24.7 C
Malang
Tuesday, 6 December 2022

Tiga WBP Asuh Anak di Dalam Lapas

MALANG KOTA – Kasus pembunuhan yang melibatkan mantan perwira tinggi Polri Irjen Pol Ferdy Sambo dan istrinya, Putri Candrawati, menguak sisi lain ketimpangan hukum di Indonesia. Meski Putri telah ditetapkan menjadi tersangka, dia tidak ditahan dengan alasan memiliki anak balita. Hal itu kontras dengan apa yang dialami tiga warga binaan pemasyarakatan (WBP) di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Malang. 

Ya, hingga kini ada tiga perempuan yang mengasuh balitanya di dalam lapas tersebut. Bahkan, dua di antaranya terpaksa harus melahirkan di dalam tahanan.

Seperti yang dialami Kiki (bukan nama sebenarnya), yang terpaksa harus melahirkan saat menjalani hukum di dalam tahanan. Kiki terjerat kasus penipuan. Dia ditahan saat mengandung usia tujuh bulan. Akibat kesehatan Kiki yang tidak stabil, bayinya terpaksa lahir prematur di usia kandungan 8 bulan. 

”Waktu itu bayi saya lahir dengan berat 1,9 kilogram saja,” ujarnya. Kiki hanya menjalani perawatan di rumah sakit selama tiga hari. Setelah itu dia kembali ke lapas. Hingga saat ini, bayi Kiki masih menjalani perawatan intensif di dalam lapas. ”Jadi sampai sekarang masih di poli terus,” imbuhnya. 

Kiki menjelaskan, bayinya yang saat ini hampir berusia dua tahun itu memiliki berat badan 3 kilogram lebih. Namun hingga kini bayinya itu belum boleh disentuh sembarang orang. Kisah serupa dialami oleh Agustina. Bayi yang Dia lahirkan di Lapas Porong 2020 lalu itu kini telah beranjak besar. “Usianya sudah 19 bulan. Hampir 2 tahun,” ucapan. Agustina terjerat kasus narkoba. Dia menjalani proses hukum saat mengandung satu bulan. Cerita Agustina lumayan tragis, tidak lama setelah tertangkap polisi, pandemi datang. Sehingga saat dirinya melahirkan pun tidak ada keluarga yang mendampingi. 

Sri, satu WBP lain yang juga mengasuh bayinya, mengaku sempat menjadi tahanan kota atas kasus penipuan. Namun saat usia anaknya sudah menginjak 8 bulan, dia menyerahkan diri untuk menjalani hukuman. ”Saat itu pikiran saya biar segera selesai permasalahannya,” ujarnya. 

Kini dia membesarkan putra bungsunya itu dalam tahanan. Tidak mudah bagi Sri untuk beradaptasi dengan tempat baru. Terlebih untuk putra kecilnya itu. Namun, dia bersyukur karena beberapa kebutuhan untuk putranya mendapat bantuan dari pihak lapas. (dre/fat)

MALANG KOTA – Kasus pembunuhan yang melibatkan mantan perwira tinggi Polri Irjen Pol Ferdy Sambo dan istrinya, Putri Candrawati, menguak sisi lain ketimpangan hukum di Indonesia. Meski Putri telah ditetapkan menjadi tersangka, dia tidak ditahan dengan alasan memiliki anak balita. Hal itu kontras dengan apa yang dialami tiga warga binaan pemasyarakatan (WBP) di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Malang. 

Ya, hingga kini ada tiga perempuan yang mengasuh balitanya di dalam lapas tersebut. Bahkan, dua di antaranya terpaksa harus melahirkan di dalam tahanan.

Seperti yang dialami Kiki (bukan nama sebenarnya), yang terpaksa harus melahirkan saat menjalani hukum di dalam tahanan. Kiki terjerat kasus penipuan. Dia ditahan saat mengandung usia tujuh bulan. Akibat kesehatan Kiki yang tidak stabil, bayinya terpaksa lahir prematur di usia kandungan 8 bulan. 

”Waktu itu bayi saya lahir dengan berat 1,9 kilogram saja,” ujarnya. Kiki hanya menjalani perawatan di rumah sakit selama tiga hari. Setelah itu dia kembali ke lapas. Hingga saat ini, bayi Kiki masih menjalani perawatan intensif di dalam lapas. ”Jadi sampai sekarang masih di poli terus,” imbuhnya. 

Kiki menjelaskan, bayinya yang saat ini hampir berusia dua tahun itu memiliki berat badan 3 kilogram lebih. Namun hingga kini bayinya itu belum boleh disentuh sembarang orang. Kisah serupa dialami oleh Agustina. Bayi yang Dia lahirkan di Lapas Porong 2020 lalu itu kini telah beranjak besar. “Usianya sudah 19 bulan. Hampir 2 tahun,” ucapan. Agustina terjerat kasus narkoba. Dia menjalani proses hukum saat mengandung satu bulan. Cerita Agustina lumayan tragis, tidak lama setelah tertangkap polisi, pandemi datang. Sehingga saat dirinya melahirkan pun tidak ada keluarga yang mendampingi. 

Sri, satu WBP lain yang juga mengasuh bayinya, mengaku sempat menjadi tahanan kota atas kasus penipuan. Namun saat usia anaknya sudah menginjak 8 bulan, dia menyerahkan diri untuk menjalani hukuman. ”Saat itu pikiran saya biar segera selesai permasalahannya,” ujarnya. 

Kini dia membesarkan putra bungsunya itu dalam tahanan. Tidak mudah bagi Sri untuk beradaptasi dengan tempat baru. Terlebih untuk putra kecilnya itu. Namun, dia bersyukur karena beberapa kebutuhan untuk putranya mendapat bantuan dari pihak lapas. (dre/fat)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/