alexametrics
20.5 C
Malang
Tuesday, 24 May 2022

Anak-Anak ”Spesial” yang Dianugerahi Bakat Melukis (2-Habis)

Kisah Mendalam dari Pelukis Abstrak Pengidap Memori Pendek

Karya-karya Athaya Putri Nirwasira lebih banyak berupa goresan warna tak beraturan. Abstrak, namun bisa bikin merinding ketika dibumbui histori dari goresan-goresan itu. Lewat melukis, bocah yang pernah divonis mengidap memori pendek itu juga bisa mengingat penggalan masa kecilnya.

CARA melukis Athaya memang tergolong tak biasa. Awalnya menggunakan jari-jari tangan, dilanjutkan dengan sikat gigi, kadang juga dengan sumpit. Prosesnya tidak pernah berlangsung lama. Hanya sekitar 7-15 menit. Namun Athaya selalu melengkapi lukisannya dengan penuturan cerita yang kadang tak terduga.

”Setelah lukisannya jadi, dia akan bercerita kepada saya tentang sesuatu di balik lukisannya itu,” ucap Maisah, ibunda Athaya, saat ditemui di kediamannya, Jalan Setaman, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang.

Setiap kali Athaya melukis, Maisah memang selalu menemani dan menyiapkan berbagai peralatan. Itu karena sang buah hati mengidap attention deficit hyperactivity disorder. Sulit memusatkan perhatian serta cenderung menunjukkan perilaku hiperaktif dan impulsif.

Peralatan yang harus disiapkan antara lain, kanvas, cat aneka warna yang dituangkan di wadah-wadah kecil, sikat gigi, sumpit, atau pun sendok. Setelah semua siap, gadis yang kini duduk di bangku kelas 9 SMK 2 Kota Malang itu biasanya langsung menuangkan beberapa gumpal cat ke atas kanvas.

Lalu, dengan tangan yang agak bergetar karena sulit diseimbangkan, Athaya mulai membuat goresan-goresan menggunakan tangan kosong. Jari-jarinya pun berlumuran warna. Setelah itu, sebagian bentuk lainnya dia gambar menggunakan sikat gigi dan sumpit.

”Setiap melukis, suasana hati Athaya selalu bagus. Apalagi ditemani tanaman gantung dan pohon-pohon kecil di teras rumah kami. Juga lagu K-Pop yang menjadi favoritnya,” terang Maisah.

Salah satu karya gadis kelahiran 6 Juni 2005 itu tampak seperti tumpukan kotak persegi panjang dengan berbagai warna. Ukuran kotak dalam lukisan itu berbeda-beda. Ada yang kecil, sedang, dan besar. Saat ditanya gambar apa yang telah dia buat, Athaya menyebutnya sebagai lukisan keluarga. Terdiri atas dirinya, kakaknya, ibunya, bapaknya, kakeknya, dan beberapa anggota keluarga yang lain.

Hebatnya, dia tak pernah lupa terhadap sosok dalam bentuk abstrak yang dia buat. Karena itu, Athaya bisa berkali-kali dan secara detail menerangkan posisi orang-orang yang diwakili bentuk persegi panjang dalam lukisannya itu. Maisah bahkan merasa merinding tatkala putrinya itu menyebut lukisannya sebagai gambaran keluarga sakinah, mawaddah, warahmah.

Untuk anak normal, mungkin hal itu bukan sebuah hal besar. Namun untuk Athaya, hal itu adalah sebuah perkataan yang tak pernah dibayangkan oleh ibunya. ”Saya heran. Padahal untuk memikirkan satu tambah satu saja dia kesulitan. Tapi dia bisa mengerti soal seperti itu,” kata Maisah.

Di luar dugaan, melukis seakan bisa menghidupkan kembali daya ingat remaja yang juga divonis mengidap memori pendek itu. Beberapa lukisannya adalah cerita yang dia alami semasa kecil. Lebih tepatnya ketika masa TK dan SD. Contohnya lukisan abstrak yang menurut Athaya adalah sebuah burung kecil dan sarangnya.

Lukisan itu membawa cerita ketika Athaya kecil pulang sekolah dan melihat anak burung beserta sarangnya tergeletak di jalan. Kala itu dia mengajak ibunya untuk menyelamatkan burung tersebut. Sayang, anak burung itu sudah lemas tak bernyawa. ”Kejadian itu sudah lama sekali, namun Athaya bisa mengingatnya lewat lukisan,” papar Maisah.

