-alat kesehatan juga. Tinggal semua mau mencegah penularan (Covid-19) apa tidak,” imbuh dia.

Di sisi lain, pihaknya juga terus mendorong percepatan vaksinasi. Sutiaji menyebut total ada 880 ribu warga Kota Malang yang telah tervaksin dosis pertama. Bila dirinci lebih lanjut, capaian vaksin dosis pertama sudah 110 persen. Sementara dosis kedua sudah 97 persen. Sedangkan vaksinasi lansia sudah 70 persen. Booster atau vaksin dosis ketiga juga diharapkan mampu memperkuat imunitas masyarakat. Dengan itu, risiko terpapar dan mengalami gejala berat hingga kematian bisa dicegah.

Sementara itu, lonjakan kasus harian Covid-19 di Kota Malang juga mendapat atensi dari kalangan DPRD Kota Malang. Mereka mendorong langkah-langkah preventif seperti testing dan tracing. ”Kami tetap ingin ada ketegasan pemkot mengingatkan masyarakat untuk patuh terhadap prokes (protokol kesehatan),” tegas Wakil Ketua III DPRD Kota Malang Rimzah.

Antisipasi pencegahan dengan menyadarkan prokes masyarakat memang jadi awal pencegahan yang tepat. Sementara untuk langkah penanganan,  seperti kesiapan isoter dan RS rujukan Covid-19 juga tetap harus dipikirkan.

Jika menambah SKB jadi isoter, pihaknya mendukung asal semua peralatan dan perizinan tempat bisa terjamin. Politisi Partai Gerindra itu juga menginginkan penerapan PPKM berbasis mikro kembali dikuatkan. Tak hanya sekadar instruksi, namun juga dukungan turun ke lapangan. ”Kita bisa berkaca dari kasus di pertengahan tahun 2021 lalu. Jangan sampai meningkat drastis, apalagi ada kasus kematian yang tinggi,” harap Rimzah.

Soal capaian vaksinasi, dia meminta agar prosesnya di tiap fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) bisa lebih dioptimalkan. Sebab dengan vaksinasi lah pencegahan terpapar Covid-19 dengan gejala berat bisa dilakukan. (adn/by)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/