alexametrics
30.5 C
Malang
Sunday, 3 July 2022

Viral! Petugas Pemulasaran Covid-19 di Malang Salah Bawa Jenazah

MALANG KOTA – Viral video kisruh prosesi pemulasaran jenazah Covid-19. Berdasarkan narasi video tersebut, kekisruhan terjadi di TPU Kasin karena ada kesalahan jenazah, sehingga membuat pihak keluarga marah-marah.

Tampak dalam video berdurasi 1.56 menit tersebut, petugas Public Safety Center (PSC) yang memakai APD lengkap membawa keluar peti jenazah dari area pemakaman Kasin. Tampak pria, yang diduga salah satu keluarga pasien meninggal, berteriak-teriak marah kepada para petugas. hingga berita ini diturunkan, video tersebut telah ditonton lebih dari 15 ribu kali.

Kasubbag Humas RSSA Malang, Dony Iryan Vebri Prasetyo mengonfirmasi bahwa kejadian tersebut memang terjadi di Malang. Insiden tersebut terjadi karena ada miss komunikasi dari pihak Public Safety Center (PSC).

“Memang di setiap hari ada list pemakaman, dan pada hari itu ada sekitar delapan pasien yang masuk list pemakaman jenazah Covid-19. Nah karena jenazah nomor tiga dan lima ini di Sukun. Maka anggota PSC melakukan pemakaman dua jenazah sekaligus agar sekali jalan, biar efektif,” terang Dony.

Namun keluarga jenazah nomor empat tidak terima, karena dirasa tidak sesuai antrian. Mereka merasa, harusnya pemakaman keluarganya dilakukan sebelum jenazah nomor lima.

“List-nya kan juga saya duluan, tapi kok yang didahulukan Sukun. Namun setelah dijelaskan, pihak keluarga jenazah nomor 4 akhirnya menerima,” terang Dony.

Setelah pemakaman di Sukun selesai, PSC pun mengambil jenazah nomor empat untuk dimakamkan di Kasin. “Nah, di sini mungkin sudah panas dan capek. Maka kawan-kawan ada miss komunikasi, sehingga ada kesalahan pengambilan peti jenazah. Harusnya yang diambil adalah peti nomor empat, namun yang diangkut nomor enam,” lanjut dia.

Setelah dibawa ke Kasin, keluarga yang sudah lelah menunggu pun marah karena ternyata jenazah yang dibawa salah. “Ternyata jenazah nomor enam yang diambil dan sudah mau masuk ke dalam liang lahat. Makanya keluarga tambah marah lagi, sehingga terjadi perselisihan,” ujarnya.

Terkait hal tersebut, Dony mengatakan RSSA akan melakukan pendataan identitas jenazah lebih baik.

“Memang sebenarnya di perkara ini adalah miss komunikasi antara anggota PSC. Hingga saat ini, memang peti jenazah hanya diberi spidol untuk nomor antri sekian dan atas nama ini. Sedangkan gelang pasien hanya dipaku di peti saja. Sebab kalau ditulis di kertas takutnya malah luntur. Jadi nanti dievaluasi lagi biar identitas lebih terbaca,” pungkasnya.

Pewarta : Errica Vannie

MALANG KOTA – Viral video kisruh prosesi pemulasaran jenazah Covid-19. Berdasarkan narasi video tersebut, kekisruhan terjadi di TPU Kasin karena ada kesalahan jenazah, sehingga membuat pihak keluarga marah-marah.

Tampak dalam video berdurasi 1.56 menit tersebut, petugas Public Safety Center (PSC) yang memakai APD lengkap membawa keluar peti jenazah dari area pemakaman Kasin. Tampak pria, yang diduga salah satu keluarga pasien meninggal, berteriak-teriak marah kepada para petugas. hingga berita ini diturunkan, video tersebut telah ditonton lebih dari 15 ribu kali.

Kasubbag Humas RSSA Malang, Dony Iryan Vebri Prasetyo mengonfirmasi bahwa kejadian tersebut memang terjadi di Malang. Insiden tersebut terjadi karena ada miss komunikasi dari pihak Public Safety Center (PSC).

“Memang di setiap hari ada list pemakaman, dan pada hari itu ada sekitar delapan pasien yang masuk list pemakaman jenazah Covid-19. Nah karena jenazah nomor tiga dan lima ini di Sukun. Maka anggota PSC melakukan pemakaman dua jenazah sekaligus agar sekali jalan, biar efektif,” terang Dony.

Namun keluarga jenazah nomor empat tidak terima, karena dirasa tidak sesuai antrian. Mereka merasa, harusnya pemakaman keluarganya dilakukan sebelum jenazah nomor lima.

“List-nya kan juga saya duluan, tapi kok yang didahulukan Sukun. Namun setelah dijelaskan, pihak keluarga jenazah nomor 4 akhirnya menerima,” terang Dony.

Setelah pemakaman di Sukun selesai, PSC pun mengambil jenazah nomor empat untuk dimakamkan di Kasin. “Nah, di sini mungkin sudah panas dan capek. Maka kawan-kawan ada miss komunikasi, sehingga ada kesalahan pengambilan peti jenazah. Harusnya yang diambil adalah peti nomor empat, namun yang diangkut nomor enam,” lanjut dia.

Setelah dibawa ke Kasin, keluarga yang sudah lelah menunggu pun marah karena ternyata jenazah yang dibawa salah. “Ternyata jenazah nomor enam yang diambil dan sudah mau masuk ke dalam liang lahat. Makanya keluarga tambah marah lagi, sehingga terjadi perselisihan,” ujarnya.

Terkait hal tersebut, Dony mengatakan RSSA akan melakukan pendataan identitas jenazah lebih baik.

“Memang sebenarnya di perkara ini adalah miss komunikasi antara anggota PSC. Hingga saat ini, memang peti jenazah hanya diberi spidol untuk nomor antri sekian dan atas nama ini. Sedangkan gelang pasien hanya dipaku di peti saja. Sebab kalau ditulis di kertas takutnya malah luntur. Jadi nanti dievaluasi lagi biar identitas lebih terbaca,” pungkasnya.

Pewarta : Errica Vannie

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/