Masih ada belasan lukisan lain yang latar belakangnya bisa membuat jiwa seorang bergetar takjub. Bila dirasakan, goresan tinta abstrak yang dibuat oleh Athaya seperti mempunyai nyawa tersendiri. Mungkin karena muncul dari sebuah ketulusan dari seorang anak ”spesial”.
Selain menekuni dunia seni lukis, Maisah mengatakan bahwa putri bungsunya itu punya banyak prestasi di dunia modeling. Itu dibuktikan dengan puluhan piala yang tertata rapi di ruang keluarga. Semua prestasi itu diraih Athaya semasa masih anak-anak.

Namun sang ibu menyadari bahwa putrinya memiliki kekurangan yang membuatnya sulit menekuni dunia modeling hingga dewasa. ”Kadang menyeimbangkan kaki kanan dan kaki kiri saja masih kesulitan,” kata Maisah.

Atas pertimbangan itu, Maisah dengan telaten menggali bakat dan kelebihan lain yang mungkin dimiliki Athaya. Ia juga sadar tidak akan bisa selamanya mendampingi putrinya itu. Suatu saat, Athaya harus bisa hidup mandiri dengan kemampuan yang dimiliki.

Saat ini, lukisan Athaya memang sudah banyak mendapat apresiasi dari berbagai kalangan. Namun itu belum bisa membuat Maisah tenang. Ia sedang berusaha membuat karya-karya anaknya punya nilai lebih. Salah satunya dengan mengaplikasikan lukisan Athaya ke atas kain. ”Agar karya itu tidak sebatas menjadi pajangan saja. Tapi bisa diwujudkan dalam bentuk pakaian atau hal-hal lain,” ujarnya.

Dia sangat yakin semua lukisan anaknya punya nilai yang berbeda. Punya makna tersendiri di setiap goresannya. Dengan upaya mengaplikasikan lukisan Athaya di atas kain dan pakaian, dia berharap seluruh dunia tahu bahwa anak berkebutuhan khusus (ABK) juga punya kelebihan yang tak kalah dengan orang normal. Cara itu bisa meningkatkan kepercayaan diri anak-anak berkebutuhan khusus lain di seluruh daerah.

Namun untuk sampai pada titik itu, Maisah masih menunggu bantuan dari berbagai pihak. Utamanya dalam hal pendanaan. ”Semoga ke depan bisa terwujud agar bisa menjadi sebuah motivasi untuk ABK yang lain,” pungkasnya. (fik/fat/rmc)

Karya-karya Athaya Putri Nirwasira lebih banyak berupa goresan warna tak beraturan. Abstrak, namun bisa bikin merinding ketika dibumbui histori dari goresan-goresan itu. Lewat melukis, bocah yang pernah divonis mengidap memori pendek itu juga bisa mengingat penggalan masa kecilnya.

CARA melukis Athaya memang tergolong tak biasa. Awalnya menggunakan jari-jari tangan, dilanjutkan dengan sikat gigi, kadang juga dengan sumpit. Prosesnya tidak pernah berlangsung lama. Hanya sekitar 7-15 menit. Namun Athaya selalu melengkapi lukisannya dengan penuturan cerita yang kadang tak terduga.

”Setelah lukisannya jadi, dia akan bercerita kepada saya tentang sesuatu di balik lukisannya itu,” ucap Maisah, ibunda Athaya, saat ditemui di kediamannya, Jalan Setaman, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang.

Setiap kali Athaya melukis, Maisah memang selalu menemani dan menyiapkan berbagai peralatan. Itu karena sang buah hati mengidap attention deficit hyperactivity disorder. Sulit memusatkan perhatian serta cenderung menunjukkan perilaku hiperaktif dan impulsif.

Peralatan yang harus disiapkan antara lain, kanvas, cat aneka warna yang dituangkan di wadah-wadah kecil, sikat gigi, sumpit, atau pun sendok. Setelah semua siap, gadis yang kini duduk di bangku kelas 9 SMK 2 Kota Malang itu biasanya langsung menuangkan beberapa gumpal cat ke atas kanvas.

Lalu, dengan tangan yang agak bergetar karena sulit diseimbangkan, Athaya mulai membuat goresan-goresan menggunakan tangan kosong. Jari-jarinya pun berlumuran warna. Setelah itu, sebagian bentuk lainnya dia gambar menggunakan sikat gigi dan sumpit.

”Setiap melukis, suasana hati Athaya selalu bagus. Apalagi ditemani tanaman gantung dan pohon-pohon kecil di teras rumah kami. Juga lagu K-Pop yang menjadi favoritnya,” terang Maisah.

