alexametrics
26.5 C
Malang
Friday, 27 May 2022

Kampung Topeng Malang Tetap Berbenah Meski Sepi Karena Korona

MALANG KOTA – Semangat menjadikan Wisata Kampung Topeng sebagai sentra budaya dan mendongkrak ekonomi warga masih harus tetap menyala. Meski kini kampung tematik di Kelurahan Tlogowaru, Kecamatan Kedungkandang ini merana dan sepi pengunjung, namun perbaikan dan perawatan tetap dilakukan.

Pandemi Korona yang belum usai memang membuat kampung topeng sepi pengunjung. Seperti hari Minggu kemarin (27/6), tidak ada lalu-lalang pengunjung. Di area wisata, hanya ada beberapa anak-anak warga di sekitar tampak bermain dengan teman sebayanya.

Meski begitu, upaya merenovasi fasilitas-fasilitas di kampung tematik itu tetap dilakukan. Bahkan, sudah ada penyangga tangga di spot topeng paling besar di bagian pintu masuk. Koordinator Wisata Kampung Topeng Arifin membenarkan hal tersebut. Dia mengatakan, memang rencananya dalam waktu dekat ini. ”Kalau tidak besok (hari ini), ya lusa (besok),” ujarnya.

Sebenarnya, dia membeberkan, tidak terawatnya Wisata Kampung Topeng ini belum terlalu lama. Sebab, sebelumnya meski tidak ada pengunjung, perawatannya tetap dilakukan maksimal. Sebab, itu juga untuk keindahan kampung di sana. ”Tapi semenjak petugas kebersihannya meninggal sekitar 3 bulan yang lalu, jadi tidak terawat seperti ini,” paparnya.

Arifin juga membeberkan, sebenarnya Wisata Kampung Topeng ini memang sudah sepi sejak sebelum adanya pandemi. Namun, meski sepi, masih ada segelintir wisatawan yang berkunjung. ”Baru setelah pandemi itu, tidak ada sama sekali” katanya.

Padahal, dia melanjutkan, di awal pembukaan Kampung Topeng ini, antusiasme masyarakat cukup tinggi. Hal itu dapat dilihat jumlah wisatawan yang bisa sampai 70-100 wisatawan dalam setiap harinya. ”Dan dulu itu ada harga tiket masuknya sebesar Rp 5 ribu, kalau sekarang sudah tidak diberlakukan karena memang tidak ada wisatawan lagi,” terang dia.

Salah satu warga sekitar Kampung Topeng, Aminah, mengatakan, sepinya wisata tematik ini berpengaruh pada perekonomian warga. Kebetulan, dirinya berjualan nasi dengan aneka lauk-pauk. Dulu sebelum pandemi pendapatannya cukup lumayan untuk meng-cover kebutuhan sehari-hari. ”Dulu per harinya itu bisa dapat Rp 270 ribu. Kalau sekarang ya tidak sampai segitu karena yang beli cuma warga sini dan itu pun jarang,” terang dia.

Dia berharap, direnovasinya Kampung Topeng itu setidaknya bisa kembali menarik wisatawan seperti dahulu kala. ”Jadi bisa mengangkat perekonomian kami lagi karena dulu itu sering ada tamu yang dibawa dinsos (dinas sosial),” terang dia. (rmc/ulf/c1/abm)

MALANG KOTA – Semangat menjadikan Wisata Kampung Topeng sebagai sentra budaya dan mendongkrak ekonomi warga masih harus tetap menyala. Meski kini kampung tematik di Kelurahan Tlogowaru, Kecamatan Kedungkandang ini merana dan sepi pengunjung, namun perbaikan dan perawatan tetap dilakukan.

Pandemi Korona yang belum usai memang membuat kampung topeng sepi pengunjung. Seperti hari Minggu kemarin (27/6), tidak ada lalu-lalang pengunjung. Di area wisata, hanya ada beberapa anak-anak warga di sekitar tampak bermain dengan teman sebayanya.

Meski begitu, upaya merenovasi fasilitas-fasilitas di kampung tematik itu tetap dilakukan. Bahkan, sudah ada penyangga tangga di spot topeng paling besar di bagian pintu masuk. Koordinator Wisata Kampung Topeng Arifin membenarkan hal tersebut. Dia mengatakan, memang rencananya dalam waktu dekat ini. ”Kalau tidak besok (hari ini), ya lusa (besok),” ujarnya.

Sebenarnya, dia membeberkan, tidak terawatnya Wisata Kampung Topeng ini belum terlalu lama. Sebab, sebelumnya meski tidak ada pengunjung, perawatannya tetap dilakukan maksimal. Sebab, itu juga untuk keindahan kampung di sana. ”Tapi semenjak petugas kebersihannya meninggal sekitar 3 bulan yang lalu, jadi tidak terawat seperti ini,” paparnya.

Arifin juga membeberkan, sebenarnya Wisata Kampung Topeng ini memang sudah sepi sejak sebelum adanya pandemi. Namun, meski sepi, masih ada segelintir wisatawan yang berkunjung. ”Baru setelah pandemi itu, tidak ada sama sekali” katanya.

Padahal, dia melanjutkan, di awal pembukaan Kampung Topeng ini, antusiasme masyarakat cukup tinggi. Hal itu dapat dilihat jumlah wisatawan yang bisa sampai 70-100 wisatawan dalam setiap harinya. ”Dan dulu itu ada harga tiket masuknya sebesar Rp 5 ribu, kalau sekarang sudah tidak diberlakukan karena memang tidak ada wisatawan lagi,” terang dia.

Salah satu warga sekitar Kampung Topeng, Aminah, mengatakan, sepinya wisata tematik ini berpengaruh pada perekonomian warga. Kebetulan, dirinya berjualan nasi dengan aneka lauk-pauk. Dulu sebelum pandemi pendapatannya cukup lumayan untuk meng-cover kebutuhan sehari-hari. ”Dulu per harinya itu bisa dapat Rp 270 ribu. Kalau sekarang ya tidak sampai segitu karena yang beli cuma warga sini dan itu pun jarang,” terang dia.

Dia berharap, direnovasinya Kampung Topeng itu setidaknya bisa kembali menarik wisatawan seperti dahulu kala. ”Jadi bisa mengangkat perekonomian kami lagi karena dulu itu sering ada tamu yang dibawa dinsos (dinas sosial),” terang dia. (rmc/ulf/c1/abm)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/