alexametrics
25.1 C
Malang
Monday, 16 May 2022

Di Kota Malang Acara Kondangan Jadi Klaster Baru. Waspada Lurr!

MALANG KOTA – Ini bisa jadi peringatan bagi masyarakat yang hendak melakukan hajatan seperti kondangan dan tahlilan. Yakni agar benar-benar memperhatikan protokol kesehatan. Jika tidak, makan berpotensi menjadi masalah baru. Sebab dua acara itu telah menjadi klaster baru penularan Covid-19 di Kota Malang. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang mencatat ada 50 penambahan kasus positif Covid-19 pada pagi kemarin (26/1) akibat dua klaster tersebut.

Tracing atau pelacakan dari dinkes tersebut dilakukan pada Selasa lalu (25/1) dengan mencari kontak erat 15 pasien positif Covid-19 sebelumnya. Penambahan tersebut tentu menjadi perhatian dinkes karena klaster penularan semakin menyebar. “Jadi selain keluarga dan pelaku perjalanan, dua klaster ini bisa jadi ancaman lagi. Mereka (50 pasien) tengah menjalani isoman (isolasi mandiri),” beber Kepala Dinkes Kota Malang dr Husnul Muarif kemarin.

Dari penambahan kasus tersebut, dinkes masih mempunyai pekerjaan rumah (PR) men-tracing 750 orang yang kontak erat dengan 50 pasien tersebut. Dinkes mengkhawatirkan jika sebagian dari 750 orang itu juga terpapar Covid-19. Untuk memudahkan tracing, Husnul mengerahkan tim satgas dari 16 puskesmas yang ada di Kota Malang.

 

Mantan Direktur RSUD Kota Malang itu juga mempercepat persiapan Sanggar Kegiatan Bersama (SKB) menjadi isolasi terpusat (isoter). Isoter dengan kapasitas 50 tempat tidur ditarget selesai pekan ini. “Jadi kalau selesai bisa digunakan pekan depan dengan pasien yang bergejala ringan,” papar Husnul.

Meningkatnya kasus positif Covid-19 harian juga disorot Ketua Satgas Covid-19  Kota Malang sekaligus Wali Kota Malang Sutiaji. Bertambahnya kasus pasien positif Covid-19 seharusnya bisa jadi bahan refleksi masyarakat. Khususnya dalam menguatkan protokol kesehatan. “Sebenarnya kenaikan ini juga kesuksesan  hasil testing dan tracing. Naik (kasus positif) tak masalah jika treatment-nya tepat,” tegasnya.

Terkait 750 orang yang kontak erat dengan 50 pasien positif Covid-19, Sutiaji berharap dinkes bisa memaksimalkan pelacakan 1:15. Artinya, satu pasien Covid-19 harus dilacak 15 orang kontak erat. Begitu pula dengan kegiatan masyarakat yang mengumpulkan massa dalam jumlah banyak. Dia tak ingin masyarakat abai dengan prokes sebab angka kesadaran prokes masyarakat menurun dari 92,7 persen menjadi 92,4 persen. (adn/abm)

MALANG KOTA – Ini bisa jadi peringatan bagi masyarakat yang hendak melakukan hajatan seperti kondangan dan tahlilan. Yakni agar benar-benar memperhatikan protokol kesehatan. Jika tidak, makan berpotensi menjadi masalah baru. Sebab dua acara itu telah menjadi klaster baru penularan Covid-19 di Kota Malang. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang mencatat ada 50 penambahan kasus positif Covid-19 pada pagi kemarin (26/1) akibat dua klaster tersebut.

Tracing atau pelacakan dari dinkes tersebut dilakukan pada Selasa lalu (25/1) dengan mencari kontak erat 15 pasien positif Covid-19 sebelumnya. Penambahan tersebut tentu menjadi perhatian dinkes karena klaster penularan semakin menyebar. “Jadi selain keluarga dan pelaku perjalanan, dua klaster ini bisa jadi ancaman lagi. Mereka (50 pasien) tengah menjalani isoman (isolasi mandiri),” beber Kepala Dinkes Kota Malang dr Husnul Muarif kemarin.

Dari penambahan kasus tersebut, dinkes masih mempunyai pekerjaan rumah (PR) men-tracing 750 orang yang kontak erat dengan 50 pasien tersebut. Dinkes mengkhawatirkan jika sebagian dari 750 orang itu juga terpapar Covid-19. Untuk memudahkan tracing, Husnul mengerahkan tim satgas dari 16 puskesmas yang ada di Kota Malang.

 

Mantan Direktur RSUD Kota Malang itu juga mempercepat persiapan Sanggar Kegiatan Bersama (SKB) menjadi isolasi terpusat (isoter). Isoter dengan kapasitas 50 tempat tidur ditarget selesai pekan ini. “Jadi kalau selesai bisa digunakan pekan depan dengan pasien yang bergejala ringan,” papar Husnul.

Meningkatnya kasus positif Covid-19 harian juga disorot Ketua Satgas Covid-19  Kota Malang sekaligus Wali Kota Malang Sutiaji. Bertambahnya kasus pasien positif Covid-19 seharusnya bisa jadi bahan refleksi masyarakat. Khususnya dalam menguatkan protokol kesehatan. “Sebenarnya kenaikan ini juga kesuksesan  hasil testing dan tracing. Naik (kasus positif) tak masalah jika treatment-nya tepat,” tegasnya.

Terkait 750 orang yang kontak erat dengan 50 pasien positif Covid-19, Sutiaji berharap dinkes bisa memaksimalkan pelacakan 1:15. Artinya, satu pasien Covid-19 harus dilacak 15 orang kontak erat. Begitu pula dengan kegiatan masyarakat yang mengumpulkan massa dalam jumlah banyak. Dia tak ingin masyarakat abai dengan prokes sebab angka kesadaran prokes masyarakat menurun dari 92,7 persen menjadi 92,4 persen. (adn/abm)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/