alexametrics
26.5 C
Malang
Wednesday, 18 May 2022

Kota Malang Terpacu Cable Car Batu

MALANG KOTA- Jika Kota Batu punya proyek prestisius cable Car, Kota Malang rupanya tak mau kalah. Wali Kota Sutiaji pun getol menyorongkan proyek prestisiusnya di depan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi RI Luhut Binsar Pandjaitan yang Senin lalu (26/4) datang ke Kota Batu.

Proyek itu adalah lintas rel terpadu (LRT) atau system jalur kereta api di dalam kota. Hanya saja, ada kesan proyek LRT ini hanya nafsu besar tenaga kurang. Mengapa? Karena kebutuhan dana untuk proyek ini sangat besar. Dari kabar yang sempat beredar, biayanya bisa mencapai Rp 35 triliun. Jumbonya dana inilah yang membuat proyek yang digulirkan sejak tahun 2019 ini terkesan mandek. Prediksi soal nasibnya bisa dibandingkan dengan proyek cable car di Kota Batu. Yakni butuh waktu yang lama untuk merealisasikannya.

Untuk diketahui, wacana cable car di Kota Batu sudah mencuat sejak 2012 di era Wali Kota Eddy Rumpoko, ”Mimpi” itu terus dijaga Pemkot Batu. Pasca didatangi ada kabar bila rencana itu akan mulai direalisasikan tahun 2022 mendatang.

Bila memang terjadi, artinya proyek cable car butuh waktu 10 tahun untuk bisa direalisasikan. Lamanya proses salah satunya dilatarbelakangi tingginya kebutuhan dana. Dari estimasi awal yang disampaikan PT Industri Kereta Api (INKA) Madiun Senin lalu (26/4), proyek cable car itu diprediksi bisa menelan biaya Rp 700 miliar. Kebutuhan dana sebanyak itu agaknya sulit dipenuhi pemerintah daerah. Dari sanalah rencana menggandeng investor mencuat. Hal serupa juga berlaku untuk proyek LRT di Kota Malang.

Dari estimasi awal yang pernah disusun Pemkot Malang, untuk satu kilometer LRT dibutuhkan anggaran Rp 350 miliar. Perkiraan trase untuk proyek itu juga sudah disusun Pemkot. Hasilnya, ada panjang sekitar 35 kilometer yang bisa dijadikan jalur LRT. Beranjak dari data itu, artinya dibutuhkan dana Rp 35 triliun untuk merealisasikannya. Sadar bila anggaran yang dibutuhkan sangat banyak, akhir 2019 lalu Pemkot Malang berupaya mendekati beberapa calon investor. Kabar yang berembus saat itu, ada salah satu investor asal Tiongkok yang siap menanamkan modalnya.

Singkat cerita, progres proyek itu pun akhirnya terhenti di awal tahun 2020 saat pandemi Covid-19 merebak dari Kota Wuhan, Tiongkok. Kini, setelah satu tahun lamanya meredup, wacana proyek itu kembali mencuat. Diawali dari pertemuan tiga kepala daerah dengan Menteri Luhut Senin lalu. Dalam pertemuan yang tersaji di Balai Kota Among Tani itu, Wali Kota Malang Sutiaji sempat menyinggungnya. Menteri Luhut pun sempat meresponsnya.

Purnawirawan jenderal TNI itu menyebut bila Pemkot Malang bisa menggandeng PT INKA untuk merealisasikan wacana tersebut. ”Karya anak bangsa juga bisa diandalkan. Mereka terbukti sudah berhasil mengembangkan kereta api,” kata dia saat itu. Menteri Luhut juga sempat menyarankan agar Pemkot Malang memanfaatkan banyaknya akademisi dari beberapa perguruan tinggi (PT) untuk menyiapkan proyek tersebut.

Masukan itu turut menjadi angin segar bagi Wali Kota Malang Sutiaji. Sebab, menurut dia, kendala utama realisasi proyek itu adalah kesiapan dari pihak investor. ”Dulu kan sempat ada investor asing dari Tiongkok yang mau masuk (untuk) bangun LRT di sini (Kota Malang). Tetapi biaya investasinya memang cukup mahal,” kata Sutiaji kepada Jawa Pos Radar Malang kemarin (28/4). Kini, setelah tahu bila pihaknya bisa menggandeng PT INKA sebagai investor, secuil harapan mulai muncul.

