alexametrics
24.1 C
Malang
Tuesday, 15 June 2021

Kurangi Risiko Tertular Covid-19, RSSA Kembangkan Stetoskop Digital

MALANG KOTA – Adanya pandemi Coronavirus Disease (Covid-19) membuat banyak penelitian dialihkan ke arah virus tersebut. Salah satunya adalah Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Kota Malang yang tengah mengembangkan stetoskop digital Inoscope. Alat kesehatan (Alkes) ini dirancang untuk mengurangi potensi tertularnya tenaga kesehatan (nakes) dari Covid-19.

“Stetoskop merupakan alat diagnostik yang berperan penting bagi nakes, namun kita ketahui bahwa petugas kesehatan memiliki risiko pajanan (Peristiwa yang menimbulkan risiko penularan) dari pasien yang terinfeksi Covid-19. Karena nakes harus membuka bagian telinga hazmat ketika mendengarkan suara pasien,” tutur Ketua Tim Pengembangan dan Validasi Inoscope, Susanthy Djajalaksana saat konferensi pers melalui aplikasi Zoom, Selasa (29/9).

Tim validasi Inoscope Aditya Sri Listyoko menerangkan, perbedaan Inoscope dengan stetoskop konvensional terletak pada kemampuan stetoskop digital untuk melakukan perekaman suara denyut nadi jantung hingga napas pasien. Suara tersebut ditangkap oleh sebuah head unit yang diletakkan di alat tersebut.

“Di bawah head unitnya ada microphone yang menangkap suara. Nantinya akan diubah menjadi suara digital, yang ditangkap oleh mesin dan akan terhubung ke aplikasi di handphone. Otomatis dokter tidak perlu membuka hazmatnya,” terangnya.

Bahkan dengan adanya stetoskop digital tersebut memungkinkan dokter atau nakes melakukan proses perawatan bisa dilakukan dari rumah, tanpa harus mengunjungi rumah sakit.
“Aplikasi ini akan melakukan perekaman (suara napas dan denyut jantung), yang nantinya bisa diputar di smartphone yang lain. Jadi ada satu smartphone yang ada di ruang perawatan dan bisa didengarkan di tempat lain,” lanjut Adit.

Namun alat tersebut masih dalam tahap pengembangan dan validasi. Tahapan tersebut berkaitan dengan proses pengecekan terkait dengan tingkat akurasi suara hasil perekaman dengan suara napas dan denyut jantung yang didengarkan dari stetoskop konvensional.

“Masih kami kaji lagi bahwa stetoskop yang sudah dikembangkan apakah memiliki tingkat akurasi dan ketepatan suara dari stetoskop yang biasa. Kami akan validasi stetoskop ini terkait subjek control, subjek sehat dan subjek pasien,” tutup Adit.

Inoscope ini sendiri dibuat atas kerja sama RSSA Kota Malang dengan sebuah institut kesehatan sebagai pengembang stetoskop digital tersebut.

Pewarta: Errica Vannie

MALANG KOTA – Adanya pandemi Coronavirus Disease (Covid-19) membuat banyak penelitian dialihkan ke arah virus tersebut. Salah satunya adalah Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Kota Malang yang tengah mengembangkan stetoskop digital Inoscope. Alat kesehatan (Alkes) ini dirancang untuk mengurangi potensi tertularnya tenaga kesehatan (nakes) dari Covid-19.

“Stetoskop merupakan alat diagnostik yang berperan penting bagi nakes, namun kita ketahui bahwa petugas kesehatan memiliki risiko pajanan (Peristiwa yang menimbulkan risiko penularan) dari pasien yang terinfeksi Covid-19. Karena nakes harus membuka bagian telinga hazmat ketika mendengarkan suara pasien,” tutur Ketua Tim Pengembangan dan Validasi Inoscope, Susanthy Djajalaksana saat konferensi pers melalui aplikasi Zoom, Selasa (29/9).

Tim validasi Inoscope Aditya Sri Listyoko menerangkan, perbedaan Inoscope dengan stetoskop konvensional terletak pada kemampuan stetoskop digital untuk melakukan perekaman suara denyut nadi jantung hingga napas pasien. Suara tersebut ditangkap oleh sebuah head unit yang diletakkan di alat tersebut.

“Di bawah head unitnya ada microphone yang menangkap suara. Nantinya akan diubah menjadi suara digital, yang ditangkap oleh mesin dan akan terhubung ke aplikasi di handphone. Otomatis dokter tidak perlu membuka hazmatnya,” terangnya.

Bahkan dengan adanya stetoskop digital tersebut memungkinkan dokter atau nakes melakukan proses perawatan bisa dilakukan dari rumah, tanpa harus mengunjungi rumah sakit.
“Aplikasi ini akan melakukan perekaman (suara napas dan denyut jantung), yang nantinya bisa diputar di smartphone yang lain. Jadi ada satu smartphone yang ada di ruang perawatan dan bisa didengarkan di tempat lain,” lanjut Adit.

Namun alat tersebut masih dalam tahap pengembangan dan validasi. Tahapan tersebut berkaitan dengan proses pengecekan terkait dengan tingkat akurasi suara hasil perekaman dengan suara napas dan denyut jantung yang didengarkan dari stetoskop konvensional.

“Masih kami kaji lagi bahwa stetoskop yang sudah dikembangkan apakah memiliki tingkat akurasi dan ketepatan suara dari stetoskop yang biasa. Kami akan validasi stetoskop ini terkait subjek control, subjek sehat dan subjek pasien,” tutup Adit.

Inoscope ini sendiri dibuat atas kerja sama RSSA Kota Malang dengan sebuah institut kesehatan sebagai pengembang stetoskop digital tersebut.

Pewarta: Errica Vannie

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru