alexametrics
26 C
Malang
Saturday, 21 May 2022

Info Lurr! Ukuran Tempe-Tahu Khas Malang Jadi Mengecil

MALANG-Irisan tempe dan tahu di piring Anda mungkin akan semakin mengerut alias mengecil dalam waktu beberapa waktu ke depan. Bahkan bisa jadi, dua lauk favorit masyarakat itu akan susah dicari lantaran sebagian produsen tempe-tahu memutuskan untuk berhenti produksi. Semua itu terjadi sebagai dampak melonjaknya harga kedelai sebagai bahan baku tempe dan tahu selama dua bulan terakhir

Saat ini, harga bahan baku kedelai berada di angka Rp 11.500 per kilogram. Padahal sebelumnya, harga kedelai hanya Rp 9 ribu per kilo gram. Untuk menaikkan harga tempe, para produsen dan pedagang khawatir produk mereka tidak laku. Salah satu alternatifnya adalah mengecilkan ukuran.

TERIMBAS: Tiga pekerja di salah satu sentra industri tempe di Jalan Sanan Tengah melakukan pengemasan. (Suharto / Radar Malang)

Contohnya yang dilakukan produsen tempe di Kampung Tempe Sanan Heri Sukamto. Sudah sejak dua bulan terakhir dia mengeluh harga beli kedelai yang terus mengalami kenaikan. Heri terpaksa mengurangi produksi tempe dan mengecilkan ukurannya. ”Dulu bisa 80 kotak lebih, sekarang hanya 70 sampai 75 kotak,” katanya.

Heri bahkan mendapat kabar dari tempat kulakannya bahwa ada rencana kenaikan harga kedelai lagi. Parahnya, rencana kenaikan itu bisa mencapai Rp 12 ribu per kilo gram. Tentu harga kulakan itu sudah terlalu mahal baginya. Sebab, paling mahal dia pernah membeli hanya Rp 10 ribu per kilogram.

Meski mengeluh harga kedelai mahal, dia bersama produsen tempe lainnya tidak memilih untuk mogok produksi. Sebab hal itu justru akan membuatnya bingung bagaimana cara menafkahi anak dan istrinya. ”Lebih baik mengecilkan ukuran (tempe) saja. Lebih pas. Kasihan juga masyarakat kalau harga naik,” tegas Heri.

Kini, rumah produksi tempe milik Heri seluas 6 meter x 2 meter itu terlihat sangat minim kedelai. Enam rak panjang yang biasanya dia pakai membuat tempe, tak semuanya dipakai. Dia hanya menggunakan empat rak saja demi menjaga agar usahanya tetap berproduksi. Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Kadiskopindag) Kota Malang Muhamad Sailendra menyebut mengecilnya ukuran tempe-tahu masih bisa ditoleransi.

Bahkan dia memprediksi dua bulan ke depan stok tempe dan tahu masih aman. Sebab, mayoritas produsen tempe, khususnya di Sanan, masih terus memproduksi. ”Saya belum mendengar ada rencana untuk mogok produk di Kota Malang. Kalau soal naiknya harga, kedelai di Kota Malang ini 90 persen impor dari Amerika. Jadi kendalanya di situ,” beber Sailendra.

Meski demikian, diskopindag bakal melakukan komunikasi dengan Kementerian Perdagangan terkait stabilisasi harga kedelai. Sebab naiknya harga kedelai yang diklaim karena harga di luar negeri juga perlu ada solusi. Apalagi permintaan masyarakat Kota Malang terhadap tempe terbilang tinggi.