Meski begitu, pejabat kelahiran Kabupaten Lamongan itu mengaku masih belum bisa memprediksi kapan proyek itu bisa direalisasikan. Dia mengaku bila kini hanya bisa menunggu kabar lanjutan dari pemerintah pusat. Bila ada kabar lagi, dia optimistis proyek itu bisa direalisasikan. Bila tidak, dia terlihat pesimistis terhadap realisasinya. (rmc/adn/c1/by)

MALANG KOTA- Jika Kota Batu punya proyek prestisius cable Car, Kota Malang rupanya tak mau kalah. Wali Kota Sutiaji pun getol menyorongkan proyek prestisiusnya di depan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi RI Luhut Binsar Pandjaitan yang Senin lalu (26/4) datang ke Kota Batu.

Proyek itu adalah lintas rel terpadu (LRT) atau system jalur kereta api di dalam kota. Hanya saja, ada kesan proyek LRT ini hanya nafsu besar tenaga kurang. Mengapa? Karena kebutuhan dana untuk proyek ini sangat besar. Dari kabar yang sempat beredar, biayanya bisa mencapai Rp 35 triliun. Jumbonya dana inilah yang membuat proyek yang digulirkan sejak tahun 2019 ini terkesan mandek. Prediksi soal nasibnya bisa dibandingkan dengan proyek cable car di Kota Batu. Yakni butuh waktu yang lama untuk merealisasikannya.

Untuk diketahui, wacana cable car di Kota Batu sudah mencuat sejak 2012 di era Wali Kota Eddy Rumpoko, ”Mimpi” itu terus dijaga Pemkot Batu. Pasca didatangi ada kabar bila rencana itu akan mulai direalisasikan tahun 2022 mendatang.

Bila memang terjadi, artinya proyek cable car butuh waktu 10 tahun untuk bisa direalisasikan. Lamanya proses salah satunya dilatarbelakangi tingginya kebutuhan dana. Dari estimasi awal yang disampaikan PT Industri Kereta Api (INKA) Madiun Senin lalu (26/4), proyek cable car itu diprediksi bisa menelan biaya Rp 700 miliar. Kebutuhan dana sebanyak itu agaknya sulit dipenuhi pemerintah daerah. Dari sanalah rencana menggandeng investor mencuat. Hal serupa juga berlaku untuk proyek LRT di Kota Malang.

Dari estimasi awal yang pernah disusun Pemkot Malang, untuk satu kilometer LRT dibutuhkan anggaran Rp 350 miliar. Perkiraan trase untuk proyek itu juga sudah disusun Pemkot. Hasilnya, ada panjang sekitar 35 kilometer yang bisa dijadikan jalur LRT. Beranjak dari data itu, artinya dibutuhkan dana Rp 35 triliun untuk merealisasikannya. Sadar bila anggaran yang dibutuhkan sangat banyak, akhir 2019 lalu Pemkot Malang berupaya mendekati beberapa calon investor. Kabar yang berembus saat itu, ada salah satu investor asal Tiongkok yang siap menanamkan modalnya.

Singkat cerita, progres proyek itu pun akhirnya terhenti di awal tahun 2020 saat pandemi Covid-19 merebak dari Kota Wuhan, Tiongkok. Kini, setelah satu tahun lamanya meredup, wacana proyek itu kembali mencuat. Diawali dari pertemuan tiga kepala daerah dengan Menteri Luhut Senin lalu. Dalam pertemuan yang tersaji di Balai Kota Among Tani itu, Wali Kota Malang Sutiaji sempat menyinggungnya. Menteri Luhut pun sempat meresponsnya.

Purnawirawan jenderal TNI itu menyebut bila Pemkot Malang bisa menggandeng PT INKA untuk merealisasikan wacana tersebut. ”Karya anak bangsa juga bisa diandalkan. Mereka terbukti sudah berhasil mengembangkan kereta api,” kata dia saat itu. Menteri Luhut juga sempat menyarankan agar Pemkot Malang memanfaatkan banyaknya akademisi dari beberapa perguruan tinggi (PT) untuk menyiapkan proyek tersebut.

Masukan itu turut menjadi angin segar bagi Wali Kota Malang Sutiaji. Sebab, menurut dia, kendala utama realisasi proyek itu adalah kesiapan dari pihak investor. ”Dulu kan sempat ada investor asing dari Tiongkok yang mau masuk (untuk) bangun LRT di sini (Kota Malang). Tetapi biaya investasinya memang cukup mahal,” kata Sutiaji kepada Jawa Pos Radar Malang kemarin (28/4). Kini, setelah tahu bila pihaknya bisa menggandeng PT INKA sebagai investor, secuil harapan mulai muncul.

Meski begitu, pejabat kelahiran Kabupaten Lamongan itu mengaku masih belum bisa memprediksi kapan proyek itu bisa direalisasikan. Dia mengaku bila kini hanya bisa menunggu kabar lanjutan dari pemerintah pusat. Bila ada kabar lagi, dia optimistis proyek itu bisa direalisasikan. Bila tidak, dia terlihat pesimistis terhadap realisasinya. (rmc/adn/c1/by)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/