alexametrics
20.9 C
Malang
Wednesday, 17 August 2022

Qaryah Thayyibah, Program UIN Mengabdi 2020 (5)

Bersih-Bersih Kali Metro, Inisiasi Kampung Sehat Joyosuko

SEJAK mewabahnya Covid-19, banyak kalangan masyarakat yang merasakan dampaknya, termasuk warga RW 12 Joyosuko, Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru. Tercatat terdapat 43 KK yang mengalami penurunan penghasilan atau bahkan dirumahkan. Meskipun demikian, wilayah RW 12 ini memiliki potensi alam yang cukup besar, yaitu Kali Metro.
***

Sudah sejak lama Kali Metro ini tidak pernah sepi pengunjung, menjadi tempat favorit untuk menghabiskan waktu sehari-hari. Sebagian besar dari mereka merupakan masyarakat lokal Joyosuko yang memanfaatkan Kali Metro untuk mandi, mencuci baju, mencuci sepeda motor, berenang, bermain layang-layang, bersepeda, berfoto, atau hanya sekadar duduk-duduk menikmati pemandangan. Meskipun demikian, di balik paras Kali Metro yang masih cantik alami, terdapat banyak sampah yang merusak keelokannya. Memang benar, sampah tidak pernah terpisahkan dari sungai-sungai yang ada di Indonesia, termasuk Kali Metro.

Selain berasal dari para pengunjung yang kurang peduli terhadap kebersihan lingkungan Kali Metro, sampah-sampah yang ada juga merupakan kiriman dari hulu Kali Metro. Sampah plastik, popok sekali pakai, baju-baju bekas, dan bahkan bantal bekas juga sering ditemukan di aliran Kali Metro.

Melihat fenomena tersebut, tim pengabdi UIN Malang yang beranggotakan Sri Harini, Turmudi, dan Muhammad Imam Faqihuddin menginisiasi dan mengajak masyarakat setempat bekerja sama dengan tokoh masyarakat, lembaga pemberdayaan masyarakat kelurahan (LPMK), dan tokoh agama. Mereka membentuk Kampung Sehat yang berpusat di area sekitar Kali Metro sebagai salah satu program pemberdayaan masyarakat berkelanjutan berbasis poten­si alam dan kearifan lokal.

Pada program Kampung Sehat ini, masyarakat lokal sendiri yang menginisiasi. “Program ini mempunyai konsep pelestarian cagar budaya patirtan, pengembangan pertanian organik (urban farming), pembuatan tandon air dari sumber, dan rencana pembuatan pembangkit listrik tenaga mikrohidro yang bersumber dari Kali Metro,” terang Sri Harini.

Setiap akhir pekan, tim pengabdi bersama-sama dengan masyarakat lokal bergotong royong membersihkan sampah-sampah yang ada di sekitar dan di aliran Kali Metro. “Warga juga diajak melakukan workshop bagaimana membuat dan mengembangkan sayuran organik yang dapat dipanen dan dijual sebagai penghasilan tambahan bagi mereka,” tambah Turmudi.

Selain itu, dalam jangka panjang, area sekitar aliran Kali Metro yang cukup deras juga dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik tenaga mikrohidro yang dapat memenuhi kebutuhan listrik secara mandiri di area sekitar kali. Tak hanya itu, ke depan juga bisa dijadikan sebagai pusat atraksi budaya lokal, yaitu bantengan yang banyak diperankan oleh pemuda-pemuda lokal, sehingga secara otomatis juga memberikan dampak positif terhadap perekonomian warga setempat.

Pewarta: Mustika Cristianingsih

SEJAK mewabahnya Covid-19, banyak kalangan masyarakat yang merasakan dampaknya, termasuk warga RW 12 Joyosuko, Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru. Tercatat terdapat 43 KK yang mengalami penurunan penghasilan atau bahkan dirumahkan. Meskipun demikian, wilayah RW 12 ini memiliki potensi alam yang cukup besar, yaitu Kali Metro.
***

Sudah sejak lama Kali Metro ini tidak pernah sepi pengunjung, menjadi tempat favorit untuk menghabiskan waktu sehari-hari. Sebagian besar dari mereka merupakan masyarakat lokal Joyosuko yang memanfaatkan Kali Metro untuk mandi, mencuci baju, mencuci sepeda motor, berenang, bermain layang-layang, bersepeda, berfoto, atau hanya sekadar duduk-duduk menikmati pemandangan. Meskipun demikian, di balik paras Kali Metro yang masih cantik alami, terdapat banyak sampah yang merusak keelokannya. Memang benar, sampah tidak pernah terpisahkan dari sungai-sungai yang ada di Indonesia, termasuk Kali Metro.

Selain berasal dari para pengunjung yang kurang peduli terhadap kebersihan lingkungan Kali Metro, sampah-sampah yang ada juga merupakan kiriman dari hulu Kali Metro. Sampah plastik, popok sekali pakai, baju-baju bekas, dan bahkan bantal bekas juga sering ditemukan di aliran Kali Metro.

Melihat fenomena tersebut, tim pengabdi UIN Malang yang beranggotakan Sri Harini, Turmudi, dan Muhammad Imam Faqihuddin menginisiasi dan mengajak masyarakat setempat bekerja sama dengan tokoh masyarakat, lembaga pemberdayaan masyarakat kelurahan (LPMK), dan tokoh agama. Mereka membentuk Kampung Sehat yang berpusat di area sekitar Kali Metro sebagai salah satu program pemberdayaan masyarakat berkelanjutan berbasis poten­si alam dan kearifan lokal.

Pada program Kampung Sehat ini, masyarakat lokal sendiri yang menginisiasi. “Program ini mempunyai konsep pelestarian cagar budaya patirtan, pengembangan pertanian organik (urban farming), pembuatan tandon air dari sumber, dan rencana pembuatan pembangkit listrik tenaga mikrohidro yang bersumber dari Kali Metro,” terang Sri Harini.

Setiap akhir pekan, tim pengabdi bersama-sama dengan masyarakat lokal bergotong royong membersihkan sampah-sampah yang ada di sekitar dan di aliran Kali Metro. “Warga juga diajak melakukan workshop bagaimana membuat dan mengembangkan sayuran organik yang dapat dipanen dan dijual sebagai penghasilan tambahan bagi mereka,” tambah Turmudi.

Selain itu, dalam jangka panjang, area sekitar aliran Kali Metro yang cukup deras juga dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik tenaga mikrohidro yang dapat memenuhi kebutuhan listrik secara mandiri di area sekitar kali. Tak hanya itu, ke depan juga bisa dijadikan sebagai pusat atraksi budaya lokal, yaitu bantengan yang banyak diperankan oleh pemuda-pemuda lokal, sehingga secara otomatis juga memberikan dampak positif terhadap perekonomian warga setempat.

Pewarta: Mustika Cristianingsih

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/