Pihaknya juga telah meninjau sejumlah produsen di Kampung Tempe Sanan kemarin pagi (25/2). Hasilnya memang tak ada pemogokan produksi, hanya ada pengurangan jumlah produksi. ”Mereka (pedagang) punya inisiatif sendiri. Tinggal kami mau teruskan ke pusat saja terkait ini,” terang mantan Sekretaris KPU Kota Malang itu. (adn/rb-1/fin/fat)

MALANG-Irisan tempe dan tahu di piring Anda mungkin akan semakin mengerut alias mengecil dalam waktu beberapa waktu ke depan. Bahkan bisa jadi, dua lauk favorit masyarakat itu akan susah dicari lantaran sebagian produsen tempe-tahu memutuskan untuk berhenti produksi. Semua itu terjadi sebagai dampak melonjaknya harga kedelai sebagai bahan baku tempe dan tahu selama dua bulan terakhir

Saat ini, harga bahan baku kedelai berada di angka Rp 11.500 per kilogram. Padahal sebelumnya, harga kedelai hanya Rp 9 ribu per kilo gram. Untuk menaikkan harga tempe, para produsen dan pedagang khawatir produk mereka tidak laku. Salah satu alternatifnya adalah mengecilkan ukuran.

TERIMBAS: Tiga pekerja di salah satu sentra industri tempe di Jalan Sanan Tengah melakukan pengemasan. (Suharto / Radar Malang)

Contohnya yang dilakukan produsen tempe di Kampung Tempe Sanan Heri Sukamto. Sudah sejak dua bulan terakhir dia mengeluh harga beli kedelai yang terus mengalami kenaikan. Heri terpaksa mengurangi produksi tempe dan mengecilkan ukurannya. ”Dulu bisa 80 kotak lebih, sekarang hanya 70 sampai 75 kotak,” katanya.

Heri bahkan mendapat kabar dari tempat kulakannya bahwa ada rencana kenaikan harga kedelai lagi. Parahnya, rencana kenaikan itu bisa mencapai Rp 12 ribu per kilo gram. Tentu harga kulakan itu sudah terlalu mahal baginya. Sebab, paling mahal dia pernah membeli hanya Rp 10 ribu per kilogram.

Meski mengeluh harga kedelai mahal, dia bersama produsen tempe lainnya tidak memilih untuk mogok produksi. Sebab hal itu justru akan membuatnya bingung bagaimana cara menafkahi anak dan istrinya. ”Lebih baik mengecilkan ukuran (tempe) saja. Lebih pas. Kasihan juga masyarakat kalau harga naik,” tegas Heri.

Kini, rumah produksi tempe milik Heri seluas 6 meter x 2 meter itu terlihat sangat minim kedelai. Enam rak panjang yang biasanya dia pakai membuat tempe, tak semuanya dipakai. Dia hanya menggunakan empat rak saja demi menjaga agar usahanya tetap berproduksi. Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Kadiskopindag) Kota Malang Muhamad Sailendra menyebut mengecilnya ukuran tempe-tahu masih bisa ditoleransi.

Bahkan dia memprediksi dua bulan ke depan stok tempe dan tahu masih aman. Sebab, mayoritas produsen tempe, khususnya di Sanan, masih terus memproduksi. ”Saya belum mendengar ada rencana untuk mogok produk di Kota Malang. Kalau soal naiknya harga, kedelai di Kota Malang ini 90 persen impor dari Amerika. Jadi kendalanya di situ,” beber Sailendra.

Meski demikian, diskopindag bakal melakukan komunikasi dengan Kementerian Perdagangan terkait stabilisasi harga kedelai. Sebab naiknya harga kedelai yang diklaim karena harga di luar negeri juga perlu ada solusi. Apalagi permintaan masyarakat Kota Malang terhadap tempe terbilang tinggi.

Pihaknya juga telah meninjau sejumlah produsen di Kampung Tempe Sanan kemarin pagi (25/2). Hasilnya memang tak ada pemogokan produksi, hanya ada pengurangan jumlah produksi. ”Mereka (pedagang) punya inisiatif sendiri. Tinggal kami mau teruskan ke pusat saja terkait ini,” terang mantan Sekretaris KPU Kota Malang itu. (adn/rb-1/fin/fat)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/