Salah satu karya gadis kelahiran 6 Juni 2005 itu tampak seperti tumpukan kotak persegi panjang dengan berbagai warna. Ukuran kotak dalam lukisan itu berbeda-beda. Ada yang kecil, sedang, dan besar. Saat ditanya gambar apa yang telah dia buat, Athaya menyebutnya sebagai lukisan keluarga. Terdiri atas dirinya, kakaknya, ibunya, bapaknya, kakeknya, dan beberapa anggota keluarga yang lain.

Hebatnya, dia tak pernah lupa terhadap sosok dalam bentuk abstrak yang dia buat. Karena itu, Athaya bisa berkali-kali dan secara detail menerangkan posisi orang-orang yang diwakili bentuk persegi panjang dalam lukisannya itu. Maisah bahkan merasa merinding tatkala putrinya itu menyebut lukisannya sebagai gambaran keluarga sakinah, mawaddah, warahmah.

Untuk anak normal, mungkin hal itu bukan sebuah hal besar. Namun untuk Athaya, hal itu adalah sebuah perkataan yang tak pernah dibayangkan oleh ibunya. ”Saya heran. Padahal untuk memikirkan satu tambah satu saja dia kesulitan. Tapi dia bisa mengerti soal seperti itu,” kata Maisah.

Di luar dugaan, melukis seakan bisa menghidupkan kembali daya ingat remaja yang juga divonis mengidap memori pendek itu. Beberapa lukisannya adalah cerita yang dia alami semasa kecil. Lebih tepatnya ketika masa TK dan SD. Contohnya lukisan abstrak yang menurut Athaya adalah sebuah burung kecil dan sarangnya.

Lukisan itu membawa cerita ketika Athaya kecil pulang sekolah dan melihat anak burung beserta sarangnya tergeletak di jalan. Kala itu dia mengajak ibunya untuk menyelamatkan burung tersebut. Sayang, anak burung itu sudah lemas tak bernyawa. ”Kejadian itu sudah lama sekali, namun Athaya bisa mengingatnya lewat lukisan,” papar Maisah.

Masih ada belasan lukisan lain yang latar belakangnya bisa membuat jiwa seorang bergetar takjub. Bila dirasakan, goresan tinta abstrak yang dibuat oleh Athaya seperti mempunyai nyawa tersendiri. Mungkin karena muncul dari sebuah ketulusan dari seorang anak ”spesial”.
Selain menekuni dunia seni lukis, Maisah mengatakan bahwa putri bungsunya itu punya banyak prestasi di dunia modeling. Itu dibuktikan dengan puluhan piala yang tertata rapi di ruang keluarga. Semua prestasi itu diraih Athaya semasa masih anak-anak.

Namun sang ibu menyadari bahwa putrinya memiliki kekurangan yang membuatnya sulit menekuni dunia modeling hingga dewasa. ”Kadang menyeimbangkan kaki kanan dan kaki kiri saja masih kesulitan,” kata Maisah.

Atas pertimbangan itu, Maisah dengan telaten menggali bakat dan kelebihan lain yang mungkin dimiliki Athaya. Ia juga sadar tidak akan bisa selamanya mendampingi putrinya itu. Suatu saat, Athaya harus bisa hidup mandiri dengan kemampuan yang dimiliki.

Saat ini, lukisan Athaya memang sudah banyak mendapat apresiasi dari berbagai kalangan. Namun itu belum bisa membuat Maisah tenang. Ia sedang berusaha membuat karya-karya anaknya punya nilai lebih. Salah satunya dengan mengaplikasikan lukisan Athaya ke atas kain. ”Agar karya itu tidak sebatas menjadi pajangan saja. Tapi bisa diwujudkan dalam bentuk pakaian atau hal-hal lain,” ujarnya.

Dia sangat yakin semua lukisan anaknya punya nilai yang berbeda. Punya makna tersendiri di setiap goresannya. Dengan upaya mengaplikasikan lukisan Athaya di atas kain dan pakaian, dia berharap seluruh dunia tahu bahwa anak berkebutuhan khusus (ABK) juga punya kelebihan yang tak kalah dengan orang normal. Cara itu bisa meningkatkan kepercayaan diri anak-anak berkebutuhan khusus lain di seluruh daerah.

Namun untuk sampai pada titik itu, Maisah masih menunggu bantuan dari berbagai pihak. Utamanya dalam hal pendanaan. ”Semoga ke depan bisa terwujud agar bisa menjadi sebuah motivasi untuk ABK yang lain,” pungkasnya. (fik/fat/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/